JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga komoditas pangan melonjak tajam pada Agustus 2026. Masalahnya, tekanan kenaikan harga pangan berpotensi masih menghantui daya beli masyarakat ke depan.

BPS mencatat bahwa makanan, minuman, dan tembakau menadi kelompok pengeluaran yang memberi kontribusi paling tinggi terhadap kenaikan inflasi pada Agustus 2026. Adapun secara bulanan (month-to-month/MtM), BPS mencatat inflasi umum 0,21% atau meningkat dibandingkan dengan deflasi 0,14% pada bulan sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan sejumlah faktor yang memengaruhi kenaikan harga pangan tersebut.

Pertama, terjadi peningkatan permintaan dagingayam ras akibat kebutuhan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, HUT ke-81 RI, hingga dimulainya kembali program makan bergizi gratis (MBG) setelah periode libur sekolah berakhir.

Kedua, produksi beberapa komoditas hortikultura seperti cabai rawit hingga bawang merah menunjukkan penurunan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Ketiga, rendahnya curah hujan di mayoritas wilayah Indonesia akibat fenomena El Niño. “Tinggi-rendahnya curah hujan tentunya akan berpengaruh pada budidaya tanaman padi di setiap wilayah Indonesia,” ungkap Ateng.

Mau tak mau, masyarakat harus merogoh kocek yang lebih dalam ketika ingin membeli berbagai kebutuhan pangannya. Kalangan ekonom bahkan melihat inflasi pangan berpotensi terus meningkat.

Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Faisal Rachman menjelaskan harga pangan berpotensi terus tinggi akibt dua faktor utama, yaitu program MBG dan fenomena El Niño yang diprediksi BMKG akan berlanjut hingga awal 2027.

“Program MBG berpotensi meningkatkan permintaan pangan, sehingga menciptakan risiko kenaikan inflasi volatile food [harga pangan bergejolak], kecuali produksi pertanian dan ketahanan rantai pasok membaik secara memadai,” ujar Faisal.

Masalahnya, produksi dan rantai paok pertanian juga terancam akibat anomali cuaca El Niño. Akibatnya, harga pangan tetap berpotensi meningkat yang pada akhirnya menekan inflasi ke atas. Selain itu, dia melihat pemerintah masih akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga jumlah uang beredar (M2) diperkirakan terus meningkat, yang juga berpotensi menambah tekanan inflasi. Oleh sebab itu, Tim Ekonom Permata memproyeksikan inflasi umum aka berada di kisaran 3,13% pada akhir 2026 atau lebih tinggi dibandingkan realiasasi inflasi 2,92% pada akhir 2025.

“Namun, apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat dan menyebabkan kenaikan harga energi global yang berkepanjangan, inflasi dapat melampaui proyeksi kami saat ini,” jelas Faisal.

Senada, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manet menekankan MBG dan El Niño memang berpotensi terus menekan harga-harga pangan.

Terkait MBG, Yusuf mengaku tidak heran apabila program berskala masif seperti itu menciptakan suntikan permintaan baru untuk komoditas pangan sehingga harga otomatis meningkat. bisn/mb06