Oleh : Rio Feisal
Tekad pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat pertahanan negara dengan menambah alat utama sistem senjata (alutsista) patut disikapi dengan serius.
Pada tahun 2026 saja, Presiden Prabowo menyerahkan enam pesawat tempur Dassault Rafale, empat pesawat tempur Dassault Falcon 8X, dan satu pesawat angkut Airbus A400M Atlas kepada Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto.
Selain itu, terdapat dua unit pesawat T-50i Golden Eagle yang dikirim melalui kargo udara dari Korea Selatan.
Terbaru, Kementerian Pertahanan mengonfirmasi pembelian 12 jet tempur M-346F Block 20 buatan perusahaan Italia, Leonardo, untuk dipakai sebagai pesawat latih bagi penerbang tempur TNI Angkatan Udara.
“Salah satu pertimbangannya adalah memenuhi kebutuhan pelatihan pilot TNI Angkatan Udara sekaligus mendukung kesiapan operasional,” kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait.
Kontrak pembelian 12 jet tempur itu disebut telah ditandatangani dan berjalan efektif. Jika semua berjalan lancar, maka pengiriman belasan alutsista tersebut ke Indonesia akan dimulai pada 2030.
Oleh sebab itu, mengupayakan peningkatan jumlah maupun kualitas penerbang TNI AU menjadi penting.
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono dan jajaran tidak tinggal diam merespons tekad Presiden Prabowo tersebut.
Menambah penerbang
Sejak awal 2026, Kepala Staf TNI AU mulai membangun fondasi terlebih dahulu dengan memberikan pengarahan kepada instruktur penerbang maupun navigator di Pangkalan TNI AU (Lanud) Adisutjipto, Yogyakarta.
Dalam arahan yang disampaikan pada 5 Januari, KSAU memandang perlunya penyesuaian kurikulum Sekolah Penerbang agar lebih efisien serta relevan dengan kebutuhan peperangan modern sehingga para instruktur diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembinaan calon-calon penerbang.
Pada 8 Januari, KSAU kemudian menjalin kolaborasi dengan seluruh sekolah penerbang di Indonesia untuk memasok calon penerbang yang andal.
Hal itu sesuai dengan arahan Presiden Prabowo agar potensi pilot di Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kepentingan pertahanan negara.
Puncaknya, dalam Rapat Pimpinan TNI AU Tahun Anggaran 2026 pada 13 Februari, KSAU menegaskan lima prioritas TNI AU sebagai arah transformasi organisasi dalam menghadapi dinamika lingkungan strategis dan karakter perang modern yang kian kompleks.
Dua dari lima prioritas tersebut adalah modernisasi alat peralatan pertahanan dan keamanan dan peningkatan kualitas SDM.
Tentunya, dua hal tersebut harus berjalan beriringan. Jadi, ketika negara mengupayakan modernisasi alat peralatan pertahanan dan keamanan seperti jet tempur hingga pesawat angkut berat, maka kualitas SDM harus ditingkatkan.
Keinginan TNI AU untuk memenuhi tekad Presiden Prabowo sedikit demi sedikit terlihat progresnya.
Berdasarkan update per 9 April, tercatat 31 penerbang sipil yang direkrut sebagai penerbang TNI AU.
“Saat ini mereka kami fokuskan untuk menjadi penerbang atau pilot pesawat angkut maupun helikopter,” kata KSAU.
Puluhan penerbang tersebut kemudian menjalani pendidikan penyesuaian standardisasi oleh TNI AU di Lanud Adisutjipto.
Tak hanya merekrut SDM penerbang dari luar, TNI AU juga berupaya menambah jumlah penerbang dari internal.
Penambahan tersebut diupayakan TNI AU dengan mengubah kurikulum Akademi Angkatan Udara (AAU) maupun Sekolah Penerbang.
Semula, calon penerbang baru menjalani pendidikan ketika sudah lulus dari AAU. Kini, calon penerbang saat masih di tingkat tiga atau tingkat terakhir AAU sudah dididik untuk menjadi siswa Sekolah Penerbang.
“Kami harap mendapatkan penerbang-penerbang muda yang mempunyai skill, dan nantinya juga bisa kami bina menjadi semakin baik,” kata KSAU.
Di luar itu, TNI AU berupaya memupuk regenerasi penerbang Indonesia sejak usia sekolah dengan memberikan pembekalan terhadap 22 siswa penerima program beasiswa dan akselerasi pendidikan Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI).
Upaya tersebut salah satunya dilakukan oleh Wakil KSAU Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi di SMK 1 Angkasa Lanud Halim Perdanakusuma pada 9 Maret 2026.
Meningkatkan kualitas penerbang
Menambah jumlah penerbang yang dapat diandalkan oleh Indonesia memang penting, tetapi penerbang yang saat ini sudah ada tidak boleh dilupakan. Kalimat tersebut rupanya seperti menjadi pengingat oleh TNI AU saat ini.
Hal itu terbukti dengan capaian ribuan jam terbang yang dicapai oleh sejumlah penerbang selama Januari-Agustus tahun ini.
Salah satu di antaranya adalah Mayor Penerbang Fulgentius Dio “Lizard” Prakoso yang membukukan total 2.000 jam terbang dengan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon.
Kemudian, Mayor Penerbang Yerick “Otter” Ardyan Finandhita yang membukukan total 2.000 jam terbang dengan menggunakan pesawat tempur T-50i Golden Eagle.
Ada juga Mayor Penerbang Ahmad “Jaglion” Finandika Nur Rasyid yang menorehkan total 1.000 jam terbang dengan pesawat Sukhoi SU-27/30.
Selain mereka, sejumlah perwira TNI AU sukses terbang solo. Beberapa di antaranya adalah Letnan Dua Penerbang Fahmi Reyhansyah dan Letnan Dua Penerbang Farhan Ramadhan yang mengawaki pesawat tempur EMB-314 Super Tucano.
Berikutnya, Letnan Satu Penerbang Muhammad Ervin Adamy, Letnan Satu Penerbang Dentang Perdana, dan Letnan Dua Penerbang Muhammad Rizal Fahlevy yang sukses menerbangkan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon, serta Letnan Dua Penerbang Derievo Muhammad Zakwan yang terbang dengan menggunakan pesawat tempur T-50i Golden Eagle.
Selanjutnya, Letnan Satu Penerbang Dofandya Abdul Rachlien Syukur serta Letnan Dua Penerbang Alliyan Mahfudz yang menggunakan pesawat Sukhoi SU 27/30.
Dan ada Letnan Kolonel Penerbang Oliv Rizando, Letnan Kolonel Penerbang Rakhmanto Jati, Mayor Penerbang Reza Yori, dan Mayor Penerbang Andy Paulus yang berhasil terbang solo dengan menggunakan pesawat tempur Dassault Rafale.
Kesuksesan tersebut sebaiknya tidak dimaknai sebagai pencapaian individual semata, tetapi menjadi capaian bagi TNI AU secara organisasi karena SDM yang dimiliki semakin berpengalaman.
Tentu capaian-capaian tersebut juga berguna dalam rangka pertahanan negara seiring dengan modernisasi atau penambahan alutsista di masa Presiden Prabowo.
Hal itu juga sejalan dengan pernyataan Presiden ketika menyerahkan sejumlah alutsista kepada TNI, “Kita harus terus tingkatkan kekuatan pertahanan kita sebagai penangkal dan detterent. Kita tidak punya kepentingan selain untuk menjaga wilayah kita sendiri.” (ant)
