Pernahkah kalian berpikir tentang apakah air bersih yang keluar dari keran rumah kita benar-benar bebas dari ancaman zat-zat berbahaya yang tidak terlihat? Air merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia. Setiap hari, kita memanfaatkan sumber air tanah, maupun air sumur untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Namun meskipun air terlihat jernih dan transparan, dapat tersembunyi potensi bahaya berupa kontaminasi zat-zat berbahaya, salah satunya adalah logam berat. Logam seperti Besi (Fe), Mangan (Mn), Timbal (Pb), dan Kadmium (Cd) tidak dapat dideteksi hanya melalui penglihatan maupun penciuman biasa. Oleh karena itu, melakukan pengujian laboratorium dengan cara analisis yang tepat merupakan salah satu cara penting untuk memastikan air yang digunakan masyarakat memiliki kualitas yang baik.

Logam berat dalam air bisa muncul karena pelapukan batuan mineral secara alami, aktivitas industri, maupun korosi pada pipa-pipa. Permasalahan ini semakin penting karena pencemaran logam berat tidak selalu menyebabkan perubahan fisik pada air yang mudah terlihat. Air mungkin terlihat jernih, tetapi secara kimia belum tentu memenuhi standar kualitas air yang dibutuhkan. Apabila air yang mengandung logam berat dikonsumsi secara terus menerus, bisa menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan. Oleh karena itu, pemeriksaan kualitas air tidak cukup hanya melihat fisiknya saja, tetapi juga perlu didukung dengan pengujian parameter kimia di laboratorium.

Kesadaran mengenai pentingnya pengujian tersebut, semakin saya pahami ketika menjalani kegiatan magang di Unit Laboratorium Fisika Kimia UPTD LEBKESDA Bantul. Selama magang, saya mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah sampel air yang tampak sederhana, ternyata harus melalui beberapa tahapan pemeriksaan yang sistematis dan penuh ketelitian. Setiap sampel memiliki kode identifikasi dan harus ditangani sesuai prosedur agar hasil pengujian dapat dipertanggungjawabkan. Dari pengalaman itu, saya menyadari bahwa bekerja di laboratorium bukan hanya tentang menggunakan instrumen, tetapi juga tentang ketelitian, kedisiplinan, dan konsistensi dalam mengikuti prosedur kerja.

Salah satu tahapan yang menarik perhatian saya adalah persiapan sampel air sebelum dilakukan analisis menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Sebelum masuk ke tahap pengukuran, sampel terlebih dahulu dipersiapkan dan diurutkan sesuai kode masing-masing sampel untuk mempermudah proses pengujian dan mencegah terjadinya kesalahan dalam penanganan sampel. Tahapan ini menunjukkan bahwa ketepatan hasil tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan instrumen, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana sampel diperlakukan sejak awal.

Proses diawali dengan penyaringan sampel. Pada tahap ini, saya mengamati bahwa sampel air yang dari luar tampak jernih bisa menunjukkan kondisi yang berbeda setelah disaring. Beberapa sampel terlihat lebih keruh, berwarna kekuningan, atau meninggalkan partikel pada kertas saring. Hal sederhana tersebut memberikan gambaran bahwa kondisi fisik air yang terlihat jernih, belum tentu mencerminkan kandungan di dalamnya.

Setelah disaring, sebanyak 50 mL sampel dipindahkan ke dalam labu Erlenmeyer dan dipanaskan hingga volumenya berkurang menjadi sekitar 40 mL. Tahap ini merupakan bagian dari proses destruksi sampel, tujuannya adalah mempersiapkan unsur logam dalam larutan agar dapat dianalisis lebih lanjut. Setelah proses pemanasan selesai, larutan dibiarkan hingga suhu ruang sebelum dilakukan tahap berikutnya.

Larutan kemudian diperiksa nilai pH-nya untuk memastikan kondisi awal berada pada pH < 2. Selanjutnya, ditambahkan larutan Asam Nitrat (HNOƒ 5%) dan larutan pengencer khusus AAS hingga tanda batas dan digojog. Larutan kemudian dipindahkan ke dalam botol poliester yang telah diberi identitas sesuai kode sampel. Pemeriksaan pH dilakukan kembali untuk memastikan kondisi larutan tetap berada pada pH < 2. Tahapan pengasaman ini menjadi bagian penting dalam preparasi sampel karena kondisi larutan harus dipertahankan sesuai prosedur sebelum dilakukan analisis menggunakan instrumen.

Setelah seluruh tahap persiapan selesai, kemudian sampel siap memasuki tahap analisis menggunakan AAS. Instrumen ini bekerja berdasarkan prinsip absorpsi radiasi oleh atom unsur tertentu pada panjang gelombang yang sesuai. Setiap parameter logam memiliki kondisi analisis yang berbeda sehingga sampel perlu disesuaikan dengan parameter yang akan diperiksa. Melalui proses tersebut, kadar unsur logam dalam sampel dapat ditentukan dengan tingkat ketelitian yang tinggi.

Selama menjalani magang, proses pengujian ini paling sering saya lakukan, pengalaman tersebut memberikan pemahaman baru bagi saya,bahwa pekerjaan di laboratorium memiliki rangkaian proses yang saling berkaitan. Kesalahan kecil pada tahap awal, seperti kesalahan identifikasi sampel, ketidaktepatan volume, atau kurangnya ketelitelitian dalam preparasi, bisa memengaruhi proses analisis selanjutnya. Oleh sebab itu, ketelitian menjadi salah satu keterampilan utama yang harus dimiliki seorang analis laboratorium.

Adapun selain keterampilan teknis, kegiatan magang juga mengajarkan pentingnya penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).Penggunaan jas laboratorium, masker, sarung tangan, serta kacamata pelindung menjadi bagian penting selama bekerja dengan bahan kimia. Pengetahuan mengenai penanganan tumpahan bahan kimia, penggunaan fasilitas keselamatan, dan juga pengelolaan limbah, memberikan pengalaman bahwa keselamatan merupakan prioritas utama dalam bekerja di laboratorium.

Dari keseluruhan proses tersebut, saya semakin memahami bahwa kualitas air tidak dapat dinilai hanya berdasarkan apa yang terlihat oleh mata. Air yang tampak jernih belum tentu bebas dari zat pencemar yang berbahaya. Pengujian laboratorium menjadi bagian penting dalam memberikan informasi yang lebih objektif mengenai kondisi air. Pengalaman magang di Laboratorium Kesehatan Daerah Bantul tidak hanya menambah pengetahuan saya mengenai analisis sampel air, tetapi juga membentuk sikap kerja yang lebih teliti, disiplin, dan bertanggung jawab.

Seluruh rangkaian pengujian ini memberikan pelajaran berharga bahwa upaya penjaminan kualitas air membutuhkan peran serta seluruh pihak, tidak hanya institusi penguji atau pemerintah. Dengan adanya pemeriksaan kualitas air secara berkala dan pengujian menggunakan metode yang tepat, potensi pencemaran dapat diketahui lebih awal. Air yang aman bukan sekadar air yang terlihat bersih, melainkan air yang telah memenuhi persyaratan kualitas berdasarkan hasil pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan.