ULM Sebut Alumni Terbaik yang Berjasa Bangun Kalsel
BANJARMASIN – Mantan Gubernur Kalimantan Selatan H Rudy Ariffin yang memimpin provinsi ini selama dua periode pada 2005-2010 dan 2010-2015 berpulang ke rahmatullah di Rumah Sakit Amanah Banjarmasin, Ahad (6/9), sekitar pukul 11.00 WITA, meninggalkan jejak pembangunan bagi Banua.
Kabar duka tersebut diterima ANTARA melalui WAG Info Emergency di Banjarmasin, kemarin, yang menyebut H Rudy Ariffin bin H Bachrun Ariffin meninggal dunia pada usia 73 tahun di RS Amanah Banjarmasin.
Jejak rekam Rudy Ariffin dikenal sebagai salah satu tokoh pemerintahan daerah Kalsel yang memiliki perjalanan panjang, setelah sebelumnya menjabat Bupati Banjar selama dua periode sebelum dipercaya memimpin pemerintahan Provinsi Kalsel.
Selama satu dekade memimpin Kalsel, Rudy bersama wakilnya mendorong pembangunan di berbagai sektor, antara lain infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan pertanian yang menjadi bagian penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Arsip ANTARA mencatat salah satu capaian pada periode pertama kepemimpinannya adalah program bebas buta aksara yang telah dicapai pada 2008, atau setahun lebih awal dari target. Pada periode yang sama, pertumbuhan ekonomi Kalsel meningkat dari sekitar lima persen menjadi 6,5 persen.
Dari sisi fiskal daerah, APBD Kalsel yang ketika Rudy pertama kali menjabat gubernur sekitar Rp800 miliar meningkat menjadi sekitar Rp2,5 triliun pada akhir periode pertamanya. Pada penghujung masa kepemimpinannya, APBD kemudian mencapai sekitar Rp5,5 triliun.
Peningkatan kemampuan anggaran tersebut turut mendorong pembangunan infrastruktur. Sejumlah proyek strategis yang diperjuangkan pada masa kepemimpinan Rudy antara lain pembangunan jalan dan flyover di Banjarmasin, pengembangan Bandara Syamsudin Noor serta rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Laut dengan daratan Kalimantan.
Di sektor pertanian, Kalsel pada masa kepemimpinannya juga diarahkan untuk memperkuat peran sebagai salah satu lumbung pangan nasional. ANTARA mencatat produksi padi Kalsel lebih dari dua juta ton pada 2014 dengan surplus beras sekitar 600 ribu ton.
Penguatan pembangunan juga terlihat dari penurunan angka kemiskinan. Pada 2013, angka kemiskinan Kalsel tercatat sekitar enam persen, turun dari lebih dari tujuh persen pada 2005, sementara APBD meningkat menjadi sekitar Rp4,5 triliun.
Setelah tidak lagi menjabat gubernur, Rudy tetap dikenal sebagai tokoh Banua dan masih aktif memberikan pandangan mengenai pembangunan daerah. Dalam sejumlah pemberitaan ANTARA, dia disebut sebagai mantan gubernur dua periode dan tokoh yang memiliki pengalaman panjang dalam pemerintahan daerah.
Kepergian Rudy Ariffin kemudian diikuti rangkaian penghormatan terakhir. Jenazah dijadwalkan diberangkatkan dari RS Amanah menuju Masjid Al-Jihad Banjarmasin untuk dishalatkan setelah Zuhur, kemudian dibawa ke rumah duka di Banjarbaru dan kembali dishalatkan di Masjid Agung Al-Karomah Martapura setelah Ashar sebelum dimakamkan di Taman Makam Bahagia, Landasan Ulin.
Sementara, pihak Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengenang mendiang H Rudy Ariffin sebagai salah satu alumni terbaik selaku tokoh yang berjasa membangun daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) lewat kepemimpinannya menjadi gubernur.
“Tentu kita semua kehilangan, almarhum sosok panutan yang banyak jasanya untuk kemajuan Kalsel dan almamater,” kata Rektor ULM Prof Ahmad Alim Bachri di Banjarmasin.
Ahmad mengakui berbagai kebijakan pembangunan Rudy Ariffin saat menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Selatan dari 2005 hingga 2015 kini menjadi monumental.
Satu di antaranya membangun pusat perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru hingga akhirnya ibukota provinsi berpindah dari Banjarmasin ke Banjarbaru.
Kemudian menerbitkan Perda No 3 Tahun 2008 yang melarang truk batu bara melintas di jalan negara disambut suka cita masyarakat yang selama ini resah dengan keberadaan angkutan besar dari tambang karena dinilai rawan mengakibatkan kecelakaan lalu lintas.
Sebagai alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) ULM, Rudy Ariffin juga tak pernah lupa dengan almamater tempat dia menimba ilmu di pendidikan tinggi.
Saat menjadi gubernur, Rudy Ariffin menggagas berdirinya Program Studi Kedokteran Gigi (PSKG) di Fakultas Kedokteran ULM tahun 2009 melalui dukungan penuh pemerintah provinsi.
Kini Program Studi Kedokteran Gigi telah berkembang hingga menjadi Fakultas Kedokteran Gigi yang menjadi salah satu fakultas bergengsi di ULM dah telah mencetak 745 dokter gigi untuk memenuhi kebutuhan tenaga dokter gigi di daerah.
Di masa pensiunnya dari panggung politik selepas menjadi gubernur, Rudy Ariffin banyak menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta.
Pada 19 Agustus 2026 lalu, dia menghadiri gathering alumni Fisip ULM lintas angkatan di salah satu cafe di Banjarbaru.
Di acara ini pula, teman-temannya di bangku kuliah merayakan secara sederhana ulang tahun sang alumni kebanggaan yang menginjak usia 73 tahun.
Turut hadir kala itu mantan Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Abdul Haris Makkie yang juga alumni Fisip ULM.
Selamat jalan Rudy Ariffin, jasamu akan selalu dikenang masyarakat Kalimantan Selatan, sosok pemimpin rendah hati menorehkan tinta emas untuk kemajuan daerah di Bumi Lambung Mangkurat. ant
