JAKARTA – El Niño masih menjadi ancaman te­rutama bagi inflasi volatile food. Gubernur Destry Damayanti mengungkapkan, Indeks Har­ga Konsumen (IHK) pada September 2026 ter­ca­tat 3,28% secara tahunan (yer on year/YoY), le­bih tinggi dibandingkan dengan realisasi bu­lan sebelumnya yang sebesar 3,19% (YoY).

“Tekanan inflasi ada di vo­la­tile food inflation, tapi untuk ya­ng inflasi inti masih cukup ter­ken­dali di level 2,84%,” kata Bank Indonesia dalam paparan ha­sil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan Oktober 2026.

Hal ini dipengaruhi di­pe­ng­a­ruhi oleh turunnya inflasi iti menjadi 2,84% YoY serta lebih ren­dahnya inflasi kelompok ad­mi­nistered prices (harga produk ya­ng diatur langsung oleh pe­me­rin­tah) menjadi 3,25% YoY, de­ng­an penyebab utama turunnya ta­rif angkutan udara.

Sementara itu, inflasi ke­lom­pok volatile food naik menjadi 5,03%, dipengaruhi oleh pe­nu­run­an produksi di beberapa dae­rah sentra, terutama akibat ga­ng­guan cuaca.

Untuk tetap mengendalikan in­flasi, BI akan terus memperkuat res­pon bauran kebijakan moneter ter­masuk stabilisasi nilai tukar ru­piah agar inflasi tetap dalam sa­sar­an sasaran 2,5%±1% pada 2026 hingga 2027.

Selain itu, BI akan terus mem­perkuat sinergi dengan pe­me­rintah lewat Tim Pengendalian In­flasi Pusat (TPIP) dan Tim Pe­ng­endalian Inflasi Daerah (TPID) un­tuk Gerakan Pengendalian In­flasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Ricky Perdana Gozali mengatakan inflasi volatile food merupakan inflasi yang perlu diwaspadai sebab naik menjadi 5,03% YoY.

Untuk diketahui, volatile food (inflasi komponen ber­ge­jo­lak) adalah kelompok komoditas ba­han pangan yang harganya mu­dah naik da turun secara dras­tis, seperti beras, cabai, bawang, dan lainnya. Dia merinci, dae­rah yang mengalami tekanan inflasi volatile food tertinggi yak­ni Sulampua (Sulawesi, Maluku, Papua) dan Kalimantan.

Di Sulampua, inflasi volatile fo­od tercatat 8,63%, terutama be­rasal dari cabai rawit, cabai me­rah, tomat, bawang merah, be­ras, serta komoditas ikan se­perti cakalang dan tongkol.

Sementara d Kalimantan, in­flasi volatile food mencapai 7,62%, terutama dari beras, ca­bai rawit, cabai merah, kemudian te­lur ayam ras, serta beberapa ko­moditas ikan. Tekanan ini pun se­makin diperkuat dengan fe­no­mena El Niño.

“Berdasarkan perhitungan ka­mi di daerah, fenomena El Ni­ño yang berkepanjangan paling besar berdampak pada inflasi volatile food, terutama di Sulampua, Bali Nusra, an Su­matra,” ujar Ricky. Ricky ke­mu­dian mengungkapkan kom­o­di­tas yang paling rentan te­r­dam­pak adalah beras, cabai, dan ba­wang merah.

Karena itu, lanjutnya, fokus BI di daerah dalam jangka pen­dek adalah menjaga pasokan ko­mo­ditas utama tersebut. Upaya ya­ng dilakukan antara lain men­dorong kerja sama antardaerah, mem­fasilitasi distribusi pangan, me­laksanakan operasi pasar, dan mengadakan grakan pasar mu­rah. bisn/mb0