TEPAT 24 September 2026, Kota Banjarmasin memasuki usia 500 tahun. Sebagai kota tua yang terus berkembang, Banjarmasin semakin menunjukkan jati diri sebagai kota sungai dan selalu bangga dengan julukan seribu sungai. Sejak dilantik pada 25 Februari 2025 lalu, Walikota Banjarmasin H.M Yamin bersama Wakilnya Hj.Ananda fokus membereskan PR lama yakni penanganan sampah dan banjir.
MESKI kota tua, namun Kota Banjarmasin masih dihadapkan pada banjir di sejumlah ruas jalan. Banjir terparah terjadi pada Januari 2021 dimana banjir masuk jalan kota. Karenanya, Program NUFReP atau National Urban Flood Resilience Project nerupakan proyek Nasional, menjadi upaya Banjarmasin dalam mengatasi banjir. Program ini untuk merevitalisasi sungai veteran, sungai Sutoyo S, Sungai Guring, Sungai A.Yani, Sungai Pekapuran dan kawasan Jafri Zam-zam.
Walikota HM Yamin menegaskan, program NUFReP dapat terselesaikan cepat. Ia juga menggenjot pekerjaan pengerukan sungai di musim kemarau sehingga kejadian banjir pada musim hujan dan air rob dapat dihindari. “NUFReP ini akan terus menjadi hutang jika tertunda -tunda makanya NUFRep menjadi program prioritas pembangunan Kota Banjarmasin, “ujar Yamin.
Proyek ini dibantu dana hibah dari Bank Dunia yang kini dikerjakan oleh Badan Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan I. Biayanya hibah Bank dunia yakni Rp 1 Trilyun dimana dilakukan pengerukan sungai sekaligus penataan kawasan dari Jalan veteran hingga sungai gardu. “Pemko hanya membebaskan bangunan serta jembatan yang ada disekitar proyek NUFRep, saat ini proyek masuk tahap dua yakni mengerjakan kawasan dari sungai gardu menuju simpang gatot subroto,” katamya.
Selain mengatasi banjir, Pemko Banjarmasin juga mengeruk puluhan titik sungai lainnya. Tahun 2026 ditargetkan 100 titik sungai yang dikeruk dan dinormalisasikan kembali.
Prioritas pengerukan sungai yang sudah dilakukan yakni sungai Veteran, sungai guring, sungai Zafri zam-zam dan sungai Miai, sungai Pekapuran, HKSN, sungai Belitung dan Pulau Insan.
Kepala Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Chandra Iriandy mengatakan, hingga Sepetember sudah sebanyak 65 titik sungai yang dikeruk karena memgalami pendangkalan dan penyempitan. Diantara sungai ini, termasuk juga Pulau Insan karena lebih 10 tahun tak pernah dikeruk. “Rencananya Pulau Insan akan difungsikan sebagai kolam retensi atau waduk air kota sebagai pengendali aliran sungai di kawasan Banjarmasin Barat sekaligus menjadi Ruang Publik,” kata Chandra.
Sungai lainnya seperti sungai pekapuran dan sungai kelayan juga dikeruk. Meski sulit karena di lapangan masih ada rumah penduduk namun pengerukan sungai tetap dilakukan dengan mengangkat sampah da lumpurnya.
Untuk mempercepat program pengerukan sungai ini, Pemko tahun ini menambah alat berat ekcavator amfibi untuk mengeruk anakan sungai yang sulit dijangkau. via.
