JAKARTA – Institute for Es­sen­tial Services Reform (IESR) men­desak pemerintah segera me­ng­ambil langkah darurat untuk me­ngatasi kelangkaan bahan ba­kar minyak (BBM) yang be­ru­la­ng di sejumlah derah.

Pemerintah diminta me­la­ku­kan penanganan konkret dalam tu­juh hari ke depan, mulai dari re­distribusi stok hingga audit pa­sok­an dan distribusi BBM di ti­ng­kat stasiun pengisian bahan ba­kar umum (SPBU).

Desakan tersebut muncul se­te­lah kelangkaan BBM di­la­por­kan terjadi secara bergantian selama dua bulan terakhir. Bali men­jadi wilayah terbaru yang me­ngalami gangguan pasokan, se­telah sebelumnya terjadi di Ma­lang, Sintang, Kefamenanu, dan Bone Bolango.

Chief Executive Officer (CEO) IESR Fabby Tumiwa me­nilai gangguan pasokan yang be­rulang mengindikasikan ada­nya tekanan serius pada rantai pa­sok BBM nasional. Kondisi ter­sebut terjadi di tengah lonjakn har­ga minyak akibat perang di Ti­mur Tengah yang me­ni­ng­kat­kan biaya pengadaan dan di­s­tri­bu­si BBM serta tekanan terhadap arus kas Pertamina.

“Pemerintah tidak cukup han­ya menjamin bahwa stok BBM nasional aman, tetapi harus me­mastikan BBM benar-benar ter­sedia dan dapat diakses mas­ya­rakat di seluruh daerah. Ke­la­ng­kaan yang terus berulang me­nun­jukkan perlunya penanganan se­gera terhadap rantai pasok dan dis­tribusi BBM,” ujar Fabby di Ja­karta, Selasa.

IESR mengusulkan se­jum­lah langkah darurat yang perlu di­jalankan pemerintah dalam tu­juh hari ke depan. Langkah ter­se­but mencakup pembentukan ko­ordinasi penanganan krisis BBM, re­dis­tri­busi stok ke dae­rah terdampak, ser­ta audit pa­sok­an dan distribusi hi­ngga ti­ng­kat SPBU.

Menurut Fabby, penangana ke­langkaan juga perlu mem­per­tim­bangkan kebutuhan mas­ya­ra­kat dan keberlangsungan ak­ti­vitas ekonomi. Pemerintah di­min­ta memprioritaskan pasokan BBM untuk layanan publik dan ke­giatan ekonomi vital agar ga­ng­guan distribusi tidak me­ng­ham­bat aktivitas yang ber­gan­tu­ng pada ketersediaan bahan ba­kar.

IESR juga menyoroti pen­ti­ng­nya komunikasi publik dalam pe­nanganan gangguan pasokan. Pe­merintah perlu menyampaikan in­formasi yang jelas dan dapat di­percaya mengenai kondisi pa­sok­an BBM agar masyarakat mem­peroleh kepastian di tengah ke­langkaan yang berulang.

“Kelangkaan BBM yang ter­jadi berulang bukan sekadar ma­salah distribusi, tetapi per­i­ng­atan terhadap ketahanan ener­gi nasional yang membutuhkan tin­dakan segera,” tegas Fabby.

IESR menilai penanganan ya­ng cepat diperlukan untuk me­mastikan ketersediaan BBM ti­dak hanya terjamin secara na­si­o­nal, tetapi juga dapat diakses mas­yarakat di berbagai daerah. Upa­ya tersebut perlu disertai pem­benahan rantai pasok dan distribusi agar gangguan serupa tidak terus berlang. rep/mb06