BANJARMASIN – Kondisi Jalan Lingkar Selatan atau Jalan Gubernur Soebarjo yang menghubungkan Banjarbaru, Kabupaten Banjar, hingga ke wilayah pesisir yang dinilai gelap di malam hari dan rawan kecelakaan menjadi sorotan.

Anggota DPRD Kalimantan Selatan Komisi III HM Rosehan NB SH menyebutkan, ada dua faktor utama yang membuat ruas jalan ini berbahaya, yakni sebagian titik penerangan jalan umum atau PJU belum berfungsi atau bahkan belum terpasang, dan jarak pandang yang tiba-tiba menurun drastis akibat kabut asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Masalah ini harus segera menjadi perhatian kita semua. Tidak adanya sebagian PJU di sepanjang Jalan Lingkar Selatan, namun juga diperparah dengan kondisi akibat kabut asap karhutla ekstrem sejak pertengahan Agustus 2026,” ujarnya, Selasa (8/9).

Menurut mantan Wakil Gubernur Kalsel ini, kombinasi jalan gelap dan jarak pandang terbatas membuat pengendara tidak memiliki cukup waktu untuk mengantisipasi kendaraan di depannya. Akibatnya, kecelakaan beruntun dan tabrakan fatal kerap terjadi.

Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan menunjukan setidaknya ada tiga peristiwa besar dalam beberapa pekan terakhir di ruas yang sama.

Pertama pada akhir Agustus 2026, seorang pengendara motor berinisial A (31), meninggal di tempat setelah menabrak bagian belakang truk dump. Saat kejadian, kawasan Jalan Lingkar Selatan tertutup kabut asap pekat yang mereduksi jarak pandang secara drastis.

Kedua, di wilayah Tatah Makmur, sebuah mobil pick up menabrak truk dari belakang pada malam hari. Kecelakaan itu menewaskan pengemudi pick up di lokasi kejadian.

Ketiga, pada 30 Agustus 2026, terjadi kecelakaan yang melibatkan truk angkutan berat dan bus pariwisata di kawasan Jalan Gubernur Soebardjo. Beruntung seluruh penumpang bus dilaporkan selamat, meski kedua kendaraan mengalami kerusakan cukup parah.

Peristiwa terbaru terjadi pada 5 September 2026. Tabrakan antara mobil pick up dan truk terjadi di Jalan Gubernur Soebarjo, tepatnya di Desa Layap Baru, Kecamatan Tatah Makmur. Benturan keras membuat salah satu kendaraan terpental dan menabrak pagar rumah warga di tepi jalan.

“Ini bukan kebetulan. Polanya jelas. Malam gelap, siang berkabut. Pengendara tidak bisa melihat dari jauh,” kata Rosehan.

Ia menyebutkan, Jalan Lingkar Selatan atau Gubernur Soebarjo merupakan jalur vital untuk distribusi logistik dan mobilitas warga. Setiap harinya, ruas ini dilintasi kendaraan berat seperti truk kontainer, bus antarkota, hingga kendaraan pribadi.

Namun, minimnya penerangan membuat pengendara terutama pengendara motor, sangat rentan. Ditambah pada musim kemarau 2026, badan penanggulangan bencana daerah mencatat titik api dan karhutla meningkat sejak pertengahan Agustus, sehingga kabut asap sering menyelimuti jalan sejak pagi.

Rosehan mendorong pemerintah pusat melalui balai jalan nasional, Pemprov Kalsel, dan pemerintah kabupaten, untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap PJU di sepanjang JL Gubernur Soebarjo,

“PJU itu bukan pelengkap. Ini soal nyawa. Kalau listriknya ada tapi lampunya mati atau tiangnya belum di pasang, sama saja kita membiarkan jalan ini jadi jebakan,” tegasnya.

Sambil menunggu perbaikan infrastruktur, Rosehan pun mengimbau masyarakat yang melintas di jalan tersebut untuk lebih waspada.

“Pengendara di imbau mengurangi kecepatan dan menjaga jarak aman. Waspadai kondisi jalan yang minim penerangan pada malam hari, serta potensi gangguan jarak pandang akibat kabut asap di musim kemarau,” ujarnya.

Ia juga meminta perusahaan angkutan dan bus pariwisata yang melintas agar memastikan kondisi kendaraan prima, terutama lampu utama dan lampu rem agar terlihat oleh kendaraan lain.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak balai jalan nasional terkait rencana penambahan PJU dan penanganan darurat kabut asap di ruas tersebut.

Warga sekitar berharap pemerintah tidak menunggu ada korban lagi baru bertindak. Karena bagi mereka, Jalan Lingkar Selatan atau Gubernur Soebarjo bukan hanya sekadar jalan, tetapi urat nadi ekonomi yang seharusnya aman untuk dilalui siang maupun malam. rds/yos