JAKARTA – Center of Reform on Economics (Core) Indonesia menilai anjloknya harga telur ayam ras di tingkat peternak bukan semata-mata dipicu oleh kelebihan pasokan (oversupply), melainkan dipengaruhi oleh ekspektasi permintaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terlalu tinggi hingga struktur industri perunggasan yang makin terkonsentrasi atau oligopolistik.
Pengamat Pertanian Core Indonesia Eliza Mardian mengatakan kondisi harga telur saat ini tidak dapat dipahami hanya sebagai fenomena kelebihan pasokan biasa.
Menurutnya, lonjakan produksi terjadi karena pelaku usaha berekspektasi permintaan telur akan meningkat seiring dengan implementasi program MBG. Namun, realisasi permintaan tidak sebesar yang diperkirakan.
“Memang benar ada kelebihan pasokan yang cukup signifikan, tetapi aar persoalannya jauh lebih dalam dan struktural. Ekspansi produksi yang masif ini sebagian didorong adanya ekspektasi demand dari program MBG yang ternyata overstated, ditambah melemahnya daya beli masyarakat. Yang lebih krusial lagi adalah kegagalan koordinasi perencanaan supply-demand secara nasional serta inefisiensi rantai pasok yang sangat panjang,” kata Eliza ketika dihubungi, Kamis.
Eliza menuturkan anjloknya harga telur di tingkat peternak tidak diikuti penurunan harga yang signifikan di tingkat konsumen. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena pelaku distribusi dan perantara (middleman) masih mengambil margin yang cukup besar, sehingga selisih harga antara tingkat peternak dan ritel tetap lebar.
Di sisi lain, peternak kecil cenderung berada di posisi price taker lantaran tidak memiliki akses langsung kepada pembeli atau offtaker berskala besar.
Di samping itu, Eliza juga menilai anjloknya harga telur dipengaruhi ketimpangan struktur pasar di sektor perunggasan. Integrator besar yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, lanjutnya, memiliki daya tahan lebih kuat dibandingkan dengan peternak mandir, sehingga peternak rakyat lebih rentan saat harga jatuh.
“Kita harus paham juga adanya ketidakseimbangan kekuatan pasar yang makin kentara yaitu industri upstream seperti pakan dan DOC [day old chick] sudah menunjukkan karakter oligopolistik, di mana satu perusahaan saja bisa menguasai sekitar 35% pasar, dan top player integrator besar punya integrasi vertikal yang memberi mereka daya tahan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peternak rakyat kecil yang mandiri,” ujarnya.
Kendati demikian, Core mengapresiasi langkah pemerintah yang mendorong sektor hotel, restoran, kafe (Horeka), ritel modern melalui Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), serta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan serapan telur. Namun, dia menilai langkah tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan secara mendasar.
“Strategi ini cuma solusi jangka pendek yang bersifat tambal sulam dan belum cukup efektif untuk benar-benar mengangkat harga di tingkat peternak secara berkelanjutan,” sambungnya.
Menurut Eliza, tanpa kontrak jangka panjang dan insentif yang memadai, Horeka serta ritel modern akan tetap mengandalkan perusahaan integrator besar yang mampu memasok produk secara konsisten dari sisi volume, kualitas, hingga ketelusuran. bisn/mb06
