MARTAPURA – Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Selatan, H Hasnuryadi Sulaiman menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-20 KH Abdussyukur bin Badrun di Pondok Pesantren Takhassus Darussalam Martapura, Selasa (18/8) malam.
Kehadiran Wagub Kalsel pada kegiatan terebut menjadi bentuk penghormatan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Selatan terhadap kiprah ulama sekaligus upaya memperkuat hubungan antara pemerintah, ulama dan masyarakat.
Haul turut dihadiri Bupati Banjar, H Saidi Mansyur, Wakil Bupati Banjar, Habib Idrus Al-Habsyie serta Gubernur Kalsel periode 2005-2015, H Rudy Ariffin, sejumlah habaib dan ulama yakni Habib Sholeh bin Abdullah Alkaff, KH Hasanuddin Badruddin, KH Abdullah Basya, KH Ahmad Tarhib, KH Ahmad Barmawi (Guru Kulur), Dr KH Muhammad Husein hingga masyarakat.
Wagub Kalsel, H Hasnuryadi Sulaiman mengajak masyarakat menjadikan peringatan Maulid Nabi dan haul sebagai momentum meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT sekaligus memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW.?
“Saya atas nama Pemprov Kalsel menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada para habaib dan alim ulama yang selalu membimbing kami serta memberikan teladan kepada kami,” sampai Wagub Hasnuryadi.
Menurut Wagub, keberadaan pondok pesantren dan para ulama memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga melahirkan guru, alim ulama dan generasi yang berkontribusi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Wagub menilai peran tersebut menjadi bagian penting dalam mendkung pemerintah menjalankan pengabdian kepada masyarakat, agama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Karena itu, Wagub berharap sinergi antara ulama dan pemerintah dapat terus diperkuat untuk membangun Kalimantan Selatan yang religius, harmonis dan penuh kebersamaan.
“Semoga dengan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, kita dapat terus menjalankan apa yang telah diajarkan oleh beliau melalui para habaib, para alim ulama dan guru-guru agama sebagai bekal kita kelak di akhirat,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Wagub juga menyampaikan doa bagi keluarga dan keturunan KH Abdussyukur bin Badrun dan berharap nilai-nilai kebaikan yang diwariskan almarhum dapat terus dilanjutkan oleh geneasi berikutnya.
Wagub memandang, banyak keturunan dan murid beliau yang kemudian menjadi guru dan alim ulama, hal itu menunjukkan bahwa ilmu dan keteladanan yang diwariskan KH Abdussyukur terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami tentunya mendoakan dan mendukung semampu kami agar kita semua dapat terus menjalankan apa yang telah diajarkan oleh beliau,” pungkasnya.
Haul ke-20 tersebut menjadi momentum untuk kembali mengenang perjalanan hidup dan pengabdian KH Abdussyukur bin Badrun yang dikenal sebagai ulama alim, fakih, wara’ dan zuhud.
KH Abdussyukur, yang juga dikenal dengan sebutan Abu Muhammad Madani atau Abah Dani, lahir di Kampung Melayu, Martapura, pada 25 Juni 1930. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan religius dan menimba ilmu kepada orang tua serta sejumlah ulama di Martapura.
Perjalanan keilmuannya berlanjut di sekolah Diniyyah Izharil Ulum dan Madrasah Darussalam Martapura. Ia kemudian dikenal tekun mendalami berbagai cabang ilmu agama, termasuk fikih, hadis, ushul dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.
KH Abdussyukur dipercaya memimpin Pondok Pesantren Darussalam Martapura pada 1992 hingga 2007. Di bawah kiprahnya, lembaga pendidikan Islam tersebut terus berperan dalam mencetak ulama dan cendekiawan muslim.
Dalam tausyiahnya, KH Muhammad Syarif Busthomi atau Guru Oton menyampaikan sejarah Masjid Darussalam memiliki sejarah panjang dan tidak terlepas dari jasa serta kontribusi almarhum H Sulaiman HB atau yang akrab disapa Abah Hasnur.
Guru Oton mengingatkan para santri agar tidak membatasi cita-cita dan terus memperluas pengetahuan. “Raih ilmu itu sebanyak-banyaknya. Jangan dicukup-cukup,” ungkap Guru Oton tersenyum.
Guru Oton juga menekankan pentingnya semangat berusaha dalam kehidupan dan mencari rezeki dengan bekerja dan berusaha bukanlah sesuatu yang memalukan.
Dalam kesempatan itu, Guru Oton juga mengenang tradisi keilmuan para guru dan santri terdahulu yang tekun mempelajari berbagai kitab dan semangat tersebut diharapkan menjadi teladan bagi generasi santri saat ini agar bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. adp/ani
