
BANJARMASIN – Sampai Agustus 2024, telah terjadi sebanyak 68 kasus bencana alam di Provinsi Kalimantan Selatan dan masih didominasi bencana banjir dan angin puting beliung dan tanah longsor.
“Dari 68 kali bencana alam di Kalsel itu, sebanyak 30 kali merupakan bencana alam banjir,” kata Kabid Penanganan Bencana pada Dinas Sosial Provinsi Kalsel, H Achmadi, SSos, di Banjarmasin, Selasa (17/9).
Selain itu, kata Madi (sapaan akrabnya), bencana alam lainnya tanah longsor sebanyak 15 kali, angin puting beliung 14 kali dan gempa bumi sembilan kali.
Menurut Madi, dari 30 kali bencana banjir tersebut terbanyak di Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) sembilan kali, disusul Kabupaten Barito Kuala (Batola) empat kali dan masing-masing tiga kali di Kabupaten Kotabaru dan Hulu Sungai Utara (HSU).
Selanjutnya, tiga kali di Kabupaten Tanah Laut (Tala) dan masing-masing dua kali di Kabupaten Banjar, Tapin, Hulu Sungai Tengah (HST), sedangkan di Kota Banjarbaru dan Kabupaten Tabalong masing-masing satu kali.
Sementara itu, ada 15 kali bencana alam tanah longsor terbanyak di Kabupaten Tanbu enam kali, disusul Kabupaten Kotabaru tiga kali, Kabupaten Banjar dua kali dan masing-masing satu kali di Kota Banjarmasin, Banjarbaru, Tapin dan Kabupaten HST.
Untuk bencana alam angin puting beliung sebanyak 14 kali, terbanyak di Kabupaten Batola lima kali, Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar masing-masing tiga kali, Kabupaten Tala dua kali dan Kabupaten Tanbu satu kali.
Sedangkan bencana alam gempa bumi sembilan kali meliputi Kabupaten Tapin dan Kabupaten Tanbu masing-masing dua kali serta masing-masing satu kali di Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, Tabalong, Tala dan Kabupaten Kotabaru.
Madi menyebutkan akibat bencana alam di Kalsel hingga Agustus 2024 tersebut menyebabkan 27.811 kepala keluarga (KK) atau 87.947 jiwa terdampak.
Selain itu, bencana alam tersebut juga menyebabkan 156 buah rumah penduduk mengalami kerusakan berat, 23 buah rumah rusak sedang dan 37.586 buah rumah mengalami kerusakan ringan.
Akibat bencana alam di Kalsel hingga Agustus 2024 tersebut, kerugian ditaksir mencapai Rp192,463 miliar, terbesar dialami Kabupaten HST mencapai Rp79,070 miliar dan Kabupaten Tabalong sekitar Rp60,110 miliar.
Selain itu, Kabupaten Tanbu ditaksir mencapai Rp35,740 miliar, Kabupaten Batola sekitar Rp7,370 miliar, Kabupaten Tanah Laut sekitar Rp8,185 miliar dan Kabupaten Tapin Rp915 juta.
Dalam kesempatan itu, Madi berharap masyarakat terutama di kawasan yang rawan bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan angin puting beliung agar tetap mewaspadai, mengingat ada sejumlah daerah di Kalsel yang kondisi alamnya terbuka. ani

