BANDUNG – Penyidik Direktorat PPA dan PPO Polda Jabar menggelar rekonstruksi dalam kasus penyekapan dan penganiayaan perempuan berinisial YTR (29) dengan tersangka Taufik Hidayat (30), di Polda Jabar, Kamis (2/7), seperti dikutip CNNIndonesia.com.

Direktur PPA dan PPO Polda Jabar Kombes Pol Rumi mengatakan ada 21 adegan penyiksaan yang dilakukan Taufik Hidayat kepada YTR.

“Tadi rekonstruksi sudah berjalan dengan baik, lancar, dan alhamdulillah tidak ada penolakan dari tersangka. Tersangka juga mengakui semua perbuatannya di enam TKP,” ujar Rumi.

Dari enam TKP penyiksaan dan penyekapan, hanya tiga tempat yang dilakukan rekonstruksi. Alasannya tiga TKP tersebut jadi sentra poin terjadinya penganiayaan dan penyekapan.

“Karena tiga TKP itulah yang menjadi poin sentral terjadinya penganiayaan dan penyekapan,” kata dia.

Ketiga TKP yang dimaksud berada di wilayah Kabupaten Bandung. Rumi menjelaskan penganiayaan terhadap korban YTR terjadi paling lama dan intens pada rentang waktu sembilan bulan terhitung di 2025 sampai dengan 2026.

Penyiksaan yang dilakukan oleh pelaku di antaranya melakukan penganiayaan berat menggunakan tangan kosong sampai dengan penganiayaan menggunakan benda tumpul dan benda tajam.

“Di antaranya memukul dengan helm, kemudian menggunakan kaki meja berbahan besi di TKP terakhir, kemudian menggunakan golok. Memang korban tidak terlalu mengingat karena dalam kondisi matanya ditutup. Korban hanya mengatakan seperti dipukul dengan benda tajam. Namun dengan temuan di TKP yang matching, itu sesuai dengan kaki meja berbahan besi. Wajah korban juga dipukul menggunakan tangan kosong, tepatnya dengan telapak tangan di bagian pelipis. Itu dilakukan oleh pelaku terhadap korban,” katanya.

Soal kabar yang menyebut bibir korban digunting pelaku, Rumi juga membantah hal tersebut.

“Tidak ada. Pelaku juga tidak mengakui, dan dari fakta yang ada juga tidak ditemukan adanya tindakan menggunting bibir. Jadi kondisi bibir maupun gigi yang rontok itu akibat pukulan berkali-kali. Akibatnya gigi rontok dan bibir rusak karena tidak diobati, sehingga lama-kelamaan kondisinya memburuk,” katanya.

Soal tato yang ada pada tubuh korban, Rumi mengungkap tato tersebut dibuat saat hubungan keduanya baik-baik saja, namun korban sudah dalam kondisi tertekan karena takut terjadi penganiayaan kembali.

“Kalau berdasarkan investigasi, tato itu dibuat saat kondisi mereka masih baik-baik saja. Tujuannya untuk meyakinkan pelaku bahwa korban mencintainya. Karena ada indikasi kecemburuan dari pelaku. Sebagai bukti cinta, mereka membuat tato bersama. Hal itu memang diakui dan sudah dikuatkan juga oleh korban. Tidak ada paksaan secara lisan. Namun dengan kondisi seperti itu, tentunya korban mau tidak mau mengikuti karena takut dipukul. Walaupun secara verbal tidak ada paksaan, kalau kita melihat kondisi psikis korban, tentu ada ketakutan bahwa jika menolak akan mengalami kekerasan,” kata dia.

Rumi juga mengungkap alasan korban tidak mencoba melarikan diri, saat dalam kuasa Taufik. Dari hasil pemeriksaan korban mengakui takut kepada pelaku.

“Karena rasa takut yang sangat besar. Itu memang jawaban yang konsisten dari korban, bahwa ia mengalami ketakutan yang besar,” kata dia.

Sementara Aspidum Kejati Jabar Agus Setiadi mengatakan, pascarekonstruksi ini mereka bakal berkoordinasi penyidik kepolisian untuk proses hukum lebih lanjut termasuk soal adanya penambahan pasal untuk menjerat Taufik.

“Untuk tambahan pasal, nanti kita lihat dulu berkas perkaranya seperti apa. Kemudian seperti yang saya sampaikan tadi, kami akan berkoordinasi dan berdiskusi lagi dengan penyidik,” katanya.

Keluarga korban yang turut hadir dalam rekonstruksi tersebut mengaku apa yang dilakukan Taufik kepada YTR terbilang sadis.

“Mengerikan,” begitu kata kakak kandung Korban, Apip Shandy.

Apip mengaku tak habis pikir Taufik tega menyiksa adik perempuannya tersebut.

“Tanyain aja ke bapaknya, anaknya (Taufik Hidayat) dikasih makan apa bisa sampai kayak gini,” ujarnya dengan nada kesal.

Apa yang dilakukan Taufik Hidayat terhadap korban menurutnya sangat kejam. “Yang paling enteng yang pakai helm (dipukul) ke kepala (korban),” tambahnya. web