Seri: Membaca Ekonomi dari Kehidupan Sehari-hari

ADA satu kebiasaan yang sebenarnya sederhana, tetapi sering terasa sulit dilakukan: menisihkan sebagian uang untuk masa depan.

Setiap kali menerima pendapatan, kita mungkin sudah memiliki niat.

“Bulan ini saya harus bisa menabung.”

Namun, beberapa minggu kemudian, ketika melihat saldo rekening atau isi dompet, kita kembali bertanya-tanya: ke mana uang tadi pergi?

Bukan karena kita tidak memliki keinginan untuk menabung. Bukan pula selalu karena pendapatan terlalu kecil.

Ada sesuatu yang lebih menarik di balik persoalan tersebut. Ketika pendapatan datang, ia segera bertemu dengan berbagai kebutuhan. Setelah itu, muncul keinginan, tagihan, biaya perjalanan, kebutuhan keluarga, danberbagai pengeluaran kecil yang sering tidak terasa.

Pada akhirnya, uang yang direncanakan untuk masa depan justru menjadi uang untuk memenuhi kebutuhan hari ini.

Di sinilah kita mulai melihat bahwa menabung bukan sekadar persoalan menyimpan uang. Ia berkatan erat dengan bagaimana pendapatan digunakan.

Ketika Pendapatan Datang dan Pengeluaran Menunggu

Setiap rumah tangga memiliki pola yang berbeda. Ada yang menerima gaji setiap bulan. Ada yang memperoleh pendapatan dari usaha. Ada yang penghasilannya mengikuti musim. Ad pula yang menerima pendapatan dari beberapa sumber sekaligus. Tetapi semuanya memiliki satu persamaan: pendapatan yang diterima harus dibagi untuk berbagai keperluan.

Sebagian digunakan untuk makanan, listrik, transportasi, pendidikan, kesehatan, cicilan, dan kebutuhan rumah tangga laina.

Sebagian lagi mungkin digunakan untuk kebutuhan yang sifatnya tidak rutin.

Setelah semua itu dipenuhi, barulah kita melihat apakah masih ada uang yang dapat disisihkan.

Dalam ilmu ekonomi, pendapatan yang dapat digunakan untuk konsumsi dan menabun sering disebut disposable income, yaitu pendapatan yang tersedia setelah dikurangi kewajiban tertentu.

Secara sederhana, kita dapat melihat hubungan seperti ini:

Pendapatan Konsumsi + Tabungan

Artinya, ketika pendapatan meningkat, secara teori rung untuk menabung juga dapat bertambah.

Tetapi dalam kehidupan nyata, hubungan itu tidak selalu berjalan sederhana.

Ketika Pendapatan Naik, Pengeluaran Ikut Naik

Ada pengalaman yang cukup umum terjadi. Ketika pendapatan masih Rp4 juta per bulan, seseorang mungkin merasa cukup dengan pola kehidupan tertentu.

Kemudian pendapatan meningkat menjadi Rp5 juta. Harapannya, ada tambahan Rp1 juta yang dapat ditabung. Namun ternyata tidak seluruhnya masuk ke tabungan.

Ada kebutuhan yang ikut meningkat. Mungkin frekuens makan di luar bertambah, kendaraan lebih sering digunakan, kebutuhan rumah tangga meningkat, atau muncul berbagai pengeluaran yang sebelumnya dianggap tidak perlu.

Tanpa disadari, standar konsumsi ikut berubah.

Inilah salah satu alasan mengapa peningkatan pendapatan tidak selalu menghasilkan peningkatan tabungn dalam jumlah yang sama.

Dalam ekonomi, perubahan pola konsumsi seperti ini merupakan bagian dari perilaku rumah tangga dalam menggunakan pendapatannya.

Manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar. Ketika kemampuan ekonominya meningkat, pilihan konsumsinya juga dapat berubah.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata erapa besar pendapatan, tetapi juga bagaimana pendapatan tersebut dialokasikan.

Pengeluaran Kecil yang Sering Tidak Terasa

Ada pula pengeluaran yang tampaknya kecil.

Secangkir kopi.

Makanan ringan.

Biaya parkir.

Belanja kecil melalui aplikasi.

Biaya perjalanan yang sedikit lebih serig.

Satu per satu mungkin tidak terasa berat.

Namun, jika terjadi berkali-kali dalam satu bulan, jumlahnya dapat menjadi cukup berarti.

Ini bukan berarti setiap pengeluaran kecil adalah sesuatu yang salah.

Kita tentu membutuhkan ruang untuk menikmati hasil kerja. Ekonomi juga berjalan karena masyarakat melakukan konsums.

Warung membutuhkan pembeli. Pedagang membutuhkan pelanggan. Pengemudi membutuhkan penumpang. Produsen membutuhkan konsumen.

Konsumsi bukan musuh tabungan.

Persoalannya adalah keseimbangan.

Ketika hampir seluruh pendapatan habis untuk konsumsi hari ini, ruang untuk kebutuhan masa depan menjadi semakin kecil.

Menabung erarti Menunda Sebagian Konsumsi

Di sinilah konsep ekonomi yang sederhana tetapi penting muncul.

Ketika kita menyisihkan uang untuk masa depan, sebenarnya kita sedang menunda sebagian konsumsi hari ini.

Uang yang bisa digunakan sekarang dipilih untuk disimpan dan digunakan pada waktu yang akan datang.

Keputusan tersebut mmiliki konsekuensi.

Jika seseorang memilih menggunakan Rp500.000 untuk membeli sesuatu hari ini, uang tersebut tidak lagi tersedia untuk kebutuhan lain di masa depan.

Sebaliknya, jika Rp500.000 tersebut disimpan, ada sesuatu yang dikorbankan hari ini demi kemungkinan penggunaan yang lebih besar pada masa mendatang.

Dalam ekonomi, nilai dari pilihan yang tidak diambil ini dikenal sebagai opportunity cost, atau biaya kesempatan.

Konsep ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita.

Setiap kali memilih menggunakan uang untuk satu kebutuhan, kita sekaligus memilih untuk tidak menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan lainnya.

Karena itu, megelola keuangan pada dasarnya juga merupakan seni membuat pilihan.

Mengapa Masa Depan Sering Kalah oleh Hari Ini?

Ada alasan lain yang menarik.

Kebutuhan hari ini terasa nyata.

Kita melihat makanan yang harus dibeli. Tagihan yang harus dibayar. Kendaraan yang harus diisi bahan bakar. Anak yang membutuhkan biayasekolah.

Sementara kebutuhan masa depan belum terlihat.

Dana pendidikan beberapa tahun lagi belum terasa mendesak.

Dana kesehatan di masa depan belum terlihat.

Kebutuhan setelah pensiun juga terasa masih jauh bagi mereka yang masih aktif bekerja.

Akibatnya, manusia cenderung lebih mudah memberikan perhatian kepada kebutuha yang ada di depan mata.

Di sinilah menabung menjadi menarik dari sudut pandang ekonomi dan perilaku manusia.

Menabung berarti memberikan sebagian perhatian kepada sesuatu yang belum terjadi, tetapi mungkin sangat penting ketika waktunya tiba.

Tabungan Bukan Hanya Tentang Jumlah

Ketika berbicara tentang tabungan, kitasering langsung berpikir tentang jumlah.

“Berapa yang harus ditabung?”

Padahal ada pertanyaan lain yang juga penting:

“Untuk apa uang itu disimpan?”

Tabungan untuk kebutuhan darurat berbeda dengan tabungan untuk pendidikan.

Tabungan untuk membeli kendaraan berbeda dengan persiapan dana masa pensiun.

Tujuan yang brbeda membuat cara mengelola uang juga dapat berbeda.

Karena itu, tabungan sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai uang yang tidak boleh disentuh.

Tabungan adalah bagian dari perencanaan keuangan.

Ia memberikan ruang bagi seseorang atau keluarga untuk menghadapi kebutuhan yang belum terjadi.

Dan ketika kehidupan menghadirkansesuatu yang tidak terduga, uang yang sudah disiapkan sebelumnya dapat memberikan pilihan yang lebih luas.

Menabung Juga Berkaitan dengan Perekonomian

Menariknya, keputusan seseorang untuk menabung bukan hanya memiliki arti bagi dirinya sendiri.

Dalam perekonomian, tabungan rumah tangga merupakan salah satu sumber dana ang dapat mendukung kegiatan ekonomi.

Dana yang disimpan di lembaga keuangan, misalnya, dapat menjadi bagian dari sumber pembiayaan bagi dunia usaha melalui mekanisme intermediasi keuangan.

Dengan kata lain, uang yang pada awalnya hanya kita lihat sebagai tabungan pribadi dapat memiliki perjalanan yang lebih panjang dalamperekonomian.

Ia dapat membantu membiayai kegiatan usaha, investasi, dan aktivitas ekonomi lainnya.

Di sini kita melihat bahwa keputusan sederhana di rumah dapat memiliki hubungan dengan kegiatan ekonomi yang lebih luas.

Ekonomi ternyata memang tidak jauh dari kehidupan sehari-hari.

Tidak Semua Orang Memiliki Ruang enabung yang Sama

Namun ada satu hal yang perlu kita pahami dengan adil.

Kemampuan menabung setiap keluarga tidak sama.

Ada keluarga dengan pendapatan relatif stabil. Ada yang pendapatannya tidak tetap.

Ada yang memiliki sedikit tanggungan. Ada yang harus membiayai banyak anggota keluarga.

Ada yang kebutuhan pokoknya rlatif rendah. Ada pula yang menghadapi biaya kesehatan, pendidikan, atau kebutuhan lainnya yang besar.

Karena itu, tidak tepat jika kemampuan menabung hanya dilihat sebagai persoalan kemauan.

Pendapatan, harga kebutuhan, jumlah tanggungan, kondisi pekerjaan, dan berbagai keadaan kehidupan ikut menentukan kemampuan seseorang utuk menyisihkan uang.

Pemahaman ini penting agar pembicaraan tentang menabung tidak berubah menjadi sekadar nasihat.

Ekonomi selalu memiliki konteks.

Dari Uang Hari Ini ke Kehidupan Esok

Mungkin kita tidak dapat selalu menyisihkan uang dalam jumlah besar.

Tetapi memahami hubungan antara pendapatan, konsumsi, dan abungan membuat kita melihat pengelolaan uang dengan cara yang berbeda.

Kita mulai menyadari bahwa setiap rupiah memiliki tujuan.

Ada uang untuk kehidupan hari ini.

Ada uang untuk kebutuhan yang tidak terduga.

Dan ada uang yang disiapkan untuk kehidupan yang belum datang.

Pada akhirnya, persoalan menabung bukan hanya tentan seberapa banyak uang yang kita miliki.

Ia juga tentang bagaimana kita membagi waktu penggunaan uang tersebut: berapa untuk hari ini, berapa untuk kebutuhan yang belum terlihat, dan berapa untuk masa depan.

Mungkin itulah sebabnya menyisihkan uang terasa tidak mudah.

Hari ini selalu datang lebih dahulu.

Masa depan masih menuggu.

Namun, justru karena masa depan belum terlihat, sebagian dari pendapatan hari ini perlu diberi kesempatan untuk sampai kepadanya.

Sebab uang yang kita sisihkan hari ini bukan sekadar uang yang tidak kita belanjakan.

Ia adalah bagian kecil dari kehidupan hari ini yang kita titipkan kepada masa depan (*).