Perubahan mekanisme seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026 memunculkan keresahan di kalangan pelajar. Ketika peserta menuju tingkat nasional semakin ditentukan berdasarkan peringkat terbaik secara nasional, muncul pertanyaan: apakah setiap siswa di Indonesia benar-benar memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya?
Pertanyaan tersebut bukan berarti peserta dengan nilai terbaik tidak layak melaju. Seleksi nasional tetap membutuhkan standar yang tinggi dan objektif, tetapi proses panjang sebelum seleksi berlangsung belum tentu dialami peserta dalam kondisi yang sama.
Siswa di Jakarta Selatan, misalnya, dapat memiliki akses yang lebih dekat terhadap berbagai komunitas olimpiade, lembaga pembinaan, mentor, tryout, dan sumber belajar. Sementara itu, siswa di Kalimantan Selatan atau daerah lain mungkin harus lebih banyak mengandalkan pembinaan sekolah dan belajar secara mandiri.
Ini bukan persoalan siapa yang lebih pintar. Potensi tidak mengenal provinsi, tetapi kesempatan untuk mengembangkan potensi dapat dipengaruhi oleh lingkungan tempat seorang siswa belajar.
Perbedaan tersebut juga bukan sekadar asumsi. BPS melalui Statistik Pendidikan 2025 menyediakan data pendidikan hingga tingkat provinsi, mencakup berbagai indikator seperti sekolah, ruang kelas, sanitasi, dan guru.
Pemerintah juga masih melakukan intervensi untuk mengatasi persoalan akses. Pada 2026, Kemendikdasmen menyalurkan akses internet Starlink kepada sekolah di Nias Utara untuk memperkuat konektivitas pendidikan di wilayah 3T.
Penelitian dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan yang menggunakan data dari 38 provinsi juga menemukan hubungan positif antara infrastruktur digital dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Artinya, fasilitas digital dapat berkaitan dengan kesempatan sekolah untuk memanfaatkan sumber pembelajaran yang lebih luas.
Hal ini menjadi penting dalam kompetisi sains karena persiapan peserta tidak hanya membutuhkan kemampuan. Peserta juga membutuhkan waktu, mentor, sumber belajar, latihan soal, komunitas, dan lingkungan yang mendorong mereka untuk terus berkembang.
Seorang siswa yang memiliki pembinaan rutin dan mentor berpengalaman tentu menjalani proses persiapan yang berbeda dengan siswa yang harus mencari sebagian besar materi secara mandiri. Kemampuan mereka belum tentu berbeda, tetapi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan tersebut bisa berbeda.
Karena itu, sistem sebelumnya, ketika tiga peserta terbaik dari setiap provinsi memiliki kesempatan menuju tingkat nasional, patut kembali diperbincangkan. Sistem tersebut memang memiliki kelemahan karena tingkat persaingan setiap provinsi berbeda, tetapi ada satu hal yang ditawarkannya: representasi daerah.
Dengan adanya wakil dari setiap provinsi, lebih banyak daerah memiliki kesempatan membawa talenta terbaiknya ke panggung nasional. Kesempatan tersebut bukan hanya tentang berkompetisi, tetapi juga tentang membawa pengalaman nasional kembali ke daerah asal.
Di sisi lain, sistem peringkat nasional juga memiliki alasan yang kuat. Peserta dapat dibandingkan menggunakan standar yang sama, sehingga peluang untuk menemukan siswa dengan performa terbaik secara nasional tetap terbuka.
Dalam OSN 2026, misalnya, tahap final setiap cabang diikuti oleh 60 peserta dengan nilai terbaik dari semifinal. Sistem seperti ini menunjukkan bahwa proses menuju tahap akhir memang sangat kompetitif.
Namun, standar yang sama tidak otomatis berarti kesempatan yang sama. Jika kondisi pembinaan dan akses belajar sejak awal berbeda, maka yang perlu diperbaiki bukan hanya sistem seleksinya, tetapi juga kesempatan yang dimiliki siswa sebelum memasuki seleksi.
Bukan berarti setiap daerah harus mendapatkan jatah peserta tanpa mempertimbangkan kemampuan. Bukan pula berarti standar kompetisi perlu diturunkan.
Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana standar nasional tetap tinggi sekaligus memastikan lebih banyak siswa memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri menuju standar tersebut. Salah satu caranya dapat berupa penguatan pembinaan di daerah dan mekanisme representasi yang tetap memiliki ukuran kemampuan yang jelas.
Representasi daerah juga dapat menghasilkan dampak yang lebih panjang. Seorang siswa yang berhasil mencapai tingkat nasional dapat membawa pengalaman tersebut kembali ke sekolahnya dan membagikannya kepada siswa lain melalui mentoring, bedah soal, komunitas belajar, atau OSN Club.
Dari satu peserta dapat muncul beberapa peserta baru. Dari peserta baru tersebut, mungkin lahir kembali talenta yang mampu mencapai tingkat nasional pada tahun berikutnya.
Inilah yang dapat disebut sebagai regenerasi talenta daerah. Peserta nasional tidak hanya menjadi hasil akhir dari sebuah seleksi, tetapi juga menjadi sumber pengalaman bagi generasi berikutnya.
Guru tetap memiliki peran utama sebagai pembina. Sekolah dan pemerintah dapat memperkuatnya melalui jaringan mentor, pelatihan daring, sumber belajar, komunitas antarsekolah, serta keterlibatan alumni OSN.
Dengan mekanisme tersebut, prestasi seorang siswa tidak berhenti pada sertifikat atau medali. Pengalaman yang diperolehnya dapat menjadi pengetahuan yang berputar kembali ke lingkungan pendidikan tempat ia berasal.
Mencari talenta terbaik tetap penting. Namun, pencarian tersebut akan lebih bermakna jika dibarengi dengan usaha memastikan bahwa talenta dari berbagai daerah memiliki kesempatan yang cukup untuk ditemukan dan dikembangkan.
Indonesia mungkin tidak kekurangan anak berbakat. Yang menjadi tantangan adalah memastikan bahwa tempat seorang anak tumbuh tidak terlalu menentukan seberapa jauh ia dapat mengembangkan bakatnya.
OSN tidak harus memilih antara prestasi dan pemerataan. Standar nasional dapat tetap tinggi, sementara kesempatan pembinaan diperluas agar semakin banyak anak dari berbagai daerah memiliki peluang untuk mencapai standar tersebut.
Sebab, kompetisi yang baik bukan hanya tentang menemukan siapa yang paling unggul, tetapi juga tentang menciptakan kesempatan agar lebih banyak anak Indonesia dapat tumbuh menjadi unggul.
