BANJARMASIN – Kabut asap dari Kebakaran Hutan dan Lahan ( Kahutla) yang menyelimuti kawasan Banjarmasin dan sekitarnya telah mengganggu aktivitas sekolah. Kondisi ini sangat rentan menimbulkan penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) bagi anak-anak dan lansia. Bahkan lebih parah lagi bagi penderita asma.
Dampak dari kepungan asap ini, ternyata membuat seorang guru honorer SD Tanjung Pagar 3, Banjarmasin Selatan meninggal dunia pada Senin (28/9) pukul 23.00 Wita. Guru yang telah mengajar sekitar tiga tahun itu sebelumnya diketahui memiliki keluhan asma dan sempat meminta izin tidak masuk sekolah sejak 21 September 2026 karena penyakitnya kambuh.
Kepala SD Tanjung Pagar 3 Banjarmasin, Zainal Abidin Asmari, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, pihak sekolah memberikan izin karena kondisi kesehatan guru yang bersangkutan tidak memungkinkan untuk beraktivitas di sekolah.
“Memang guru yang bersangkutan minta izin sekitar seminggu karena mengeluhkan asmanya kambuh. Kami izinkan untuk tidak turun ke sekolah apabila kondisinya tidak memungkinkan,” ujar Zainal, Selasa (29/9) siang.
Zainal mengatakan, kondisi kabut asap di sekitar sekolah cukup pekat. Lokasi sekolah yang berada di kawasan perbatasan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar membuat dampak kabut asap cukup terasa.
“Memang di lingkungan sekitar sekolah cukup pekat. Karena wilayah sekolah berada di perbatasan, jadi cukup terimbas,” katanya.
Menurut Zainal, kabut asap tersebut telah dirasakan selama sekitar satu bulan lebih. Kondisinya semakin hari semakin tebal hingga mengganggu aktivitas warga sekolah. Meski demikian, kegiatan pembelajaran tetap menyesuaikan kebijakan Dinas Pendidikan, termasuk pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Zainal menuturkan, sebelum meninggal dunia, guru tersebut masih terlihat sehat pada sore hari. Namun, pada malam harinya, sekitar pukul 23.30 Wita, guru tersebut meninggal dunia setelah mengalami kondisi kesehatan yang disebut berkaitan dengan asmanya.
“Waktu sore sebelum meninggal, beliau masih sehat dan tidak ada masalah. Kemudian meninggal malam sekitar pukul 23.30 Wita,” tuturnya.
Zainal menegaskan, pihak sekolah selama ini memberikan kelonggaran bagi guru yang mengalami gangguan pernapasan untuk tidak masuk apabila kondisi kesehatan sedang tidak memungkinkan.
“Di sisi lain, kami berharap kondisi kabut asap yang terjadi saat ini menjadi perhatian, mengingat dampaknya tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga para guru, khususnya yang memiliki gangguan pernapasan,” harapnya. via
