MARTAPURA – RSUD Ratu Zalecha Martapura menerapakan inovasi PAIS PATIN (Pelayanan Anak Terpadu Beserta Ibu dan Neonatal) yang mengintegrasikan layanan kesehatan anak, ibu hamil, dan bayi baru lahir dalam satu sistem pelayanan pencegahan stunting.

Inovasi yang mulai diterapkan sejak awal 2025 tersebut mengedepankan skrining, pelayanan terpadu, hingga sistem rujukan berjenjang agar anak berisiko stunting dapat ditangani lebih cepat dan komprehensif, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas profesi kesehatan.

Dokter Ahli Gizi RSUD Ratu Zalecha Martapura sekaligus inovator PAIS PATIN, dr Taufik Rahmadi di Martapura, Kabupaten Banjar, Kamis, mengatakan inovasi itu lahir sebagai respons terhadap tingginya prevalensi stunting di Kabupaten Banjar yang sempat mencapai sekitar 30 persen.

“Pais Patin merupakan inovasi pelayanan kesehatan yang memfokuskan penanganan stunting secara terintegrasi melalui skrining, pelayanan terpadu dan sistem rujukan berjenjang,” katanya saat menjadi narasumber talkshow di Radio Suara Banjar, milik pemerintah setempat.

Dia menjelaskan, layanan tersebut memiliki tiga fungsi utama, yakni mendeteksi balita yang berisiko mengalami stunting melalui skrining sejak dini, memberikan pelayanan kesehatan terpadu kepada anak, ibu hamil dan bayi baru lahir, serta memastikan proses rujukan medis berjalan cepat, tepat, dan terintegrasi di lingkungan rumah sakit.

Melalui PAIS PATIN, pasien tidak lagi harus berpindah-pindah layanan untuk memperoleh penanganan. Anak maupun ibu hamil dapat berkonsultasi dengan dokter anak, dokter gizi, serta tenaga kesehatan lainnya dalam satu kali kunjungan sehingga penanganan dan upaya pencegahan stunting menjadi lebih efektif.

Sejak diluncurkan, inovasi tersebut juga diperkuat melalui kerja sama dengan puskesmas di Kabupaten Banjar guna memantau perkembangan anak yang dirujuk ke rumah sakit, sekaligus mengevaluasi efektivitas intervensi gizi yang diberikan secara berkelanjutan.

“Tahun ini layanan juga berkembang melalui pemanfaatan telemedicine menggunakan aplikasi Komen (Konsultasi Media Online) yang dikembangkan Kementerian Kesehatan RI, sehingga konsultasi dapat dilakukan secara lebih mudah,” ujar Taufik.

Menurut dia, sinergi antara pemerintah daerah, puskesmas, dan RSUD Ratu Zalecha mulai menunjukkan hasil. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, prevalensi stunting telah menurun dari sekitar 30 persen menjadi 23 persen, meski masih berada di atas target nasional di bawah 14 persen.

Karena itu, Taufik menegaskan keberhasilan menurunkan angka stunting membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, terutama dalam memantau tumbuh kembang anak selama seribu hari pertama kehidupan yang menjadi periode paling menentukan terhadap kualitas kesehatan anak.

“Kami mengimbau para orang tua agar memperhatikan asupan gizi anak, rutin membawa balita ke posyandu, dan segera berkonsultasi ke puskesmas atau RSUD Ratu Zalecha apabila menemukan kendala dalam pertumbuhan maupun perkembangan anak,” katanya.

Ke depan, RSUD Ratu Zalecha juga berencana membuka kelas edukasi di sejumlah puskesmas di Kabupaten Banjar untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemenuhan gizi dan pencegahan stunting sejak dini. ant