
JAKARTA – Asosiasi Pengemudi Ojek Daring Garda Indonesia menolak wacana pemerintah yang bakal melarang ojek online (ojol) mengonsumsi BBM bersubsidi. Hal ini pun disebut dapat memicu gelombang aksi dari para mitra pengemudi atau driver.
Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek DaringGarda Indonesia Igun Wicaksono mengatakan, tak bisa menerima pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang mengatakan ojol tak akan masuk kriteria penerima subsidi BBM lantaran tak berpelat kuning.
“Jika sampai ojol tidak dapat menerima atau mengisi BBM bersubsidi nanti maka pastinya akan terjadi gelombang aksi unjuk rasa besar-besaran di seluruh Indonesia untuk memprotes keputusan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ini,” kata Igun Kamis.
Igun menilai hal ini bak ironi. Sebab, pihaknya berharap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini dapat menyejahterakan ojol.
Namun, kata Igun, nyatanya pernyataan Bahlil ini membuat ojol meradang dan siap menurunkan massa dalam jumlah besar. Igun menjelaskan penghasilan tidak seberapa, bahkan sudah menjadi sapi perah dari perusahaan aplikasi, tapi akan diperas lagi oleh pemerintah.
“Di mana hati nurani Menteri ESDM Bahlil kepada rakyat kecil yang berprofesi sebagai ojol,” kata Igun.
Igun mengingatkan Bahlil harus melihat kondisi di lapangan. Menurutnya, jangankan untuk membeli BBM nonsubsidi, terkadang untuk mengisi bensin subsidi saja ojol ini harus menukar dengan rasa lapar di jalanan agar sepeda motornya tetap bisa beroperasi.
Dia pun mendesak Bahlil agar membatalkan rencana mencabut subsidi BBM bagi pengemudi ojol atau akan berhadapan dengan gelombang aksi massa ojol di seluruh Indonesia. “Mohon Presiden Prabowo juga dapat perhatikan hal yang disampaikan Bahlil ini,” kata Igun.
Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) menentang rencana larangan penggunaan BBM bersubsidi bagi ojol.Pasalnya, hal ini akan berdampak luas pada kenaikan harga barang-barang di pasar dan akan memberatkan warga secara umum.
Ketua SPAI Lily Pujiati mengatakan, bila ini terjadi maka dengan sendirinya masyarakat yang menggunakan jasa ojol akan semakin berkurang karena melakukan penghematan akibat kenaikan harga-harga tadi.
“Walaupun nanti kami akan mendapatkan BLT [bantuan langsung tunai], itu sudah terlambat karena dampak harga-harga barang pokok yang sudah naik tadi akibat pencabutan subsidi BBM. Karena pelarangan konsumsi BBM bersubsidi itu sama saja dengan masyarakat termasuk kami harus membayar BBM yang lebih mahal,” jelas Lily. Lily lantas menyinggung bahwa di Indonesia terdapat perusahaan aplikator seperti Gojek, Grab, Maxim, Shopee Food, Lalamove, InDrive, Borzo dan lainnya. Namun, semuanya tidak mengakui para driver sebagai pekerja tetap, melainkan hanya sebagai mitra. bisn/mb06

