SIAPAPUN yang membaca dan merenungkan Surah al-Waqi‘ah, khususnya bagian-bagian akhirnya, pasti hatinya akan terperanjat karena ada beberapa pertanyaan Tuhan kepada manusia tentang relasinya dengan alam semesta.
Pada ayat 68-70, Tuhan bertanya: “Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur?”
Pertanyaan itu tampaknya sederhana. Bukankah setiap hari manusia minum air? Bukankah air merupakan sesuatu yang demikian dekat dengan kehidupan? Namun justru karena terlalu dekat, manusia sering tidak lagi memperhatikannya. Air mengalir dari keran, tersedia dalam botol, keluar dari sumur, atau ditampung dari hujan. Kita menggunakannya hampir tanpa berpikir dari mana ia datang, bagaimana prosesnya, dan siapa yang sesungguhnya menyediakan semua itu.
Dalam ilmu balagah, pertanyaan Tuhan tersebut tentu bukan pertanyaan untuk memperoleh jawaban karena adanya ketidaktahuan. Allah Maha Mengetahui.
Pertanyaan semacam ini dalam kajian balagah dapat dipahami sebagai istifham inkari, yakni pertanyaan yang mengandung penegasan, teguran, atau penyangkalan terhadap sikap manusia yang lalai. Seakan-akan ayat itu berkata: “Wahai manusia, mengapa kamu tidak memperhatikan air yang kamu minum? Mengapa kamu tidak menyadari siapa yang menyediakannya? Mengapa setelah menikmati nikmat itu kamu tidak bersyukur?”
Dengan demikian, pertanyaan Tuhan sebenarnya bukan sekadar meminta jawaban dari lisan manusia. Pertanyaan Tuhan menuntut jawaban dari kesadaran dan perilaku. Manusia mungkin dapat menjawab dengan mudah bahwa air berasal dari hujan, hujan berasal dari proses alam, dan proses alam berlangsung melalui siklus hidrologi. Semua itu benar secara ilmiah. Tetapi al-Qur’an membawa manusia melangkah lebih jauh: siapakah yang menciptakan hukum-hukum alam sehingga siklus itu berlangsung sedemikian teratur? Dari mana datangnya air yang memungkinkan manusia, hewan, dan tumbuhan mempertahankan kehidupan?
Di sinilah pertemuan antara ilmu pengetahuan dan kesadaran keagamaan menjadi penting. Sains menjelaskan bagaimana air hadir dan beredar, sedangkan wahyu mengajak manusia merenungkan makna kehadiran air bagi kehidupan dan relasinya dengan Tuhan. Air bukan sekadar benda yang dapat diukur volumenya, dipompa, dijual, dan dikonsumsi. Air adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang setiap hari berada di hadapan manusia.
Ayat tersebut bahkan menghadirkan kemungkinan yang sangat sederhana tetapi mengguncang kesadaran: “Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin.” Air yang tersedia untuk diminum ternyata bukan sesuatu yang harus diterima manusia sebagai keniscayaan mutlak. Ia adalah nikmat. Air tawar yang dapat diminum adalah bagian dari kemurahan Allah yang sering kali baru disadari ketika ketersediaannya terganggu.
Di zaman ketika air bersih semakin menjadi persoalan di berbagai tempat, pertanyaan al-Waqi‘ah itu terasa semakin relevan. Manusia modern memiliki teknologi yang jauh lebih maju daripada manusia masa lalu. Kita mampu mengebor tanah lebih dalam, membangun bendungan, mengolah air, melakukan desalinasi, dan mendistribusikannya melalui jaringan perpipaan. Namun kemampuan teknologi itu tdak berarti bahwa air dapat diperlakukan tanpa batas.
Air mempunyai batas ekologis. Sumber-sumber air dapat tercemar. Sungai dapat kehilangan kualitasnya. Daerah resapan dapat berkurang. Hutan yang menjadi bagian penting dari tata air dapat rusak. Air tanah dapat dieksploitasi secara berlebihan. Pada saat yang sama, perubahan iklim dapat memperbesar tekanan terhadap ketersediaan air di berbagai wilayah.
Karena itu, jawaban terhadap pertanyaan Tuhan tentang air tidak cukup hanya dengan mengucapkan “alhamdulillah”. Syukur memang dimulai dari pengakuan bahwa air adalah nikmat Allah. Tetapi syukur yang berhenti di bibir belum sepenuhnya menjawab pertanyaan tersebut. Syukur semestinya menemukan bentuknya dalam cara manusia memperlakukan air.
Orang yang bersyukur tidak semestinya membiarkan air terbuang sia-sia. Ia tidak semestinya mencemari sungai yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Ia tidak semestinya merusak kawasan yang berfungsi menjaga sumber air hanya demi keuntungan sesaat. Ia juga perlu membangun kebiasaan menggunakan air secara wajar, menjaga kebersihan sumber air, dan mengingatkan orang lain bahwa air bukan sekadar komoditas, melainkan penopang kehidupan bersama.
Dengan demikian, perilaku ekologis bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar kepada ayat al-Waqi‘ah. Ia dapat lahir sebagai konsekuensi dari cara memahami pertanyaan Tuhan itu sendiri. Ketika Allah bertanya, “Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?”, manusia diajak keluar dari kebiasaan mengonsumsi tanpa merenung menuju kesadaran bahwa di balik segelas air terdapat jaringan kehidupan yang panjang: awan, hujan, tanah, hutan, sungai, mata air, dan seluruh sistem ekologis yang memungkinkan air tetap tersedia.
Menariknya, ayat tersebut ditutup dengan pertanyaan: “Mengapa kamu tidak bersyukur?” Jadi, titik tekan ayat bukan semata-mata pada air, melainkan pada sikap manusia terhadap nikmat air. Air menjadi pintu masuk menuju kesadaran syukur. Dan syukur, dalam pengertian yang lebih luas, semestinya melahirkan tanggung jawab.
Barangkali inilah yang sering hilang dalam kehidupan modern: manusia menikmati alam, tetapi tidak selalu mengenali siapa yang memberikannya; manusia memahami mekanisme alam, tetapi belum tentu menghormati keterbatasannya. Kita mengetahui bahwa hujan mengikuti siklus hidrologis, tetapi kadang lupa bahwa air hujan yang turun di hadapan kita adalah nikmat yang memungkinkan kehidupan berlangsung.
Pertanyaan Tuhan karena itu tidak selesai dengan jawaban verbal. Ia membutuhkan jawaban eksistensial.
Ketika ditanya, “Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?”, mungkin jawaban terbaik bukanlah sekadar, “Ya, saya memperhatikannya.” Jawaban itu harus terlihat pada cara kita menggunakan air, menjaga sungai, merawat hutan, melindungi sumber mata air, dan memastikan bahwa generasi setelah kita masih dapat menikmati air yang layak diminum.
Sebab, boleh jadi, krisis air bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga ujian terhadap rasa syukur manusia. Ketika nikmat yang setiap hari berada di depan mata mulai langka, tercemar, atau sulit diperoleh, pertanyaan al-Waqi‘ah 68-70 terasa semakin dekat dengan kehidupan kita.
Dan pertanyaan Tuhan itu masih terdengar sampai hari ini:
Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?
Pertanyaan itu tidak terutama meminta kita mencari jawaban dengan kata-kata. Ia meminta kita menjawabnya dengan kehidupan. (*)
