JAKARTA – Kenaikan harga ba­han bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax di­nilai berpotensi menekan daya be­li kelompok kelas menengah. Kon­disi ini dikhawatirkan men­do­rong perubahan pola kon­sum­si hingga perpindahan pengguna ke BBM bersubsidi.

Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable De­ve­lop­ment Institute for Dev­e­lop­ment of Economics and Finance (In­def) Abra Talattov meng­a­ta­kan, lonjakan harga Pertamax ya­ng mencapai lebih dari 30 per­sen membuat beban pengeluaran ru­mah tangga kelas menengah me­ningkat, terutama untuk ke­bu­tuhan mobilitas harian.

“Masyarakat kelas me­ne­ng­ah adalah konsumen utama Per­ta­max. Ketika mereka harus mem­bayar Rp16.250 per liter da­r­i harga sebelumnya Rp12.300, terjadi lonjakan pe­ng­eluaran sebesar 32,1 persen un­tuk mobilitas harian. Hal ini me­maksa mereka merogoh ko­cek lebih dalam dan secara oto­ma­tis memangkas porsi anggaran be­lanja untuk kebutuhan pokok la­innya,” kata Abra dalam dis­ku­si daring “Daya Beli Ter­te­kan, Ketahanan Ekonomi Di­per­ta­ruhkan”,

Menurut Abra, dampak ke­na­ikan harga Pertamax terhadap in­flasi nasional memang tidak se­besar jika pemerintah menaikkan har­ga Pertalite ata Solar. Namun, te­kanan yang dirasakan rumah ta­ngga kelas menengah, te­ru­ta­ma di wilayah perkotaan dan dae­rah penyangga, jauh lebih be­sar karena kelompok ini men­ja­di pengguna utama BBM non-sub­sidi.

Data nasional menunjukkan rata-rata pengeluaran masyarakat un­tuk transportasi mencapai 12,46 persen dari total pe­n­da­patan. Di sejumlah wilayah pen­yangga metropolitan, angka ter­se­but bahkan lebih tinggi karena ti­ngginya mobilitas harian pekerja.

Kota Depok tercatat me­mi­li­ki porsi pengeluaran trans­por­tasi tertinggi di Indonesia, yakni men­capai 16,3 persen dari total pe­ngeluaran rumah tangga. Kota Be­kasi, Surabaya, dan sejumlah ka­wasan aglomerasi lainnya juga me­ncatat rasio yang relatif ti­ng­gi. Sebaliknya, DKI Jakarta me­mi­liki rasio pengeluaran tran­s­po­r­tasi yang lebih rendah berkat ke­tersediaan dan integrasi trans­po­rtasi publik yang lebih baik.

Abra menjelaskan, sebelum ke­naikan harga terbaru, peng­gu­naan BBM non-subsidi me­nun­jukkan tren positif. Penjualan ha­rian Pertamax pada tahun lalu tum­buh 20,6 persen, sementara Per­tamax Turbo meningkat 76,6 per­sen.

Menurut dia, tren tersebut didorong meningkatnya ke­sa­dar­an masyarakat terhadap kualitas ba­han bakar, membaiknya daya be­li pascapandemi, serta kei­ng­in­an menghindari antrean pan­ja­ng pada jalur pengisian BBM ber­subsidi. rep/mb6