JAKARTA – Harga beras di pasar induk atau grosir mengalami fluktuasi di tengah dinamika permintaan dan penawaran. Sejumlah pedagang di pasar kecil atau eceran mesti mengatur strategi mematok harga yang stabil utuk bisa memenuhi kebutuhan konsumen.
Handi salah satu pedagang di Pasar Rawamangun, Jakarta Timur mengatakan, harga beras yang ia beli dari Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) dalam dua pekan terakhir cenderung mengalami penurunan. Yakni menjadi sekitar Rp 700 ribu per 50 kilogram (kg) atau per karung, dari sebelumnya berada di angka sekira Rp 725-Rp 730 ribuer karung.
Meski menalami penurunan harga dari pasar induk, Handi tidak menurunkan harga beras. Harga beras Pandan Wangi, misalnya dipatok di harga Rp 15 ribu per liter, beras Rojo Lele Super di angka Rp 13 ribu per liter, dan Seigon Bandung seharga Rp 14 ribu per liter. Kemudian, beras Merah Super sebesar Rp 16 ribu per liter, beras Pera Super Rp 16 ribu per liter, dan Wngi Super seharga Rp 18 ribu per liter.
“Kalau dulu mah dapat Rp 600 ribu per 50 kg sudah bagus (kualitas berasnya). Menurut saya Rp 700 ribu (per karung) masih tinggi, meski dalam kondisi begini termasuk murah,” ungkap Handi.
Dia menuturkan, sebenarnya ia tidak mengambil untung yang besar dari beras yang ia jajakan. Menurut pengakuannya, keuntungan yang diambil kira-kira Rp 1.000 per liter. Namun, dengan penurunan harga sekitar Rp 25.000-Rp 30.000 per karung (dari Rp 725-Rp 730 ribu menjadi Rp 700 ribu) dinilai tidak bisa menurunkan harga beras ecerannya.
Di samping itu, ia juga mempertmbangkan adanya beban pengeluaran rutin. Yakni di antaranya biaya pengelolaan pasar atau disebut biaya CMS dan biaya listrik yang cukup besar dan dinilai memberatkan. Menurut pengakuannya, bisa bertahan saja sudah cukup. Sebab, ada sejumlah toko beras di Pasar Rawamangun yang mengalami kolaps hingga tutup.
Handi juga mesti mempertimbangkan adanya modal untuk plastik yang saat ini disebut sangat tinggi. Harga plastiksaat ini di angka Rp 160 ribu per 100 kantong atau bungkus, jauh melambung dibandingkan harga normal sekitar Rp 90 ribu per 100 kantong.
Tidak hanya saat harga beras di pasar induk turun, saat harganya mengalami kenaikan, Handi juga tidak bisa menaikkan harga begitu saja. Sebab, ia juga mempertimbangkan kemampuan konsumen dalam membeli bahan pokok serta kualitas dari beras itu sendiri.
“Susah dinaikkan. Saya tetap nggak naikkan. Harga Rp 16 ribu per liter, kalau brangnya jelek banget, ya nggak mungkin dinaikkan. Makanya kalau harga turun, tetap segitu (nggak diturunin). Jadi, kalau naik, harga normal, kalau turun, harga juga normal. Kalau naik (harga dari pasar induk), saya nge-press (pemasukannya),” tuturnya. “Jadi, prinsipnya, saya bertahan hidup saja. Kalau buat maju mah saya pesimis,” lanjutnya.
Keputusannya tidak menurunkan harga beras di tengah penurunan harga beras grosiran dikarenakan keuntungan lebih yang ia peroleh bisa menutupi kurangnya keuntungan yang dialami saat harga beras grosiran naik dengan harga eceran yang tetap. cnn/mb06
