Mata Banua Online
Senin, April 20, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Kemenkes Catat Tren Kenaikan Covid, Diduga Ada Subvarian Baru

by Mata Banua
29 Mei 2024
in Headlines
0

 

ILUSTRASI ketika perawat mengenakan pakaian Alat Pelindung Diri baju hazmat (Hazardous Material) menuju kamar isolasi Covid-19.

Jakarta – Kementerian Kesehatan mencatat tren kenaikan kasus virus corona (Covid-19) di Indonesia. Kenaikannya tidak signifikan, tapi diduga disebabkan subvarian baru.

Berita Lainnya

Jusuf Kalla Pertimbangkan Adukan Balik Pelapornya

Jusuf Kalla Pertimbangkan Adukan Balik Pelapornya

19 April 2026
Gubernur Kalsel dan Kalteng Sepakat Tingkatkan Kerjasama

Gubernur Kalsel dan Kalteng Sepakat Tingkatkan Kerjasama

19 April 2026

“Kalau saat ini mungkin ada kenaikan karena potensi sub varian baru atau karena masih oleh varian JN 1,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (29/5).

Namun demikian, Nadia mengatakan subvarian KP.1 dan KP.2 yang menyebabkan lonjakan kasus di di Singapura sementara ini belum ditemukan di Indonesia. Meski subvarian tersebut sudah diidentifikasi di Malaysia, Thailand dan Kamboja.

Berdasarkan data laporan mingguan nasional Covid-19 periode 12-18 Mei 2024, terdapat 19 kasus konfirmasi. Tren positivity rate mingguan berada di angka 0,65 persen dan nol kematian dengan jumlah orang yang dites per minggu mencapai 2.474 orang.

Apabila dibandingkan pada data periode 19-25 Mei terdapat kenaikan. Total ada 26 kasus konfirmasi padahal jumlah orang yang dites berkurang menjadi 1.811 orang saja.

Terpisah, Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril menegaskan sejauh ini belum ada urgensi pembatasan perjalanan ke Singapura meski tengah mengalami lonjakan kasus virus corona akibat subvarian KP.2 dan KP.2.

Syahril menyebut situasi dan kondisi kedua negara masih aman. Pertimbangan itu juga merujuk pada informasi yang dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan Singapura.

“Berdasarkan penilaian risiko yang ada saat ini, belum ada urgensi untuk melakukan pembatasan perjalanan dari atau ke Singapura,” kata Syahril.

Menurutnya situasi Covid-19 di Indonesia masih terkendali sehingga belum ada urgensi pemerintah untuk melakukan pembatasan mobilitas warga.

Namun Kemenkes melalui Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) menurutnya akan tetap melakukan skrining untuk pelaku perjalanan, termasuk dengan menerapkan kegiatan surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di pintu masuk Indonesia.

“Situasi transmisi Covid-19 masih terkendali. Jadi, sekarang ini belum memerlukan pembatasan mobilitas dan aktivitas masyarakat meskipun ada lonjakan kasus,” ujarnya. web

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper