JAKARTA – Sektor properti ri­tel kelas menengah bawah di ka­was­an Jakarta dan sekitarnya te­ngah menghadapi tantangan de­ng­an tingkat keterisian ruang ya­ng merosot sangat tajam.

Di tengah kembalinya ke­ra­mai­an pengunjung ke pusat per­be­lanjaan, mal kelas menengah ke bawah justru menjadi pen­yum­bang terbesar tingkat ke­ko­so­ngan ruang ritel sewa (oku­pansi).

Berdasarkan data kuartal III/2026 dari Colliers Indonesia, ham­pir 90% ruang ritel sewa yang kosong saat ini tidak ter­sebar secara merata di seluruh pa­sar, melainkan sangat ter­kon­sen­­trasi pada mal dengan kla­si­fi­kasi menengah ke bawah.

Apabila dirinci berdasarkan wi­layah, sekitar 84% ruang ko­so­ng di Jakarta berasal dari ke­lom­pok mal ini. Adapun, kon­disi di wilayah aglomerasi pe­n­ya­ngga Bodetabek bahkan lebih me­nantang, di mana mal me­ne­ng­ah bawah menyumbang hi­ngga 96% dari total rang ko­song.

Head of Research Colliers In­donesia Ferry Salanto me­ng­ung­kapkan adanya ketimpangan performa yang mencolok an­tar­ke­las mal. Pusat perbelanjaan berkelas premium dan menengah atas saat ini mampu mencatatkan ti­ngkat okupansi yang sangat se­hat, yakni mendekati angka 90%.

Sebaliknya, mal di kelompok me­nengah ke bawah hanya mam­pu mencatatkan tingkat keterisian ru­ang di kisaran 60%. “Mal-mal ya­ng kuat biasanya mempunyai be­berapa keunggulan sekaligus. Catchment mereka kuat, tenant eco­system solid, dan brand attraction-nya membuat orang te­rus datang.

Sementara mal yang tidak ter­lalu kuat menghadapi lingkaran y­a­ng lebih sulit, pengalaman be­lan­janya melemah, tenant se­ma­kin selektif, dan pada akhirnya traffic berkualitas berkurang,” je­las Frry.

Tingginya tumpukan ruang ko­song di mal kelas bawah ini sa­ngat dipengaruhi oleh per­ge­ser­an fundamental dalam strategi ekspansi bisnis peritel. Era di ma­na peritel berlomba-lomba mengejar jumlah gerai terbanyak kini perlahan mulai berakhir. Peritel modern telah menggeser fo­kusnya dari mengejar jumlah lo­kasi menjadi memprioritaskan pro­duktivitas dan kinerja fi­nan­si­al di setiap gerai yang mereka buka.

Di samping tantangan dari sisi penyewa, penglola mal juga dihadapkan pada paradoks lalu lintas kunjungan. Meskipun secara kasat mata mal terlihat ra­mai dikunjungi masyarakat ber­sama keluarga, keramaian ter­se­but belum tentu berujung pada pe­ningkatan transaksi belanja.

Ferry menuturkan bahwa mal memang tetap menjadi des­tinasi utama masyarakat untuk men­cari makan, hiburan, rek­rea­si, dan bersosialisasi. Namun, kon­sumen saat ini bertindak jauh lebih selektif dalam menentukan kapan dan apa yang akan mereka beli. Bahkan di sektor makanan dan minuman (F&B), tingginya lalu lintas kunjungan tidak selalu men­dongkrak nilai transaksi karena rata-rata pengeluaran kon­sumen cenderung lebih ren­dah dari sebelumnya. “Tan­ta­ng­annya bukan lagi sekadar men­datangkan pengunjung. Me­ngubah traffic menjadi tran­sak­si dengan nilai yang cukup un­tuk menjaga produktivitas to­ko adalah kunci bagi ke­la­ng­sung­an tenant dan pemilik mal,” tegasnya. Agar bisa memutus sik­lus ruang kosong yang terus mem­besar, pengelola mal kelas me­nengah bawah dituntut untuk se­gera melakukan peremajaan. bisn/mb06