Berbagai agama mengajarkan bahwa segala sesuatu tidak muncul secara kebetulan, melainkan lahir dari kehendak Sang Pencipta. Dengan demikian, seluruh makhluk yang tampak beraneka ragam sesungguhnya berasal dari “rahim” penciptaan yang sama. Jika asal kita satu, maka pada hakikatnya kita semua adalah sesama iptaan yang bersaudara.
MUNGKIN agak aneh tedengarannya suatu ungkapan bahwa alam yang terdiri dari berbagai jenis ini pada dasarnya adalah satu. Namun begitulah hakikatnya. Alam semesta yang kita saksikan hari ini-gunung dan lautan, pohon dan binatang, manusia dan bintang-bintang-berasal dari sumber yang sama, yaitu Yang Maha Esa.
Perbedaan yang kita lihat hanyalah pada bentuk, fungsi, dan cara menjalani kehidupan. Air mengalir, pohon berakar, burung terbang, manusia berpikir. Masing-masing memiliki karakter dan tugas yang berbeda, tetapi semuanya berada dalam satu jalinan kehidupan yang saling menopang.
Tidak ada makhluk yag benar-benar hidup sendirian. Pohon menghasilkan oksigen yang dihirup manusia, lebah menyerbuki bunga agar tumbuhan berkembang biak, tanah menjadi tempat tumbuh tanaman yang kemudian menjadi sumber pangan bagi seluruh makhluk.
Kehidupan ternyata bekerja seperti sebuah orkestra besar: setiap makhluk memainkan perannya sehinga melahirkan harmoni semesta.
Al-Qur’an menggambarkan kesatuan itu dengan sangat indah. Allah berfirman, “Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi” (QS. al-Baqarah [2]: 284). Ayat ini tidak hanya menegaskan kepemilikan Allah atas seluruh alam, tetapi juga menunjukkan bahwa semua makhluk brada dalam satu ikatan ketuhanan yang sama.
Pada ayat lain dijelaskan bahwa seluruh makhluk bertasbih kepada-Nya, meskipun manusia tidak selalu mampu memahami cara mereka bertasbih (QS. al-Isra’ [17]: 44). Dengan kata lain, seluruh alam sedang menjalankan pengabdian yang sama kepada Tuhan, meskipun dengan bahasadan cara yang berbeda-beda.
Pandangan seperti ini sesungguhnya melahirkan cara pandang yang sangat berbeda terhadap alam. Pohon bukan sekadar kayu yang dapat ditebang sesuka hati. Sungai bukan hanya saluran air yang boleh dicemari. Gunung bukan sekadar tempat mengambil hasil tambang tanpa batas. Semuanya adalah sesama mahluk yang sedang menjalankan amanah penciptaannya. Mereka bukan benda mati yang tidak bernilai, melainkan bagian dari keluarga besar ciptaan Tuhan yang memiliki hak untuk hidup sesuai dengan ketetapan-Nya.
Sayangnya, manusia modern sering memandang dirinya sebagai pusat alam semesta. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknoloi memang memberi kemampuan luar biasa untuk mengubah wajah bumi, tetapi pada saat yang sama melahirkan ilusi bahwa manusialah pemilik tunggal alam. Cara pandang inilah yang perlahan memutus rasa persaudaraan dengan makhluk lain.
Ketika alam dipandang hanya sebagai objek ekonomi, hutan berubah menjadi komoditas, sungai menadi tempat pembuangan limbah, dan satwa liar menjadi sekadar barang dagangan. Hubungan persaudaraan berubah menjadi hubungan penguasaan.
Padahal, jika kita kembali kepada kesadaran bahwa seluruh makhluk berasal dari sumber yang sama, maka relasi kita dengan alam akan berubah secara mendasar. Kita tidak lagi memandang pohonsebagai benda, tetapi sebagai sesama ciptaan. Kita tidak lagi memperlakukan sungai sebagai saluran limbah, melainkan sebagai urat nadi kehidupan.
Kesadaran inilah yang melahirkan kasih sayang ekologis, yaitu sikap menghormati setiap makhluk karena ia adalah bagian dari keluarga besar ciptaan Allah.
Mungkin inilah mana terdalam dari kesatuan alam. Kesatuan bukan berarti semua makhluk memiliki bentuk yang sama, melainkan memiliki asal-usul, tujuan, dan orientasi pengabdian yang sama kepada Sang Pencipta. Dari Yang Maha Satu lahirlah keragaman yang begitu indah, bukan untuk saling meniadakan, melainkan untuk saling melengkapi. Ketika manusia mampu melihat alam sebagai saudara dalam pengabdian kepada Tuhan, saat itulah ia tidak lagi menjadi penguasa yang rakus, melainkan penjaga yang penuh kasih. Sebab, pada akhirnya, mencintai alam bukan sekadar tindakan ekologis, melainkan wujud penghormatan kepada keluarga besar ciptaan Tuhan.
Kesatuan alam tidak brarti menyeragamkan segala sesuatu. Justru sebaliknya, kesatuan itu menghadirkan keragaman. Tuhan tidak menciptakan bumi hanya dengan satu jenis pohon, satu jenis burung, atau satu jenis manusia. Hutan menjadi indah karena terdiri atas ribuan spesies yang saling melengkapi. Laut menjadi lestari karena dihuni oleh beragam mkhluk dengan fungsi yang berbeda-beda. Demikian pula manusia. Perbedaan suku, bahasa, warna kulit, bahkan cara hidup merupakan bagian dari sunnatullah yang menjadikan kehidupan berjalan seimbang. Keragaman bukanlah lawan dari kesatuan, melainkan cara Tuhan menampilkan keindahan kesatuan-Nya.
Al-Qur’an berkali-kali megajak manusia membaca keragaman sebagai ayat, tanda-tanda kebesaran Allah. Pergantian siang dan malam, beragam warna tumbuhan, aneka jenis buah-buahan, perbedaan bahasa dan warna kulit manusia, hingga keberagaman makhluk yang melata di bumi semuanya disebut sebagai tanda bagi orang-orang yang mau berpikir. Keragaman bukanlah kekacauan, melainkan sebuah keteraturan yang menunjukkan bahwa seluruh alam bekerja di bawah hukum Tuhan yang sama. Semakin beragam ciptaan yang kita saksikan, semakin tampak kebesaran Sang Pencipta yang satu.
Para ulama dan para sufi sejak dahulu memandang alam sebagai cermin yang memantulkan sifat-sifat Allah. atahari memancarkan sifat penerang, air menghadirkan kehidupan, pepohonan menunjukkan kemurahan melalui buah dan oksigen yang mereka berikan, sementara gunung memperlihatkan keteguhan. Tidak satu pun makhluk mampu memantulkan seluruh kesempurnaan sifat Tuhan.
Oleh karena itu, Allah menghadirkan keragaman agar setiap makhlk menjadi kepingan mozaik yang bersama-sama memperlihatkan keagungan-Nya. Seperti warna-warna pada sebuah pelangi, setiap warna berbeda, tetapi justru karena perbedaan itulah keindahan menjadi sempurna.
Pandangan ini mengajarkan bahwa tidak ada makhluk yang tercipta sia-sia. Rumput liar yang sering dianggap mengganggu ternyta menjadi makanan bagi hewan. Serangga kecil yang kerap dibasmi justru membantu penyerbukan tanaman. Jamur dan mikroorganisme yang tak kasatmata bekerja menguraikan sisa-sisa kehidupan agar tanah kembali subur.
Dalam ekologi modern, kenyataan ini dikenal sebagai jejaring kehidupan (web of life), yaitu sistem yang menunjukkanbahwa keberlangsungan hidup setiap makhluk bergantung pada makhluk lainnya. Apa yang diajarkan ilmu pengetahuan hari ini sesungguhnya menguatkan pesan agama bahwa alam adalah satu kesatuan yang utuh.
Kesadaran tentang kesatuan dalam keragaman melahirkan etika yang sangat mendasar: menghormati setiap makhluk sesuai keduduannya. Kita mungkin tidak menyembah pohon, sungai, atau gunung, tetapi kita juga tidak berhak memperlakukannya secara sewenang-wenang.Islam menempatkan manusia sebagai khalifah, bukan pemilik mutlak bumi. Seorang khalifah bertugas menjaga keseimbangan, bukan merusaknya; merawat kehidupan, bukan menghabisinya. Ketika satu baian dari alam dihancurkan tanpa pertimbangan, sesungguhnya keseimbangan seluruh sistem ikut terganggu. Hilangnya satu spesies dapat memengaruhi rantai makanan, rusaknya satu hutan dapat mengubah iklim, dan tercemarnya satu sungai dapat mengancam kehidupan ribuan makhluk.
Di sinilah letak pelajaran terbesar dari kesatuan alam. ersaudaraan antarmakhluk bukanlah sekadar ungkapan puitis, melainkan kenyataan ekologis sekaligus kenyataan spiritual. Kita hidup di dalam rumah yang sama, bernapas dari udara yang sama, meminum air yang sama, dan bergantung pada tanah yang sama. Tidak ada manusia yang benar-benar dapat hidup sendiri. Ketika kita melukai alam sesungguhnya kita sedang melukai jaringan kehidupan yang menopang keberadaan kita sendiri.
Sebaliknya, ketika kita merawat alam, kita sedang menjaga persaudaraan universal yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta sejak awal penciptaan.
“Alam semesta ibarat sebatang pohon besar. Tuhan adalah sumber kehidupan yang menghidupnya, sementara manusia, hewan, tumbuhan, sungai, gunung, dan angin adalah ranting-rantingnya. Ranting yang sehat tidak akan mematahkan ranting yang lain, sebab ia tahu bahwa kerusakan pada satu cabang pada akhirnya akan melemahkan seluruh pohon. Begitulah hakikat kesatuan alam. Kita berbeda bentuk, tetapi berasal dari akar yan sama; kita menjalani peran yang berbeda, tetapi tumbuh dari kehidupan yang satu. Kita sesama makhluk ciptaan-Nya adalah bersaudara” (*)
