
BANJARBARU – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 Ikatan Mahasiswa Papua (IMAPA) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), seluruh mahasiswa diharap untuk menjaga tolerasi suku dan agama.
Berbagai rangkaian kegiatan dilaksanakan mahasiswa Papua, antara lain seperti lomba bulu tangkis, voli dan pembagian takjil saat sahur di kawasan Kota Banjarbaru.
Selain itu, di puncak peringatan HUT Imapa Kalsel, panitia juga menggelar buka bersama dengan mahasiswa Papua dan OKP, serta menghadirkan penceramah Ketua MPI DPD KNPI Kota Banjarbaru Dr Wahyudi Rifani MPd I.
Ketua Panitia Dies Natalis Imapa ke XII Rikardo Holombau mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan karena mahasiswa Papua juga ada yang beragama Muslim.
Ketua MPI DPD KNPI Kota Banjarbaru Dr Wahyudi Rifani MPd I dalam ceramahnya menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara majemuk yang mempunyai keragaman suku, agama, bahasa dan budaya. Keragaman yang ada di Indonesia ini, tentu dapat menjadi ancaman tersendiri jika tidak di lihat secara utuh.
“Sebaliknya, keberagaman itu justru menjadi sentiment positif jika bisa menyikapinya secara arif dan bijaksana,” ujarnya, Minggu (16/3) sore.
Menurutnya, keberagaman tersebut merupakan keunikan yang jarang di dapatkan di negara lain. Karena itu, Indonesia merupakan negara yang mempunyai kekhasan tersendiri dan menjadikannya berbeda dengan negara lainnnya.
Di Indonesia, lanjut dia, keragaman tersebut justru dapat berdampingan dalam konsep negara kesatuan Republik Indonesia, seperti masyarakat Muslim bisa berdampingan dengan yang non-muslim, masyarakat Jawa bisa berdampingan dengan masyarakat Papua, dan segala macamnya.
“Itulah toleransi antarsesama umat manusia. Dan nilai-nilai toleransi pada dasarnya sudah ada sejak dulu. Nilai-nilai toleransi pada dasarnya bersifat universal, bisa berlaku untuk siapa saja, kapan saja, dan dimana saja,” ucapnya.
Ia menyebutkan, hal tersebut sudah menjadi kearifan lokal yang melekat di seluruh masyarakat Indonesia. Bahkan anggapan ‘kita semua bersaudara’ melekat dalam setiap diri warga negara Indonesia. Semangat persaudaraan tanpa di sadari sudah melekat sejak dulu.
“Tanpa semangat persaudaraan yang di bingkai dalam cita-cita besar bersama untuk meraih kemerdekaan, mustahil masyarakat Indonesia bisa lepas dari penjajahan. Tanpa semangat persaudaraan, sulit bagi kita semua bisa hidup berdampingan dalam keberagaman,” katanya.
Ia menambahkan, dalam perkembangan kemajuan teknologi informasi yang cukup dahsyat, memilah sumber informasi menjadi hal yang sangat penting. “Jangan sampai terjebak dengan berita hoaks yang dapat menjadi ancaman kerukunan hidup berbangsa dan bernegara,” pungkasnya. rds

