Mata Banua Online
Sabtu, April 18, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Anak Stunting Karena Salah Pilih Susu

by Mata Banua
18 September 2024
in Banjarmasin, Kotaku
0
D:\2024\September 2024\19 September 2024\5\New folder\hal 5\Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dra. Chairunnisa dan Ketua Harian YAICI.jpg
KETUA Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dra Chairunnisa dan Ketua Harian YAICI Arief Hidayat, bertindak sebagai narsum dalam sosialisasi pencegahan anak stunting.(foto: Mb/via)

 

BANJARMASIN – Salah pilih susu pada anak khususnya balita di Indonesia menjadi salah satu penyebab terjadinya gagal tumbuh atau stunting.

Berita Lainnya

Yamin: Birokrasi Harus Lebih Cepat dan Responsif

Yamin: Birokrasi Harus Lebih Cepat dan Responsif

16 April 2026
PAM Bandarmasih Siap Antisipasi El Nino Gozila

PAM Bandarmasih Siap Antisipasi El Nino Gozila

16 April 2026

Banyak para orangtua yang memberikan susu cair khususnya Susu Kental Manis (SKM) pada anaknya oleh karena ketidak­tahuan serta harga susu (faktor ekonomi) SKM cenderung lebih murah.

Dalam sosialisasi pencegahan stunting dan edukasi pemggunaan takaran saji susu kental manis pada balita, dikupas habis bahayanya memberikan SKM pada balita, di di ruang aula FKIK UM Banjarmasin, Rabu (18/9).

Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dra Chairunnisa, mengatakan, sosia­lisasi ini penting karena hasil penelitian pihaknya bersama Yayasan Abhipraya Insan Cen­dekia Indonesia (YAICI) menya­takan bahwa SKM tak baik bagi balita. ” Balita yang diberikan SKM memiliki resiko tinggi tumbuh stunting, ” ujarnya.

SKM memiliki rasa manis yang dikarenakan kandungan kadar gula tinggi. Ini juga yang berdampak pada berkurangnya nafsu makan balita karena kalori tinggi yang memberikan rasa kenyang.

“Balita yang diberikan kon­sumsi kental manis ini nafsu makannya kurang,” katanya.

Hal ini membuat anak tak mau makan dan membuat asupan gizi ,protein dan kandungan lainnta juga berkurang. ” Penting disebarluaskan kepada masya­rakat agar tidak memberikan lagi SKM pada balitanya sebagai pengganti susu formula,” tuturnya.

Ketua Harian YAICI, Arief Hidayat juga menjelaskan hasil penelitiannya dimana 3 dari 5 Balita yang terkena stunting itu positif mengonsumsi susu kental manis. Ini dari hasil penelitian langsung yang melibatkan bebe­rapa daerah di Indonesia.

“Oleh karena itu kami fokus pada sosialisasi ke masyarakat tentang SKM yang sebenarnya bukan pilihan tepat pengganti susu anak,” ujarnya.

Menurutnya, di Indonesia pada umumnya para orangtua memilih SKM yang diberikan kepada anak-anaknya, karena murah dan rasanya manis se­hingga disukai anak-anak.

“Ini untuk meluruskan per­sepsi yang sudah lama terbentuk, bahwa kental manis bisa di­gunakan sebagai pengganti susu formula,” ujarnya. via

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper