JAKARTA – Stok beras Perum Bulog berpotensi men­yusut menjadi sekitar 3,5 juta ton setelah pe­me­rintah menyetujui tambahan penyaluran be­ras Stabilissi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1 juta ton serta hilirisasi 380.000 ton beras turun mutu.

Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani me­ng­ata­kan stok beras yang dikuasai Bulog saat ini mencapai sekitar 4,8 juta ton. Dengan tambahan penyaluran SPHP dan program hilirisasi tersebut, stok Bulog di­pro­yeksikan berkurang sekitar 1,38 juta ton. “[Stok beras Bu­log] skarang 4,8 [juta ton] hari ini. Nanti kalau dikurangi 380.000 [ton], berarti 4,5 [juta ton]. Nanti dikurangi lagi beras 1 juta [ton] berarti 3,5 [juta ton],” kata Rizal saat ditemui di Kan­tor Perum Bulog, Jakarta Selatan.

Rizal mengatakan pemerintah telah menyetujui tambahan ku­antum beras SPHP sebanyak 1 ju­ta ton. Penyaluran tambahan ter­sebut akan digunakan untuk memperkuat stabilisasi pasokan dan harga pangan hingga Maret 2027, terutama untuk me­ng­an­ti­si­pasi potensi dampak El Nino ya­ng berkepanjangan.

Penyaluran SPHP tambahan akan mempertimbangkan daerah ya­ng berpotensi mengalami kerawanan pangan akibat dampak El Nino. Kondisi tersebut dinilai ber­potensi menekan produksi be­ras, termasuk melalui risiko gagal pa­nen.

Selain volume penyaluran, Bu­log juga akan memperhatikan kua­litas beras SPHP yang di­sa­lur­kan kepada masyarakat. Rizal meng­atakan beras yang diterima mas­yarakat harus tetap meme­nuhi standar kualitas, ke­ber­sih­an, dan higienitas.

Di sisi lain, pemerintah men­ye­tujui hilirisasi 380.000 ton be­ras turun mutu menjadi tepung be­ras. Rizal menegaskan beras ter­sebut tidak akan dialihkan men­jadi beras premium seperti usulan se­belumnya.

Beras yang akan dihilirisasi merupakan stok dengan usia sim­pan lebih dari 10 bulan. Bulog akan menyediakan bahan baku, sedangkan pengolahan menjadi te­pung dilakukan oleh pembeli. “Untuk hilirisasi [menjadi te­pung], Bulog hanya nyiapkan ba­han bakunya, yaitu beras yang usia simpannya di atas 10 bulan. Dan itu yang sangat relevan un­tuk digunakan tepung beras ka­re­na ada pers­ya­ra­tannya harus mengandung ami­lo­sanya yang me­menuhi syarat. Ka­rena yang bisa amilosa me­me­nuhi syarat itu harus di tas 10 bulan,” jelasnya. Menurut Rizal, hilirisasi dila­­ku­kan untuk mencegah stok beras ya­ng mengalami pe­nurunan mutu men­jadi rusak dan me­nimbulkan ke­rugian bagi ne­gara. “Karena daripada berasnya ru­sak, jadi ke­rugian negara, lebih ba­gus di­a­lihkan menjadi tepung be­ras,” im­buhnya.

Dalam pelaksanaannya, Bu­log akan menyiapkan beras yang me­menuhi kriteria untuk kemu­dian dilelang melalui antor Pe­la­yan­an Kekayaan Negara dan Le­lang (KPKNL). Pembeli dapat berasal dari pengusaha maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memi­liki fasilitas produksi tepung beras. bisn/mb06