BALIKPAPAN – Dari sebuah da­pur sederhana berukuran tiga ka­li tiga meter, Astuti belajar bah­wa keterbatasan tidak selalu me­n­jadi akhir dari sebuah usaha. Jus­tru dari ruang sempit itulah, ia menemukan cara untuk me­ng­ubah persoalan menjadi pe­lu­a­ng dan perlahan membangun ke­mandirian ekonomi kel­u­ar­ga­nya.

Sebagai nasabah PNM Me­kaar, Astuti merintis usaha olah­an jamur tiram dengan se­ga­la keterbatasan yang di­mi­li­ki­nya. Baginya, memulai usaha bu­kan sekadar tentang me­ng­ha­silkan pendapatan, juga tentang ba­gaimana memastikan dapur te­tap mengepul dan kebutuhan ke­lu­arga dapat terus terpenuhi.

Perjalanan itu tidak selalu mulus. Salah satu persoalan ya­ng kerap dihadapinya adalah hasil panen jamur tiram yang ti­dakseluruhnya terserap pasar. Ke­tika jamur segar tidak habis ter­jual, ada risiko bahan pangan ter­sebut terbuang begitu saja.

Namun, ia memilih untuk tidak berhenti pada persoalan. Ia mulai memutar cara. Jamur yang sebelumnya berpotensi men­jadi sisa diolah kembali men­jadi Jamur Krispi dan Stik Jamur. Langkah sederhana itu membuat hasil panen memiliki umur simpan lebih panjang se­kaligus menciptakan produk de­ngan nilai jual baru.

“Dulu saya hanya berpikir bagaimana jamur yang tak habis ter­jual tidak terbuang. Sekarang sa­ya tahu, dari sesuatu yang ham­pir terbuang itu, bisa tumbuh sebuah usaha, harapan untuk ke­luarga, bahkan manfaat untuk ban­yak orang,” ujar Astuti.

Bagi Astuti, perubahan ter­se­but bukan hanya soal ber­tam­bahnya jenis produk. Ia mulai me­lihat usahanya dengan cara ya­ng berbeda. Masalah pasar yang se­belumnya menjadi tantangan jus­tru mendorongnya untuk le­bih kreatif dalam mengolah pro­duk dan mencari nilai tambah dari apa yang sudah dimiliki.

Di titik inilah pemberdayaan men­jadi penting. Pembiayaan me­mberikan ruang bagi pe­ngusaha ultra mikro utuk bergerak, sementara pen­dam­pi­ngan membantu mereka me­ne­mukan cara agar usaha tersebut dapat terus bertumbuh. Kom­bi­nasi keduanya menjadi bagian dari pendekatan PNM dalam men­dampingi nasabah agar tidak ber­henti hanya pada akses modal.

Perjalanan Astuti menun­jukkan bagaimana dampak sebuah usaha dapat berkembang me­lampaui urusan jual beli. Ketika usahanya semakin tum­buh, kepercayaan dirinya pun ikut berkembang. Ia kemudian di­percaya memegang peran se­baai Ketua Klasterisasi Bank Sam­pah di Kampung Madani, Waru, Penajam.

Peran ini menjadi babak ba­ru dalam perjalanan Astuti. Jika sebelumnya ia sibuk memastikan jamur hasil panen tak terbuang, kini ia mengajak masyarakat di lingkungannya melihat barang yang dianggap tak bernilai men­jadi sesuatu yang mem­be­rikan manfaat.

Dari seorang ibu rumah tangga yang berusaha mnye­la­mat­kan sisa panen, Astuti kini men­jadi penggerak kepedulian ling­kungan di kampungnya.

Perubahan itu mem­per­li­hatkan, pemberdayaan ekonomi dapat melahirkan dampak yang lebih luas ketika penerimanya me­miliki kesempatan untuk tum­buh dan kemudian memberi manfaat kembali kepada ling­kungan sekitar. rep/mb06