Oleh: Adiba Alqalami
Fenomena minimnya murid baru di sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) menjadi perhatian di berbagai daerah. Bahkan, terdapat sekolah yang tidak memperoleh satu pun peserta didik baru pada tahun ajaran ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah penduduk usia sekolah, tetapi juga perubahan orientasi masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan bagi anak-anak mereka.
Berkurangnya jumlah anak usia sekolah memang menjadi salah satu penyebab. Penurunan angka kelahiran, meningkatnya usia rata-rata penduduk, dan urbanisasi membuat jumlah calon peserta didik di sejumlah wilayah terus menurun. Akibatnya, beberapa SD negeri mengalami kekurangan murid hingga pemerintah mempertimbangkan kebijakan ‘regrouping’ atau penggabungan sekolah. Namun solusi tersebut juga bukan tanpa masalah karena dapat membuat jarak sekolah menjadi lebih jauh dan menyulitkan akses pendidikan bagi sebagian siswa.
Di sisi lain, terdapat fenomena yang tidak kalah menarik, yakni semakin banyak orang tua yang memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta, terutama sekolah yang memberikan porsi lebih besar pada pendidikan agama. Bagi banyak orang tua, pendidikan bukan hanya tentang kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan akhlak, pembiasaan ibadah, dan lingkungan yang dinilai lebih kondusif untuk membentuk karakter anak.
Pilihan tersebut tidak lahir tanpa alasan. Maraknya kenakalan remaja, perundungan, penyalahgunaan narkoba, hingga berbagai bentuk kekerasan yang melibatkan anak sekolah menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Orang tua menginginkan lingkungan pendidikan yang tidak hanya mampu mencerdaskan, tetapi juga menjaga moral dan kepribadian anak. Karena itu, sekolah yang memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan agama dinilai mampu memberikan rasa aman dan ketenangan bagi para orang tua.
Sayangnya, perubahan kurikulum yang silih berganti belum mampu menjawab kegelisahan tersebut. Perbaikan yang dilakukan lebih banyak menyentuh aspek teknis pembelajaran, sementara persoalan pembentukan karakter peserta didik masih menjadi tantangan besar. Akibatnya, kepercayaan sebagian masyarakat terhadap sekolah negeri perlahan bergeser, bukan karena kualitas akademiknya semata, tetapi karena mereka mencari pendidikan yang dianggap mampu membentuk kepribadian anak secara utuh.
Dalam pandangan Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi oleh negara. Negara berkewajiban menyediakan pendidikan yang berkualitas, merata, dan dapat diakses seluruh rakyat tanpa membedakan latar belakang ekonomi. Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki kepribadian Islam yang kokoh sehingga mampu menjadi pribadi yang bertakwa sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, persoalan minimnya murid di sejumlah SD negeri tidak cukup diselesaikan hanya dengan menggabungkan sekolah atau memperbaiki tata kelola administrasi. Yang lebih penting adalah menghadirkan sistem pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, yakni pendidikan yang tidak hanya menghasilkan anak-anak cerdas, tetapi juga berakhlak mulia. Ketika pendidikan mampu membentuk karakter sekaligus memberikan ilmu yang berkualitas, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan akan tumbuh kembali, dan tujuan pendidikan yang sesungguhnya pun dapat terwujud.
