“Sahabat” sering kita pahami sebagai teman akrab yang hadir dalam suka dan duka; sosok yang memberi arah ketika kita tersesat, menguatkan ketika kita lemah, dan tetap berjalan bersama saat kita berada di jalan yang benar. Karena itu, kualitas seorang sahabat sangat menentukan kualitas kehidupan seseorang.

Rasulullah SAW menggambarkan pentingnya memilih sahabat melalui sebuah perumpamaan yang sangat indah. Beliau bersabda, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi.

Pembawa minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi, atau engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau mendapatkan bau harum darinya.

Sedangkan peniup api pandai besi bisa jdi membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” (HR. al-Bukhari No. 5534; Muslim No. 2628). Hadis ini selama ini lebih sering dipahami dalam konteks memilih lingkungan pergaulan antarmanusia.

Namun, pernahkah kita membayangkan bahwa kata “sahabat” juga dapat kita perluas maknanya kepada alam tempat kita hidup?

Pertanyaan itu terasa tidak lazim, sebab manusia modern cenderung memandang alam hanya sebagai kumpulan benda mati yang tersedia untuk dimanfaatkan. Gunung dipandang sebatas tumpukan batu, hutan sekadar cadangan kayu, sungai hanya saluran air, sementara pepohonan dinilai dari nilai ekonominya.

Cara pandang seperti ini menjadikan hubungan manusia dengan alam bersifat sepihak: manusia mengambil, sementara alam terus memberi. Akibatnya, ketika alam mengalami kerusakan, manusia tidak merasa sedang menyakiti seorang sahabat, melainkan sekadar menghabiskan sebuah sumber day.

Padahal, dalam beberapa riwayat, Rasulullah SAW memperlihatkan bahwa alam bukan sekadar latar kehidupan manusia, melainkan makhluk Allah yang memiliki hubungan kedekatan dengan manusia beriman. Salah satu kisah yang paling menyentuh adalah tentang batang pohon kurma yang dahulu menjadi tempat Nabi bersandar ketika menyampaikan khutbah. Ketika kemudian dibuatkan mimbar baru dan Nabi tidak lagi bersandar padanya, batang kurma itu menangis merintih hingga suaranya terdengar oleh para sahabat.

Jabir bin Abdillah meriwayatkan bahwa pohon tersebut menangis karena berpisah dari majelis dzikir dan khutbah Rasulullah SAW, hingga akhirnya beliau turun dan memeluknya sehingga tangisnya berhenti (HR. al-Bukhari No. 3584).

Kisah ini mengajarkan bahwa alam memiliki cara yang hanya Allah ketahui untuk menunjukkan kedekatan dan penghormatannya kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

Demikian pula kisah persahabatan Raslullah SAW dengan Gunung Uhud. Ketika memandang gunung tersebut, beliau bersabda, “Haza jabalun yu?ibbuna wa nu?ibbuh”, “Ini adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya.” (HR. al-Bukhari No. 4083/4084; Muslim No. 2466). Kalimat yang singkat itu sesungguhnya menyimpan pesan yang sangat dalam.

Rasulullah tidak memperlakukan gunung sebagai benda yang asing dan tak bernilai, tetapi sebagai makhluk Allah yang terikat dalam hubungan cinta. Dalam pandangan kenabian, alam bukan hanya tempat berpijak, melainkan bagian dari jejaring kehidupan yang sama-sama tunduk, bertasbih, dan mengabdi kepada Sang Pencipta.

Riwayat-riwayat tersebut membuka cara pandang baru tentang hubungan manusia dengan lingkungan. Alam tidak digambarkan sebagai lawan yang harus ditaklukkan ataupun objek yang bebas dieksploitasi, melainkan sebagai sahabat yang menemani perjalanan hidup manusia. Seorang sahaba tidak disakiti, tidak dikhianati, apalagi dirusak demi kepentingan sesaat. Ia dihormati, dirawat, dan dijaga keberadaannya.

Barangkali di sinilah letak salah satu akar krisis ekologis yang kita hadapi hari ini: manusia telah berhenti memandang alam sebagai sahabat. Ketika rasa persahabatan itu hilang, eksploitasi menjadi tampak wajar, dan kerusakan pun dianggap sebagai harga yang harus dibayar atas nama kemajuan.

Saat lingkungan terasa saat ini tengah mengalami krisis, persahabatan dengan alam kembali harus kita wujudkan. Mari kita menanam pohon, mengurangi sampah plastic, menjaga sumber-sumber air bersih dan menghematnya, melindungi keanekaragaman hayati, dan membangun budaya menghormati alam sejak dalam ruang keluarga, arena tempat ibadah, hingga dunia lingkungan Pendidikan. (*)