MARTAPURA – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Zalecha Martapura terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat melalui spesialis Telinga, Hidung dan Tenggorokan (THT).

Salah satu bentuk layanan unggulan yang dilaksanakan adalah tindakan pasca operasi berupa aktivasi dan pemasangan alat bantu luar (receiver) implan koklea bagi pasien anak dengan gangguan pendengaran berat, Rabu (7/10) siang.

Dalam penanganan terbaru terdapat dua pasien anak masing masing berusia 8 tahun dan 2 tahun yang menjalani proses aktivasi implan tersebut.

Kedua pasien diketahui mengalami gangguan pendengaran saraf berat pada kedua telinga sejak lahir yang berdampak signifikan pada keterlambatan perkembangan bicara (speech delay).

Sekda Kabupaten Banjar, H Yudi Andrea yang ikut menyaksikan langsung aktivasi dan pemasangan alat bantu luar mengatakan, ini merupakan langkah nyata dan inovasi pelayanan kesehatan yang sangat luar biasa dari RSUD Ratu Zalecha dalam membantu anak-anak yang mengalami masalah pendengaran sejak lahir.

Pemkab Banjar tentu memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada manajemen rumah sakit dan tim dokter spesialis THT yang telah bekerja keras menyelenggarakan layanan medis ini.

“Kita berharap dengan diaktifkannya implan koklea ini, anak-anak kita dapat kembali mendengar dengan baik, bisa belajar berbicara serta tumbuh dan berkembang secara optimal untuk meraih masa depan mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUD Ratu Zalecha Martapura, Arief Rachman mengatakan, pemasangan bagian implan di dalam tubuh telah dilakukan melalui tindakan operasi oleh dokter spesialis da kegiatan kali ini merupakan tahap aktivasi perangkat eksternal.

“Jadi sebelumnya sudah dilakukan operasi penanaman di dalam kulit oleh dokter-dokter spesialis. Hari ini dipasang prosesor diluarnya, karena sudah dipasang implan didalamnya,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, aktivasi tidak langsung diberikan dengan tingkat suara tinggi. Perangkat terlebih dahulu diatur pada tingkat suara rendah, kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai respons dan kemampuan pasien dalam menerima suara, jelasnya.

Tahapan dilanjutkan proses pemetaan atau mapping dan pengaturan dilakukan untuk menysuaikan perangkat dengan respon pendengaran masing-masing pasien sehingga suara yang diterima dapat semakin sesuai.

Terpisah, Tim Dokter Spesialis THT-KL RSUD Ratu Zalecha, dr Sri Sofia Wahyuni didampingi dr Juliansyih Safitri menjelaskan, tindakan intervensi medis ini sangat krusial, terutama pada periode emas (golden period) perkembangan anak di bawah usia 3 tahun.

Implan koklea ini dirancang untuk pemakaian jangka panjang (seumur hidup), guna merangsang pendengaran pasien agar dapat belajar memahami suara dan berbicara.

Meski demikian, tindakan operasi dan pemasangan alat hanyalah langkah awal. Kunci keberhasilan utama terletak pada proses pasca operasi yaitu terapi bicara secara rutin serta peran aktif orang tua di rumah sebagai mitra utama tim medis, dalam pelatihan dan mencatat setiap perkembangan bicara anak.

Mengingat tingginya biaya perangkat implan koklea, yang berkisar antara puluhan hingga ratusan juta rupiah dan saat ini belum dijamin oleh BPJS Kesehatan, pihaknya mengapresiasi keberanian serta komitmen keluarga pasien dalam mengupayakan tindakan medis ini demi masa depan anak-anak mereka.

“Semakin dini terdeteksi dan diintervensi, hasilnya akan semakin bagus karena mengejar masa emas tumbuh kembang anak,” ucapnya. ril/dio/ani