Mata Banua Online
Senin, April 27, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Pengusaha Ritel Ancang-ancang Efisiensi

by Mata Banua
15 Desember 2024
in Ekonomi & Bisnis
0

TANGERANG – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Aprindo) Solihin mewanti-wanti 2025 sebagai tahun yang berat bagi pengusaha ritel.

Menurutnya, hal itu seiring dengan kenaikan upah minimum nasional (UMN) sebesar 6,5% untuk tahun 2025. Alhasil, kenaikan upah minimum provinsi (UMP) di semua daerah pun rata-rata naik sebesar angka tersebut.

Berita Lainnya

Pengusaha Daging Rugi Dampak Harga Jual Ditahan

Pengusaha Daging Rugi Dampak Harga Jual Ditahan

26 April 2026
Purbaya Usulkan Insentif Motor Listrik Rp5 Juta

Purbaya Usulkan Insentif Motor Listrik Rp5 Juta

26 April 2026

Menurut Solihin, kenaikan UMP ini belum sejalan dengan tingkat daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi global. Kendati, dia tak bisa menolak jika UMP memang naik. “Kalau ditana [tanggapan kenaikan UMP], pasti berat gitu. Tapi kalau Anda di posisi saya, apa bisa menolak UMP? Itu saja pertanyaannya,” kata Solihin.

Pria yang juga menjabat sebagai Corporate Affairs Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) itu memprediksi para pengusaha ritel bakal melakukan efisiensi tahun depan. Namun, meurutnya efisiensi itu bukan selalu berarti pemutusan hubungan kerja (PHK).

Dia mencontohkan efisiensi itu bisa saja dengan cara menutup gerai. Kendati demikian, Solihin tak memerinci nasib pekerja dari penutupan gerai yang dia maksud.

“Efisiensi itu banyak hal bukan hanya seperti itu [PHK]. Jadi bukan hanya sekadar itu. Kan tadi saya bilang toko tutup,” tutup Solihin.

Dia pun mencontohkan kesulitan yang dihadapi oleh pengusaha ritel. Dia menyebut, Alfamart telah menutup ratusan gerai tahun ini lantaran merugi. Adapun, salah satu kerugian itu terjadi karena biaya sewa yang tinggi sementera penjualan melemah.

“Saya bekerja di ritel, 300-400 toko saya tahun itu tutup. Karena apa? Ya karena ya kalau untung pasti kita buka terus,” katanya.

Solihin menuturkan, penutupan gerai merupakan keputusan yang berat. Namun, langkah itu perlu diambil karena tidak ada jalan lain. Di satu sisi, Solihin pun mengatakan, pihaknya akhirnya tetap membuka gerai di daerah lain. Dia mengeklaim pembukaan gerai baru tahun ini lebih banyak dibanding jumlah yang tutup. “Artinya, diharapkan ada yang tutup dan ada yang buka. Jadi ada substansi, misalnya saling menopang gitu ya,” katanya. bisn/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper