BANYAK orang mengira bahwa perubahan musim hanyalah sebuah gejala alam biasa. Di negara kita, misalnya, perubahan dari musim hujan ke musim kemarau adalah hal alamiah yang harus diterima apa adanya. Itu sudah takdir, sehingga berbagai dampaknya pun harus dihadapi dengan lapang dada, bersabar, dan pasrah.
Anggapan ini tidak seluruhya keliru. Namun jika kita meminjam penjelasan ilmu klimatologi dan sekaligus ajaran Islam, perubahan musim tidak berdiri sendiri. Ia dapat menjadi akibat dari rangkaian sebab yang panjang, salah satunya adalah perilaku manusia yang tidak arif dalam memperlakukan bumi. Dengan kata lain, takdir bukanlah sesuatu yang selalu jatuh dari langit tanpa keterlibatan manusia. Takdir adalah mekanisme ebab-akibat yang di dalamnya manusia turut mengambil peran.
Ilmu klimatologi menjelaskan bahwa musim merupakan hasil interaksi berbagai sistem alam, mulai dari pergerakan matahari, sirkulasi atmosfer, arus laut, hingga kondisi tutupan hutan. Selama ribuan tahun mekanisme ini berjalan relatif stabil.
Namun dalam beberapa dekade terakhir, pola tersebut mulai mengalami gangguan. Pemanasan globl akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca membuat musim semakin sulit diprediksi. Hujan turun di luar jadwal, kemarau menjadi lebih panjang, suhu meningkat, dan berbagai bencana hidrometeorologi semakin sering terjadi.
Dengan demikian, yang berubah bukan sekadar musimnya, melainkan keseimbangan sistem bumi yang menopang kehidupan manusia.
Ironisnya, gangguan itu sebagian besar merupakan hasi dari aktivitas manusia sendiri. Deforestasi, pembakaran hutan, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, pencemaran udara, serta penggunaan energi fosil tanpa kendali telah mengubah komposisi atmosfer bumi. Alam kemudian merespons sesuai hukum yang telah ditetapkan Tuhan. Ketika keseimbangan dirusak, keseimbangan itu akan mencari bentuk baru, meskipun sering kali menghadirkan bencana agi manusia.
Iman kepada takdir dalam Islam sesungguhnya tidak pernah dimaksudkan untuk melahirkan sikap fatalistis. Justru sebaliknya, keimanan kepada takdir harus berjalan beriringan dengan ikhtiar. Nabi Muhammad saw. mengajarkan agar seseorang terlebih dahulu mengikat untanya, kemudian bertawakal kepada Allah.
Pesan hadis ini menunjukkan bahwa tawakal bukanlah sikap menyerahkan segala sesuau tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil setelah melakukan ikhtiar terbaik.
Dalam konteks perubahan musim, doa memohon hujan atau cuaca yang baik tetap penting, tetapi doa tidak dapat menggantikan kewajiban menjaga hutan, mengurangi pencemaran, menghemat energi, dan merawat sumber-sumber air. Mengabaikan ikhtiar sambil berlindung di balik alasan takdir bukanlah bentuk keimanan yang sempurna,melainkan kesalahpahaman terhadap makna takdir itu sendiri.
Di sinilah Islam menawarkan cara pandang yang menarik tentang takdir. Dalam banyak kesempatan, takdir sering dipahami sebagai sesuatu yang bersifat mutlak sehingga manusia cukup menerima tanpa ikhtiar.
Padahal Al-Qur’an justru memperkenalkan adanya sunnatullah, yaitu hukum-hukum Allah yang bekerja secara tetap di alam semesta. Allh menciptakan dunia dengan keteraturan, bukan dengan kesewenang-wenangan. Siapa pun yang menanam akan menuai, siapa pun yang merusak akan menerima akibat kerusakannya. Alam bekerja mengikuti hukum yang telah Allah tetapkan.
Karena itu, takdir dalam banyak urusan kehidupan tidak dapat dilepaskan dari hukum sebab-akibat. Seorang petani tidak akan memperoleh panen hanya dengan mengatakan bahwa rezki telah ditentukan Allah. Ia tetap harus mengolah tanah, memilih benih terbaik, memupuk, dan merawat tanamannya.
Demikian pula masyarakat tidak dapat hanya menyebut banjir, kekeringan, atau cuaca ekstrem sebagai takdir jika pada saat yang sama hutan ditebang tanpa kendali, sungai dipenuhi sampah, dan udara dipenuhi emisi karbon. Apa yang disebut sebagai takdir sering kali merupakan konsekuensilogis dari pilihan manusia sendiri.
Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat jelas.
Allah berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar” (QS. ar-Rum: 41). Ayat ini menarik karena tidak menyalahkan alam, melainka menunjuk manusia sebagai faktor utama munculnya kerusakan. Bencana ekologis bukan semata-mata fenomena alam, tetapi juga cermin dari cara manusia memperlakukan ciptaan Tuhan.
Dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri (QS. ar-Ra’d: 11). Pesan ini menunjukkan bahwa perubahan nasib merupakn perpaduan antara kehendak Allah dan usaha manusia. Doa, tawakal, dan kepasrahan tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan tanggung jawab. Sebaliknya, ketiganya justru harus melahirkan ikhtiar yang lebih besar.
Pemahaman seperti ini sesungguhnya melahirkan optimisme. Bila sebagian perubahan musim dipengaruhi oleh tindakan manusia, berarti manusia juga memiliki kesempatan untuk memperbaiinya. Mengurangi emisi karbon, melindungi hutan, menanam pohon, menjaga sungai, menghemat energi, dan mengurangi sampah bukan sekadar tindakan ekologis, melainkan juga bagian dari ikhtiar keagamaan. Merawat bumi berarti menghormati hukum-hukum Allah yang bekerja di alam semesta.
Sudah saatnya kita mengubah cara memahami kata “takdir”. Takdir bukan alasan untuk berhenti berpikir dan berhenti ertindak. Takdir adalah panggilan agar manusia memahami hukum-hukum Allah, kemudian bertindak sesuai dengan hukum tersebut.
Musim memang datang atas izin Tuhan, tetapi kualitas musim yang kita rasakan sangat mungkin dipengaruhi oleh cara kita memperlakukan bumi.
Barangkali yang sesungguhnya perlu kita pasrahkan bukanlah kerusakan musim, melainkan ego kita yang selama ini merasa bebas mengeksloitasi alam tanpa batas. Sebab ketika manusia merusak bumi lalu menyebut seluruh akibatnya sebagai takdir Tuhan, yang terjadi bukanlah kepasrahan, melainkan pemindahan tanggung jawab.
Padahal Tuhan telah menetapkan hukum-Nya dengan sangat adil: siapa yang menjaga bumi akan ikut menikmati keberkahannya, dan siapa yang merusaknya akan menuai akibatnya. Dengan demikian, takdir musim bukan sekdar kisah tentang langit, tetapi juga cermin tentang siapa diri kita di hadapan bumi yang dititipkan Allah kepada manusia. Tuhan menitipkan bumi kepada hamba-hamba-Nya yang saleh. (QS al-Anbiya : 105). (*)
