JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mewaspadai potensi kenaikan harga beras seiring prediksi fenomena El Nino dalam beberapa bulan ke depan.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan eofisika (BMKG), Indonesia dihadapkan pada prediksi El Nino hingga awal kuartal. Kondisi tersebut juga berpotensi disertai fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) pada September-Desember 2026.
Menurut Ateng, potensi kekeringan perlu menjadi perhatian karena curah hujan yang rendah dapat memengaruhi produksi pangan dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga.
Ateng mencontohkan kondisi pada 2023 ketika Indonesia mengalami curah hujan rendah yang berkaitan dengan fenomena El Nino. Pada September 2023, inflasi beras tercatat mencapai 5,61%. “Karena kalau kita cermati, kita pernah mengalami inflasi yang cukup tinggi pada saat adanya El Nino. Ingat di tahun 2023 yang lalu pada saat adanya curah hujan yang rendah atau identik dengan El Nino, itu terutama terjadi pada bulan September dan di bulan September tersebut ini teradi inflasi yang cukup tinggi untuk beras, yaitu 5,61%,” kata Ateng dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah disiarkan di YouTube Kemendagri, Selasa.
Dia mengatakan kenaikan harga beras memberikan andil cukup besar terhadap inflasi. Selain pada September 2023, inflasi beras juga tercatat mencapai 5,32% pada Februari 2024.
Dengan potensi El Nino hingga awal kuartal dan IOD pada September-Desember 2026, BPS meminta perkembangan harga pangan terus dicermati, terutama ketika curah hujan berada pada level yang relatif rendah sesuai dengan perkiraan BMKG. “Dengan demikian yang perlu kita waspadai, kita cermati di bulan-bulan depan pada saat terjadinya kondisi curah hujan yang relatif minimal seperti perkiraan tadi BMKG,” tuturnya.
Berdasarkan paparan BPS mengenai perkembangn inflasi beras periode 2021-2026, tekanan harga relatif terkendali dalam beberapa periode.
Namun, kondisi berubah ketika El Nino memengaruhi pola cuaca dan produksi pertanian pada 2023 hingga awal 2024. Inflasi beras melonjak 5,61% pada September 2023 dan kembali mencapai 5,32% pada Februari 2024.
BPS mengaitkan tekanan tersebut dengan curah hujan yang lebih rendah akibat El Nino pada September 2023 hingga Februari 2024. Kondisi yang lebih kering berdampak terhadap produksi pertanian di sejumlah wilayah, termasuk melalui gagal panen dan penundaan masa panen.
Penurunan produksi dan tertundanya panen kemudian menekan ketersediaan pasokan beras sehingga mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Memasuki 2026, tekanan harga beras masih tercatat meskipun lebih rendah dibandingkan periode puncak dampak El ino. Pada Juli 2026, BPS mencatat inflasi beras sebesar 0,49% dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,02%. Sementara itu, hingga pekan kedua Agustus 2026, kenaikan harga beras mulai terjadi di lebih banyak daerah. BPS mencatat terdapat 120 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras. bisn/mb06
