JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi mencapai 3,19% secara tahunan (year on year/YoY) pada Agustus 2026. Kenaikan ini mengerek Indeks Harga Konsumen (IHK) dari posisi 108,51 pada Agustus 2025 menjadi 111,97 pada Agustus tahun ini.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BS, Ateng Hartono, mengemukakan bahwa laju inflasi tahunan pada bulan kedelapan tahun ini utamanya terkerek oleh tiga kelompok pengeluaran dominan, yakni kelompok makanan, perawatan pribadi, dan transportasi.
“Pertama, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 3,86% dan memberi andil inflasi sebesar 1,13%,” paparnya dalam rilis berita resmi statistik di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa.
Ateng merincian, komoditas yang menjadi biang kerok utama penyumbang inflasi pada kelompok pangan tersebut meliputi daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, beras, cabai rawit, daging sapi, hingga cabai merah. Produk tembakau seperti sigaret kretek mesin (SKM), sigaret kretek tangan (SKT), dan sigaret putih mesin (SPM) turut memberikan andil yang signifikan.
Kedua, kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melesat dengan inflasi sebesar 9,25% YoY, menyumbang andil 0,63% terhadap inflasi umum. Lonjakan harga emas perhiasan menjadi kontributor utama.
Ketiga, kelompok pengeluaran transportasi tercatat mengalami inflasi sebesar 4,79% YoY dengan andil 0,58%. Kenaikan tarif angkutan udara, harga bensin, pelumas mesin, hingga harga kendaraan bermotor (mobil dan sepeda motor) menjadi pendorong utamanya.
Lebih lanjut, Ateng mengungkapkan bahwa seluruh komponen pembentuk inflasi mencatatkan tren kenaikan secara tahunan. Pertama, komponen Inti (core inflation) mengalami inflasi 2,92% YoY dan memberikan andil terbesar yakni 1,87%.
Penyumbang dominannya mencakup perhiasan emas, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop, serta pelumas mesin. Kedua, harga diatur pemerintah (administered prices) mencatatkan inflasi 3,32% YoY dengan andil 0,65%. Komponen ini dipicu oleh penyesuaian harga bensin, melambungnya tarif angkutan udara, tarif SKM, dan bahan bakar rumah tangga.
Ketiga, harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 4,06% dengan sumbangan andil 0,67%. Gejolak harga ini didominasi oleh pergerakan harga daging ayam ras, beras, cabai rawit, daging sapi, serta cabai merah.
Adapun untuk inflasi bulanan sebesar 0,21 persen didorong oleh makanan, minuman dan tembakau yang tercatat 0,57 persen dengan andil 0,17 persen. “Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok tersebut adalah daging ayam ras andil 0,17 persen, kemudian cabai rawit, ikan segar dan juga beras dengan andil masing-masing 0,02 persen serta kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, sigaret kretek mesin atau putih dengan andil masing-masing 0,01 prsen ,” ujar Ateng. bisn/mb06
