BANJARMASIN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Selatan (Kalsel) terus berupaya memperkuat perlindungan masyarakat dari dampak kesehatan akibat paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Dinkes Kalsel Diauddin mengatakan, penanganan dampak karhutla tidak hanya dilakukan melalui pelayanan kesehatan, tetapi juga dengan memperkuat edukasi dan upaya pencegahan agar masyarakat memahami cara melindungi diri dari paparan asap.
“Dalam menghadapi karhutla, masyarakat perlu memahami pencegahan menjadi bagian yang sangat penting. Kami terus melakukan edukasi agar masyarakat mengetahui risiko paparan kabut asap dan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi kesehatan,” ujarnya, Selasa (15/9).
Dinkes Kalsel mengedukasi kesiapsiagaan menghadapi musim karhutla di sejumlah kelompok masyarakat, mulai dari lingkungan sekolah, pondok pesantren, hingga kelompok lanjut usia (lansia).
Kegiatan tersebut antara lain dilaksanakan di Tahfidzul Quran Terpadu An Najah, Cindai Alus, kemudian Pondok Modern An Najah Putri di Kabupaten Banjar, lalu di SMP dan SMA Tahfidz Quran Taman Cinta Alquran, Kabupaten Barito Kuala, serta Panti Werdha Suaka Kasih.
Menurutnya, edukasi menjadi penting karena paparan kabut asap dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
“Kelompok rentan harus mendapatkan perhatian lebih. Karena itu edukasi kami tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga anak-anak di sekolah, santri, tenaga pengajar, hingga penghuni panti werdha,” katanya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, dinkes juga memberikan dukungan berupa masker dan Leaflet Siaga Karhutla.
Di Tahfidzul Quran Terpadu An Najah diberikan 10 boks masker dewasa, sementara di Pondok Modern An Najah Putri juga dibagikan 10 boks masker. Edukasi di SMP dan SMA Tahfidz Quran Taman Cinta Alquran masing-masing mendapatkan empat boks masker beserta Leaflet Siaga Karhutla.
Sementara di Panti Werdha Suaka Kasih, edukasi diberikan kepada seluruh 21 penghuni panti, disertai pembagian empat boks masker sebagai bentuk dukungan perlindungan diri dari paparan asap karhutla.
Diauddin pun menegaskan, masyarakat perlu mengambil langkah perlindungan diri ketika kualitas udara mulai terdampak asap, salah satunya dengan menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi asap memburuk.
“Masker merupakan salah satu bentuk perlindungan diri yang perlu digunakan ketika masyarakat harus beraktivitas di luar rumah dalam kondisi berasap. Namun yang tidak kalah penting adalah mengurangi paparan, terutama bagi kelompok rentan,” ujarnya.
Ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk segera memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan kesehatan yang berkaitan dengan paparan asap, seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, atau keluhan lainnya yang semakin berat.
“Jangan menunggu kondisi menjadi parah. Apabila muncul keluhan kesehatan, segera berkonsultasi atau mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan terdekat,” ucap Diauddin.
Menurutnya, penanganan dampak karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Pemerintah terus melakukan upaya kesiapsiagaan, sementara masyarakat diharapkan ikut menjaga kesehatan diri, keluarga, dan lingkungan.
“Yang paling penting bagaimana kita bersama-sama mengurangi risiko kesehatan akibat karhutla. Pemerintah hadir melalui edukasi dan pelayanan kesehatan, sementara masyarakat juga harus aktif melindungi diri dan keluarganya,” pungkasnya. ant/yos
