JAKARTA – Beras fortifikasi se­makin banyak ditemui di pa­sar modern dalam beberapa bu­lan terakhir. Di tengah pe­r­tum­buh­an produk tersebut, per­so­al­an tidak hanya berkaitan de­ng­an harga dan pilihan ko­n­su­men, tetapi juga memastikan kan­dungan vitamin dan mineral be­nar-benar sesuai dengan klaim pa­da kemasan.

Beras fortifikasi pada da­sar­nya dikembangkan untuk me­ni­ng­katkan kandungan zat gizi pa­da pangan yang dikonsumsi mas­yarakat secara luas. Namun, ke­tika produk seakin banyak be­re­dar, keandalan proses for­ti­fi­kasi dan pengawasan terhadap kla­im kandungan menjadi bagian pen­ting yang tidak bisa di­le­pas­kan. Anggota Komisi IV DPR RI Ajbar meminta produsen me­mastikan kandungan gizi da­lam beras fortifikasi sesuai de­ng­an in­formasi yang di­can­tum­kan pa­da kemasan.

Menurutnya, penambahan vi­tamin dan mineral melalui pro­ses fortifikasi harus tercermin pa­da produk yang diterima kon­sumen. “Kehadiran beras for­ti­fi­kasi itu dalam rangka pen­yi­ap­an beras berkualitas tinggi. Itu de­ngan berbagai kandungan vi­ta­min dengan mekanisme atau po­la fortifikasi. Nah, karena ha­rapannya punya kandungan ter­tentu, tentu saja menimbulkan per­bedaan proses produksi. Nah, kita berharap kekayaan for­tifikasi itu berbanding lurus de­ngan kandungan yang dimiliki be­ras itu,” ujar Ajbar.

Ia juga meminta pelaku usa­ha penggilingan dan produsen be­ras memperhatikan informasi ya­ng tercantum pada kemasan. Kla­im kandungan gizi, me­nu­rut­nya, harus dapat di­per­ta­ng­gu­ng­ja­wabkan berdasarkan kan­du­ngan sebenarnya.

“Nah, saya berharap kepada se­mua teman-teman, pengusaha peng­gilingan, pengusaha beras, un­tuk menaati secara serius bah­wa apa yang tertera di kemasan ki­ta itu benar-benar sesuai de­ng­an kandungan yang dimiliki,” sa­m­bungnya.

Persoalan tersebut menjadi se­makin penting setelah muncul te­muan mengenai dugaan ma­ni­pu­lasi beras fortifikasi. Pe­me­rin­tah pun mulai menekakan pe­ng­awasan dan penindakan ter­ha­dap pelaku usaha yang tidak me­menuhi ketentuan.

Kepala Badan Pangan Na­si­onal (Bapanas) sekaligus Men­teri Pertanian Amran Sulaiman me­negaskan pelaku usaha yang ter­bukti melakukan manipulasi akan dikenai tindakan tegas, ter­ma­suk pencabutan izin.

Pernyataan tersebut me­nunjukkan bahwa tantangan be­ras fortifikasi tidak berhenti pada ba­gaimana produk diproduksi, te­tapi juga bagaimana pe­me­rin­tah memastikan kualitas produk ya­ng sudah beredar sesuai de­ng­an standar dan informasi yang di­berikan kepada konsumen.

Beras fortifikasi sendiri ter­ma­suk dalam kategori beras khu­sus. Berdasarkan Peraturan Ba­panas Nomor 2/2023, beras fortifikasi merupakan salah satu dari sembilan jenis beras khusus. Ka­tegori lainnya mencakup beras ke­tan, beras merah, beras hitam, be­ras varietas lokal, beras or­ga­nik, beras indikasi geografis, be­ras dengan klaim kesehatan, ser­ta beras tertentu yang tidak da­pat diproduksi di dalam ne­geri. Dengan posisi tersebut, pro­duk fortifikasi memiliki ka­rak­teristik berbeda dari beras pre­mium atau medium yang men­jadi bagian dari pengaturan pe­r­berasan secara umum. bisn/mb06