What's Hot

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mewaspadai tekanan inflasi pa­ngan meskipun inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Juli 2026 turun menjadi 2,88% se­cara tahunan dari 3,34% pada Juni 2026. BI menilai risiko ga­ng­guan cuaca, termasuk El Ni­no, dapat memengaruhi pasokan dan harga pangan ke depan.

Pjs. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan inflasi volatile food melmbat menjadi 2,52% yoy pada Juli 2026 ka­rena peningkatan pasokan se­jum­lah komoditas hortikultura. Kondisi tersebut turut menjaga inflasi umum tetap berada dalam sasaran BI sebesar 2,5% plus minus 1%.

“Inflasi volatile food me­lambat menjadi 2,52% year-on-year dipengaruhi oleh panen komo­ditas hortikultura, aneka ca­bai, dan bawang merah,” kata Destry dalam konferensi pers DG BI yang disiarkan daring.

BI mencatat inflasi inti pada Juli 2026 tetap terkendali sebesar 2,76% yoy. BI juga mencatat inflasi administered prices se­be­sar 3,58% yoy seiring dengan penyesuaian harga BBM non­subsidi.

Destry mengatakan, BI akan mem­perkuat sinergi dengan pe­me­rintah untuk menjaga stabilitas harga pangan. BI akan men­ja­lan­kan pengendalian inflasi me­lalui Tim Pengendalian Inflasi Pu­sat dan Daerah (TPIP dan TPID)bersama pemerintah.

“Bank Indonesia juga terus mem­perkuat sinergi dengan pe­me­rintah melalui TPIP dan TPID da­lam implementasi Gerakan Pe­ng­endalian Inflasi Pangan Se­jahtera atau GPIPS guna mena­han inflasi pangan,” ujar Destry.

BI akan mengantisipasi ri­si­ko gangguan cuaca terhadap produksi dan distribusi pangan me­lalui GPIPS. BI menilai lang­kah tersebut penting untuk men­jaga pasokan komoditas pangan dan mencegah kenaikan harga yang dapat mengganggu daya­beli masyarakat.

me­lalui rapat dewan gubernur.

Destry mengatakan BI juga akan mempertahankan inflasi dalam sasaran 2,5% plus minus 1% pada 2026 dan 2027 me­la­lui penguatan bauran kebijakan mo­neter. BI akan menjaga sta­bi­litas rupiah ntuk mengurangi dam­pak imported inflation terha­dap harga domestik. “Bank Indonesia akan terus mem­perkuat respons bauran kebi­jakan moneter agar inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5% plus minus 1% pada tahun 2026 dan 2027,” kata Destry.

Sebelumnya dipaparkan, Bank Indonesia bersama pe­me­rintah pusat dan pemerintah daerah memperkuat program pe­ngendalian inflasi pangan untuk mengantisipasi dampak El Nino terhadap pasokan dan distribusi pangan.

Langkah tersebut ditempuh di tengah inflasi Juni 2026 yang te­tap terjaga di level 3,4 persen secara tahunan, meski inflasi ke­lom­pok volatile food maih men­capai 5,58 persen.

Tekanan inflasi pangan ma­sih dipengaruhi kenaikan harga be­ras, bawang putih, dan ko­moditas hortikultura. Tekanan ter­sebut terkonsentrasi di Su­ma­tera, Sulawesi, Maluku, Papua (Sulampua), dan Kalimantan aki­bat berakhirnya masa panen serta g­angguan cuaca El Nino yang menghambat pasokan dan dis­tribusi.

Dalam rangka me­ng­an­ti­sipasi dampak El Nino yang le­bih mengganggu sisi suplai pa­ng­an, program Gerakan Pe­ng­en­dalian Inflasi Pangan Strategis (GP IPS) bersama pemerintah akan diarahkan pada aspek ke­ter­sediaan pasokan dan kelancaran distribusi. lp6/mb06