JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) me­rangkap Kepala Badan Pangan Nasional (Ba­panas) Andi Amran Sulaiman me­ng­a­ta­kan pemerintah menghentikan sementara pro­duksi 25 merek beras fortifikasi yang di­te­mukan bermasalah.

Izin edar produk tersebut juga dicabut, se­mentara pelaku usaha yang terbukti me­la­nggar akan diproses secara hukum. “Su­dah kami kirim kemarin (daftar beras for­ti­fi­kasi bermasalah), ada kalau tidak salah 25 merek. Izinnya dicabut. Kemudian pe­la­kunya diproses,” ujar Amran dalam kon­fe­rensi pers di kediamannya, Jakarta Se­latan.

Amran mengatakn langkah tersebut me­ru­pakan bagian dari penanganan terhadap be­ras fortifikasi yang tidak memenuhi ke­tentuan.

Pemerintah terlebih dahulu melakukan mo­ratorium atau penghentian sementara, di­su­sul pencabutan izin dan proses hukum. “Dimoratoriumkan (produksi 25 merek be­ras fortifikasi bermasalah). Cabut izinnya dulu,” ujar Amran.

Ia mengatakan penetapan tersangka tidak da­pat dilakukan secara langsung karena pro­ses pemeriksaan masih berjalan. Namun, terhadap produk yang terbukti melanggar, pemerintah memiliki kewenangan untuk men­cabut izin edarnya.

“Ya, masa baru kemarin langsung ter­sa­ngka, gimana? Enggak boleh semena-me­na. Kalau dia benar, ya benar, tapi yang me­langgar izinnya saya cabut. Dan kami berhak perintahkan untuk cabut. Karena ka­mi sebagai kepala Bapanas,” ujar Amran.

Amran menyebut penanganan kasus ter­se­but mencakup tiga tahapan, yakni pen­ca­but­an izin, moratorium, dan proses hukum ter­hadap pelaku yang terbukti me­la­ku­kan pe­langgaran. “Kalau moratorium gimana? Ber­henti kan (produksinya)? Terus dicabut izin­nya gimana? Ada tiga proses sana. Cabut izin, moratorium, diproses hukum,” ujarnya.

Bapanas sebelumnya mengungkap te­mu­an 25 merek beras fortifikasi yang ber­ma­salah terkait aspek administrasi, nilai gizi, dan mutu. Puluhan merek tersebut di­mi­liki oleh 11 pelaku usaha.

Berdasarkan hasil pengawasan Bapanas hi­ngga pekan pertama September 2026, se­lu­ruh merek yang bermasalah tersebut telah menghentikan produksi. cnn/mb06