JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) me­ngungkap alasan harga beras masih naik di sejumlah daerah meski penguasaan beras oleh Perum Bulog cukup besar.

Bapanas menilai per­so­alan­nya bukan semata pada keter­se­di­aan stok, tetapi juga pada se­be­rapa cepat beras tersebut di­dis­tribusikan untuk me­ng­in­ter­ven­si harga di pasar.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan Bu­log perlu mempercepat dan mem­perluas penyaluran beras Sta­bilisasi Pasokan dan Harga Pa­ngan (SPH), terutama ke pa­sar, serta memastikan bantuan pa­ngan alokasi Juli-September ter­salurkan tepat waktu.

“Karena kalau teman-teman (Bulog) kebanyakan (me­n­ya­lur­kan beras SPHP) di RPK ke­mu­di­an di pasarnya sedikit, tentu IPH (indeks perkembangan har­ga)-nya akan naik. Oleh karena itu tolong pakai strategi agar ma­sif­kan di pasar-pasar untuk SPHP di bulan Agustus, Se­p­tem­ber dan Oktober ini dan se­te­rus­nya,” kata Ketut dalam Rapat Ko­or­dinasi Pengendalian Inflasi Dae­rah Tahun 2026.

Menurut Ketut, penyaluran SPHP yang terlalu banyak me­la­lui Rumah Pangan Kita (RPK) se­mentara distribusi ke pasar ma­sih terbatas dapat membuat in­ter­vensi terhadap harga tidak op­timal. Karena itu, Bulog diminta me­m­prioritaskan pasar sebagai lo­kasi penyaluran SPHP.

Selain SPHP, bantuan pa­ng­an untuk alokasi tiga bulan juga di­nilai perlu disalurkan sesuai pe­nu­gasan. Ketut mengatakan ke­dua intervensi tersebut jika di­la­ku­kan tepat waktu semestinya dapat membantu mengendalikan IPH beras di daerah.

Ketut juga meminta pe­me­rin­tah daerah (pemda) memantau har­ga beras setiap hari dan ber­ko­ordinasi dengan Bulog ketika ter­jadi kenaikan harga.

Ia mengatakan pemerintah akan mengganti biaya distribusi SPHP yang dikeluarkan Bulog. Pe­nggantian tersebut berlaku un­tuk berbagai moda transportasi, mu­lai dari kereta, kendaraan umum, feri, kontainer hingga pe­sawat.

“Bulog di manapun men­dis­tri­bu­sikan beras SPHP akan di­gan­ti oleh pemerintah. Mau naik ke­reta, mau naik kendaraan umum, mau nyewa, mau naik fe­ri, mau naik kontainer, mau naik pe­sawat pun diganti oleh pe­me­rin­tah,” ujarnya.

Dengan skema tersebut, Ketut mengatakan tidak ada ala­san bagi Bulog untuk tidak me­la­kukan intervensi, kecuali ter­da­pat kendala keamanan. Untuk ko­n­disi tersebut, Bulog dapat ber­koordinasi dengan Polri dan TNI.

Ketut kembali mengingatkan B­u­log agar memanfaatkan peng­uasaan beras yang besar sebagai instrumen intervensi harga. Ia me­nilai stok yang besar perlu diikuti distribusi yang cepat ke wilayah yang mengalami ken­a­ik­an harga.

Bapanas meminta Bulog tak han­ya mengandalkan besarnya penguasaan stok, tetapi me­mas­ti­kan beras tersebut segera ma­suk ke wilayah dan pasar yang mem­butuhkan. “Jadi sekali lagi mo­hon karena kalau setiap mi­ng­gu kita melihat IPH beras te­rus, mestinya kita agak malu, ini ka­rena kita menguasai beras ban­yak tapi harusnya segera bisa kita la­kukan intervensi secepatnya di ma­napun di Indonesia,” ujar Ketut.