JAKARTA – Beras merupakan sa­lah satu makanan pokok mas­yarakat Indonesia. Namun, tidak se­mua beras memiliki kan­du­ng­an gizi tambahan yang sama. Sa­lah satu jenis yang mulai ban­yak diperbincangkan adalah be­ras fortifikasi.

Bagaimana tidak, Menteri Per­tanian (Mentan) sekaligus Ke­palaBadan Pangan Nasional (Ba­panas) Andi Amran Sulaiman mengungkap temuan ter­hadap 25 merek beras for­ti­fi­kasi diduga tidak sesuai dengan sta­ndar dan kandungan yang ter­can­tum pada label, sehingga me­ru­gikan konsumen hingga Rp89 tri­liun.

Secara sederhana, beras for­tifikasi merupakan beras yang mendapatkan penambahan zat gizi tertentu untuk meningkatkan kandungan nutrisinya.

Sementara itu, beras yang tidak difortifikasi tidak men­da­pat­kan tambahan zat gizi tersebut da­lam proses produksiya. Per­be­daan tersebut membuat beras for­tifikasi dan beras biasa me­mi­liki karakteristik kandungan gizi yang berbeda.

Apa Itu Beras Fortifikasi? Di­lansir dari Loov Food, beras for­tifikasi adalah beras yang di­tambahkan zat gizi tertentu se­la­ma proses produksinya.

Penambahan tersebut ber­tu­juan untuk meningkatkan nilai gi­zi beras sehingga dapat mem­bantu memenuhi kebutuhan nut­r­isi masyarakat.

Fortifikasi dapat dilakukan de­ngan menambahkan zat gizi se­perti vitamin dan mineral ter­tentu sesuai dengan standar dan ketentuan yang berlaku. Beras for­tifikasi memiliki tujuan yang be­r­beda dengan beras premium. Pro­duk tersebut bukan semata-ma­ta dibuat untuk meningkatkan ku­a­litas beras dari sisi tekstur, aroma, tau tampilan, melainkan un­tuk menambah kandungan zat gizi.

Dalam konteks pemenuhan gizi masyarakat, beras fortifikasi da­pat ditujukan untuk membantu kel­ompok yang membutuhkan dukungan asupan nutrisi.

Lantas Apa Itu Beras Tidak For­tifikasi? Beras tidak for­ti­fi­kasi adalah beras yang tidak men­da­patkan tambahan zat gizi me­lalui proses fortifikasi.

Kandungan nutrisi dalam be­ras tersebut pada dasarnya be­ra­sal dari beras itu sendiri. Jum­lah vitamin dan mineralnya dapat berbeda-beda ter­gan­tu­ng­va­ri­etas, proses pengolahan, tingkat penyosohan, serta faktor lain­nya.

Karena tidak melalui proses pe­nambahan zat gizi, beras tidak fortifikasi tidak memiliki kan­du­ng­an vitamin atau mineral tam­bahan yang secara khusus di­ma­sukkan melalui proses for­tifi­kasi.

Sebelumnya, Menteri Per­ta­nian (Mentan) merangkap Kepala Badan Pangan Nasional (B­a­pa­nas) Andi Amran Sulaiman me­ngungkap temuan 25 merekberas ya­ng diduga tidak memenuhi ka­dar fortifikasi sesuai dengan kla­im pada label.

Temuan itu diperoleh setelah pe­merintah memeriksa 27 merek be­ras fortifikasi melalui empat laboratorium. “Katanya for­ti­fikasi. Setelah kita cek di lab, ada empat lab kredibel. Kita cek ter­nyata tidak sesuai dengan le­vel­nya,” ujar Amran. bisn/mb06