STOK BERAS – Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan yang diolah Bapanas, total produksi beras pada semester pertama tahun ini diperkirakan mencapai 19,2 juta ton, lebih tinggi dibandingkan kebutuhan konsumsi nasional periode Januari-Juni yang diproyeksikan sebesar 15,4 juta ton. Ini berarti ada surplus beras sebanyak 3,7 juta ton.

JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Ba­panas) menegaskan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga menghadapi potensi mu­sim kemarau dan El Nino melalui pe­ng­uatan cadangan pangan pemerintah (CPP) serta produksi yang masih stabil.

“Pemerintah telah melakukan langkah-la­ngkah antisipatif sejak dini. Kesiapan stok pa­ngan Indonesia berada di status yang cu­kup kuat,” kata Sekretaris Utama (Sestama) Bapanas Sarwo Edhy dikonfirmasi di Ja­karta, Sabtu.

Bapanas memastikan pemerintah telah men­yiapkan berbagai langkah antisipasi un­tuk menjaga ketahanan pangan nasional menghadapi potensi musim kemarau dan fenomena El Nino. Kesiapan tersebut didukung oleh kondisi produksi yang masih terjaga serta ketersediaan CPP yang dinilai memadai.

Upaya tersebut menjadi penting di tengah mulai munculnya dampak El Nino di Papua Nugini sebagaimana dilaporkan sejumlah lembaga internasional.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mem­prediksi puncak musim kemarau di In­do­nesia akan berlangsung pada Juli hingga Sep­tember 2026 dengan peluang terjadinya El Nino.

Pemerintah telah memperkuat stok ca­dangan pangan pemerintah (CPP), terutama stok beras. Termasuk pula stok cadangan pangan pemerintah daerah (CPPD) yang dikelola masing-masing pemerintah daerah.

“Memang ada prediksi El Nino dan mu­sim kering, sehingga kita sudah an­tisipasi daerah-aerah yang defisit itu untuk per­siapan, baik dari produksi maupun stok. Pe­merintah mempunyai CPP dan CPPD, ya­ng dikelola di pemerintah pusat dan di 38 provinsi dan 514 kabupaten kota,” te­rang Sarwo.

Ia juga mengatakan efek El Nino belum begitu kuat dirasakan di Indonesia. Progres per­tanaman pangan masih bertumbuh baik. Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog semakin tinggi dari hasil pen­yerapan panen petani lokal yang kini ter­catat di atas 5 juta ton.

“Terkait dengan cuaca selama ini masih cu­kup normal, sehingga belum berpengaruh terhadap pertanaman. Jadi peningkatan produksi tetap dapat tercapai,” bebernya.

Sarwo mengaku pihaknya juga selalu ber­koordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berk­aitan dengan perubahan cuaca. “Dan kita juga sudah sosialisasi ke para petani untuk melakukan pola tanam sesuai dengan anjuran dari pemerintah,” beber dia.

Ia menyebutkan hingga Juni 2026, berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan yang dio­lah Bapanas, total produksi beras pada se­mester pertama tahun ini diperkirakan men­capai 19,2 juta ton, lebih tinggi di­bandi­ngkan kebutuhan konsumsi nasional pe­riode Januari-Juni yang diproyeksikan se­besar 15,4 juta ton. ant/mb06