JAKARTA – Kementerian Per­ta­nian (Kementan) menilai ke­na­ik­an harga bawang merah yang ter­jadi belakangan ini tidak se­ja­lan dengan kondisi pasokan na­si­onal yang dinilai masih men­cu­kupi. Pemerintah menduga per­soalan distribusi menjadi pen­yebab utama lonjakan harga ko­mo­ditas tersebut.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan se­jum­lah komoditas pangan masih men­yumbang inflasi pada Mei 2026, antara lain cabai merah, min­yak goreng, bawang merah, to­mat, dan bensin. Meski de­mi­kian, dia menilai tekanan in­flasi dari kelompok pangan secara umum masih terkendali, terutama ka­rena harga beras relatif stabil. Me­nurut Amran, kenaikan harga ba­wang merah tergolong anomali ka­rena produksi domestik saat ini ti­dak mengalami kekurangan. Bah­kan, Indonesia masih me­la­ku­kan ekspor bawang merah ke se­jumlah negara.

Karena itu, dia menilai ke­na­ikan harga lebih disebabkan oleh ham­batan distribusi dibandingkan per­soalan pasokan. “Bawang me­rah ini anomal karena kita sudah ek­spor. Distribusinya yang akan ki­ta perbaiki ke depan. Untuk min­yak goreng, bahan bakunya le­bih dari cukup sehingga perlu per­cepatan distribusi ke daerah,” ka­tanya dalam keterangan ter­tu­lis, Senin.

Kementan menilai distribusi ma­sih menjadi tantangan utama da­lam menjaga stabilitas harga pa­ng­an. Ketidakseimbangan pa­sok­an ­antarwilayah dapat memicu ke­n­aikan harga meskipun pro­duk­si nasional berada dalam kon­disi cukup.

Untuk mengatasi hal ter­se­but, pemerintah memperkuat ko­or­dinasi dengan pemerintah dae­rah, Perum Bulog, dan ID Food gu­na memperlancar distribusi se­ka­ligus menjaga ketersediaan pa­ng­an di berbagai daerah.

Selain iu, pemerintah men­do­rong pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah untuk menekan ge­jolak harga di tingkat kon­su­men. Amran meminta kepala dae­rah bersama Bulog memperluas pe­laksanaan pasar murah, tidak han­ya untuk beras, tetapi juga ko­mo­ditas peternakan yang saat ini mengalami tekanan harga. bisn/mb06