Kondisi air sungai tidak selalu dapat diketahui hanya dari warna dan kejernihannya. Air yang tampak bersih belum tentu terbebas dari mikroorganisme maupun zat tertentu. Untuk mengetahui kondisi sebenarnya, diperlukan rangkaian pemeriksaan yang dimulai dari pengambilan sampel di lapangan hingga pengujian di laboratorium.

Gambaran mengenai proses tersebut menjadi salah satu pengalaman yang diperoleh selama menjalani magang di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan magang tidak hanya berlangsung di dalam laboratorium, tetapi juga mencakup proses pengambilan sampel air sungai di sejumlah titik.

Sebelum menuju lokasi sampling, berbagai perlengkapan perlu dipersiapkan. Botol sampel, alat pengukur pH, perlengkapan pencatatan, serta alat pelindung diri seperti topi proyek dan sepatu keselamatan menjadi bagian dari persiapan. Peralatan tersebut mendukung proses pengambilan sampel agar berjalan sesuai prosedur dan kondisi sampel tetap terjaga hingga sampai di laboratorium.

Dalam satu kegiatan, pengambilan sampel dilakukan di beberapa titik sungai. Setiap lokasi memiliki karakteristik yang berbeda. Ada bagian sungai yang airnya terlihat jernih, sementara di lokasi lain air tampak lebih keruh. Akses menuju titik pengambilan juga tidak selalu mudah. Beberapa lokasi dapat dijangkau dengan cepat, sedangkan lokasi lainnya membutuhkan usaha lebih karena posisi pengambilan berada cukup jauh dari permukaan air, termasuk pengambilan dari jembatan.

Dari kegiatan tersebut terlihat bahwa sampling bukan sekadar mengambil air dan memasukkannya ke dalam botol. Kondisi lapangan, ketepatan titik pengambilan, pencatatan informasi, serta penanganan sampel menjadi bagian penting dalam proses pengujian. Ketika lokasi mudah dijangkau, pengambilan sampel dapat berlangsung relatif singkat. Waktu yang lebih panjang justru sering digunakan untuk perjalanan dari satu titik menuju titik lainnya.

Sampel yang telah diperoleh selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk melalui berbagai pemeriksaan. Di laboratorium DLHK DIY, terdapat sejumlah parameter yang digunakan untuk mengetahui kondisi kualitas lingkungan, antara lain Escherichia coli (E. coli), Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), klorida, klorin bebas, sianida, dan fluorida.

Salah satu pemeriksaan yang memiliki beberapa tahapan adalah analisis E. coli. Proses dimulai dengan persiapan media pertumbuhan bakteri. Sampel kemudian dimasukkan ke dalam media dan diinkubasi pada kondisi yang sesuai. Setelah tahap tersebut, dilakukan pengujian penegasan atau konfirmasi untuk memastikan bakteri yang terdeteksi sesuai dengan target pemeriksaan.

Rangkaian pengujian tersebut menunjukkan bahwa data kualitas air tidak diperoleh melalui satu proses sederhana. Setiap tahap memiliki fungsi dan membutuhkan ketelitian. Penanganan sampel, penggunaan media, kondisi inkubasi, hingga proses konfirmasi harus dilakukan dengan tepat agar hasil yang diperoleh dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya.

Hal menarik lainnya adalah perbedaan antara kondisi air yang terlihat secara kasatmata dan kondisi yang diketahui melalui analisis. Air jernih tidak secara otomatis menunjukkan bahwa kualitasnya baik. Sebaliknya, air yang tampak keruh juga tidak dapat langsung menunjukkan parameter apa yang bermasalah tanpa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Bagi mahasiswa pendidikan kimia, pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai penerapan ilmu yang selama ini dipelajari di bangku perkuliahan. Konsep mengenai analisis kimia, mikrobiologi, pengukuran parameter lingkungan, hingga penanganan sampel tidak lagi hanya dipahami melalui teori, tetapi dapat diamati melalui prosedur kerja secara langsung.

Pengalaman di lapangan juga memperlihatkan bahwa pekerjaan laboratorium memiliki keterkaitan erat dengan kondisi lingkungan. Sampel yang diperiksa di laboratorium berasal dari kondisi nyata di lapangan. Karena itu, kualitas hasil analisis tidak hanya bergantung pada instrumen dan metode, tetapi juga pada bagaimana sampel diperoleh, ditangani, dan dipersiapkan sebelum dianalisis.

Magang di DLHK DIY akhirnya memberikan pemahaman bahwa ilmu kimia memiliki peran dalam membaca kondisi lingkungan yang tidak selalu dapat diamati secara langsung. Dari sungai hingga laboratorium, setiap tahap saling berkaitan untuk menghasilkan informasi mengenai kualitas air.

Sungai mungkin hanya terlihat sebagai aliran air dari permukaan. Namun, di balik kejernihan atau kekeruhannya terdapat berbagai parameter yang membutuhkan pengujian untuk dapat diketahui. Pengalaman mengikuti proses sampling dan pengujian laboratorium memberikan perspektif baru bahwa memahami lingkungan tidak cukup hanya dengan melihat, tetapi juga membutuhkan data, metode, ketelitian, dan ilmu pengetahuan.