
BANJARMASIN – Salah pilih susu pada anak khususnya balita di Indonesia menjadi salah satu penyebab terjadinya gagal tumbuh atau stunting.
Banyak para orangtua yang memberikan susu cair khususnya Susu Kental Manis (SKM) pada anaknya oleh karena ketidaktahuan serta harga susu (faktor ekonomi) SKM cenderung lebih murah.
Dalam sosialisasi pencegahan stunting dan edukasi pemggunaan takaran saji susu kental manis pada balita, dikupas habis bahayanya memberikan SKM pada balita, di di ruang aula FKIK UM Banjarmasin, Rabu (18/9).
Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dra Chairunnisa, mengatakan, sosialisasi ini penting karena hasil penelitian pihaknya bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) menyatakan bahwa SKM tak baik bagi balita. ” Balita yang diberikan SKM memiliki resiko tinggi tumbuh stunting, ” ujarnya.
SKM memiliki rasa manis yang dikarenakan kandungan kadar gula tinggi. Ini juga yang berdampak pada berkurangnya nafsu makan balita karena kalori tinggi yang memberikan rasa kenyang.
“Balita yang diberikan konsumsi kental manis ini nafsu makannya kurang,” katanya.
Hal ini membuat anak tak mau makan dan membuat asupan gizi ,protein dan kandungan lainnta juga berkurang. ” Penting disebarluaskan kepada masyarakat agar tidak memberikan lagi SKM pada balitanya sebagai pengganti susu formula,” tuturnya.
Ketua Harian YAICI, Arief Hidayat juga menjelaskan hasil penelitiannya dimana 3 dari 5 Balita yang terkena stunting itu positif mengonsumsi susu kental manis. Ini dari hasil penelitian langsung yang melibatkan beberapa daerah di Indonesia.
“Oleh karena itu kami fokus pada sosialisasi ke masyarakat tentang SKM yang sebenarnya bukan pilihan tepat pengganti susu anak,” ujarnya.
Menurutnya, di Indonesia pada umumnya para orangtua memilih SKM yang diberikan kepada anak-anaknya, karena murah dan rasanya manis sehingga disukai anak-anak.
“Ini untuk meluruskan persepsi yang sudah lama terbentuk, bahwa kental manis bisa digunakan sebagai pengganti susu formula,” ujarnya. via

