BANJARMASIN – Memasuki usia lima abad, Kota Banjarmasin dihadapkan pada tantangan regenerasi. Peran pemuda dinilai menjadi kunci agar pembangunan kota tidak kehilangan arah di tengah derasnya perubahan zaman.
Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Kepemudaan yang digelar Komunitas Pemuda Majelis Kita (Mazta) di Banjarmasin, Minggu (12/10) malam.
Budayawan Kalimantan Selatan, Noorhalis Majid, hadir sebagai narasumber. Ia menegaskan, usia 500 tahun harus menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar perayaan seremonial.
Menurutnya, tantangan pembangunan hari ini jauh berbeda. Jika masa lalu berkutat pada pembangunan fisik di lahan rawa, maka tantangan hari ini adalah krisis kepedulian, lemahnya literasi sejarah, dan gempuran budaya digital yang mengikis identitas.
“Masih banyak anak muda Banjarmasin yang tidak mengenal sejarah kotanya sendiri. Padahal, tanpa memahami masa lalu, kita tidak akan mampu merumuskan masa depan,” ujar Noorhalis di hadapan puluhan pemuda Mazta.
Ia menilai, banyak generasi muda terjebak menjadi penonton. Aktif di media sosial, namun apatis terhadap persoalan di lingkungan sekitar, mulai dari isu banjir, sampah, hingga matinya UMKM lokal.
Karena itu, Noorhalis mendorong agar penguatan kapasitas pemuda dilakukan secara sistematis. Tidak cukup hanya bermodal semangat, tetapi harus dibekali pengetahuan, literasi kuat, keterampilan, dan pengalaman. Tantangan masa depan tidak hanya bersaing sesama teman namun juga dengan pesatnya teknologi dan kemajuan dunia.
“Anak muda harus membekali diri sedini mungkin. Punya ilmu, punya skill, dan punya pengalaman lapangan. Tantangan ke depan jauh lebih berat agar mereka tidak hanya jadi penonton,” katanya.
Sementara, Ketua Umum Mazta, Muhammad Amin Hasani berkomitmen menjadikan momentum lima abad ini sebagai titik tolak gerakan.
Amin menyebut, Mazta memperluas ruang-ruang diskusi kritis, bedah buku, dan kajian sejarah kota sebagai upaya merawat ingatan kolektif.
“Kami ingin Mazta menjadi kawah candradimuka. Tempat anak muda Banjarmasin belajar, berdiskusi, bedah buku dan berani mengambil peran, misalnya membedah isu nasional dan daerah bersama pakar-pakar,” katanya.
Dia berharap, bersama Mazta tumbuh kesadaran sejarah dan kebanggaan terhadap identitas Banua, sehingga pembangunan Kota Banjarmasin ke depan tetap berpijak pada nilai-nilai lokal di tengah modernisasi. via
