JAKARTA – Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik In­do­nesia (Aismoli) mencatat penjualan sepeda motor listrik me­ngalami penurunan sepanjang 2026. Kondisi ter­sebut terjadi di tengah belum adanya kepastian me­ng­enai program insentif dari pemerintah.
Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi mengatakan rencana pem­be­rian insentif yang terus disampaikan pe­merintah sejak awal 2026 turut mem­buat sebagian masyarakat me­na­han pembelian sepeda motor listrik. Pa­da Agustus 2026, Kementerian Ke­u­angan (Kemenkeu) menyatakan telah men­yiapkan anggaran sekitar Rp3 tri­liun untuk program insentif pem­be­lian se­peda motor listrik produksi da­lam negeri. Anggaran tersebut diarahkan un­tuk mendukung pen­yaluran insentif de­ngan target hingga 1 juta unit ken­draan. Pemerintah menyiapkan nilai insentif sekitar Rp3 juta per unit.

Besaran tersebut lebih rendah dibandingkan dengan bantuan pem­be­lian sepeda motor listrik yang men­capai Rp7 juta per unit pada 2024. “Namun, sampai dengan bulan September ini juga belum ada kabarnya. Jadi, sangat menghambat penjualan se­peda motor listrik yang ada di In­do­nesia saat sekarang ini,” ujar Budi di Ja­karta, dikutip Selasa.

Budi mengatakan penjualan se­peda motor listrik pada 2023 masih bera­da di kisaran 15.000 unit karena adop­sinya baru berkembang. Angka ter­sebut kemudian meningkat menjadi se­kitar 77.000 unit pada 2024 seiring de­ngan adanya program subsidi pe­me­rintah.

Pada 2025, penjualan masih men­ca­paisekitar 70.000 unit meskipun ti­dak ada program subsidi. Namun, kinerja penjualan kembali melemah pada 2026, dengan realisasi hingga Agustus yang berada jauh di bawah ca­paian dua tahun sebelumnya.

“Namun, pada 2026 sampai deng­an bulan Agustus, kami sekarang ini baru sekitar 18.900 unit. Jadi, sa­ng­at turun sekali,” jelas Budi.

Menurutnya, ketidakpastian me­ng­enai subsidi menjadi salah satu fak­tor yang membuat calon konsumen me­milih menunggu sebelum membeli. Kon­disi tersebut kemudian turut me­me­ngaruhi aktivitas penjualan di ting­kat dealer.

“Kenapa demikian? Karena men­ya­ngkut kebijakan pemerintah yang ka­dang ada, kadang tidak ada. Ini cu­kup mengganggu industri karena me­mang masyarakat juga banyak yang me­nunggu kapan subsidi akan dibe­ri­kan,” katanya.

Selain persoalan insentif, Budi men­yebut adopsi sepeda motor listrik ma­sih menghadapi sejumlah kendala lain, seperti ketersediaan infrastruktur peng­isian daya (charging station), ja­ri­ngan bengkel, serta akses pem­bi­ayaan yang masih cenderung selektif terhadap kendaraan listrik.

Aismoli mencatat populasi sepeda mo­tor listrik di Indonesia telah men­capai sekitar 280.000 unit scara ku­mulatif sejak 2022 hingga 2026. Namun, jumlah tersebut masih sangat minim dibandingkan dengan pasar sepeda motor konvensional berbasis in­ternal combustion engine (ICE) yang mencapai sekitar 5 juta-6 juta unit per tahun. bisn/mb06