Jakarta (ANTARA) – Se­ti­ap kebijakan ekonomi yang baik se­lalu lahir dari satu pondasi ya­ng sama, yakni data yang aku­rat.Pemerintah dapat menyusun ar­ah pembangunan, dunia usaha mam­pu membaca peluang pasar, dan masyarakat memperoleh man­faat pembangunan yang lebih me­ra­ta apabila seluruh keputusan ter­se­but berpijak pada informasi yang lengkap dan dapat diper­caya.

Sebaliknya, ketika data tidak mam­pu menggambarkan kondisi ri­il di lapangan, kebijakan be­ri­si­ko kehilangan presisi dan efek­ti­vitas.

Dalam konteks itulah pe­lak­sa­­n­aan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) menjadi sangat stra­te­gis. Sensus ini bukan sekadar kegiatan statistik yang di­se­le­ng­ga­rakan setiap sepuluh tahun se­kali, melainkan sebuah upaya na­si­onal untuk memotret denyut pe­re­konomian Indonesia secara men­yeluruh.

Melalui pendataan terhadap se­luruh kegiatan usaha di luar sek­tor pertanian, pemerintah mem­peroleh gambaran mengenai struk­tur ekonomi, karakteristik du­nia usaha, perkembangan eko­no­mi digital, hingga arah trans­for­masi ekonomi yang sedang ber­la­ngsung. Data tersebut di­ha­rap­kan menjadi dasar peren­ca­na­an, monitoring, dan evaluasi pem­bangunan yang semakin tepat sa­saran.

Momentum pelaksanaan SE2026 juga bertepatan dengan fa­se penting perjalanan pe­m­ba­ng­unan Indonesia. Pemerintah te­ngah mengakselerasi hilirisasi in­dus­tri, memperluas digitalisasi eko­nomi, memperkuat investasi, men­dorong transisi menuju eko­nomi hijau, sekaligus mem­per­si­apkan fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

Se­luruh agenda besar tersebut mem­butuhkan basis data yang mu­takhir agar kebijakan tidak han­ya didasarkan pada asumsi, me­la­inkan pada realitas ekonomi ya­ng benar-benar terjadi.

Selama satu dekade terakhir, eko­nomi Indonesia menunjukkan ke­ta­hanan yang patut diapresiasi. Mes­kipun menghadapi pandemi COVID-19, ketidakpastian geopolitik, gangguan rantai pa­sok global, dan perlambatan eko­nomi dunia, Indonesia mampu kem­bali mempertahankan per­tum­buhan ekonomi sekitar lima persen.