Close Menu
  • Headline
  • Indonesiana
  • Pemprov
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Banjar
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
  • Kotabaru
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sportivitas
    • Opini
    • Mozaik

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Senin Mendatang,DPRD Kalsel Sampaikan Tuntutan ke DPR RI

Juni 25, 2026

51 ASN Dilantik

Juni 25, 2026

Pemkab Kotabaru Sapa Jamaah Haji, melalui “Live Info Haji”

Juni 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Mata Banua
  • Headline
  • Indonesiana
  • Pemprov
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Banjar
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
  • Kotabaru
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sportivitas
    • Opini
    • Mozaik
Mata Banua
  • Headline
  • Indonesiana
  • Pemprov
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
  • Kotabaru
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ragam
Home»Ekonomi & Bisnis»Harga Telur Anjlok Efek dari MBG
Ekonomi & Bisnis

Harga Telur Anjlok Efek dari MBG

Mata BanuaBy Mata BanuaJuni 25, 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

JAKARTA – Center of Reform on Economics (Co­re) Indonesia menilai anjloknya harga telur ayam ras di tingkat peternak bukan semata-ma­ta dipicu oleh kelebihan pasokan (ove­r­sup­ply), melainkan dipengaruhi oleh ekspektasi per­mintaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terlalu tinggi hingga struktur in­dus­tri perunggasan yang makin terkonsentrasi atau oli­gopolistik.

Pengamat Pertanian Core In­do­nesia Eliza Mardian meng­ata­kan kondisi harga telur saat ini ti­dak dapat dipahami hanya se­ba­gai fenomena kelebihan pa­sokan biasa.

Menurutnya, lonjakan pro­duksi terjadi karena pelaku usaha be­rekspektasi permintaan telur akan meningkat seiring dengan implementasi program MBG. Na­mun, realisasi permintaan ti­dak sebesar yang diperkirakan.

“Memang benar ada ke­le­bihan pasokan yang cukup sig­ni­fikan, tetapi aar persoalannya jauh lebih dalam dan struktural. Ekspansi produksi yang masif ini se­bagian didorong adanya ek­spek­tasi demand dari program MBG yang ternyata overstated, ditambah melemahnya daya beli mas­yarakat. Yang lebih krusial lagi adalah kegagalan koordinasi pe­rencanaan supply-demand se­cara nasional serta inefisiensi rantai pasok yang sangat pan­ja­ng,” kata Eliza ketika dihubungi, Ka­mis.

Eliza menuturkan anjloknya har­ga telur di tingkat peternak ti­dak diikuti penurunan harga yang sig­nifikan di tingkat konsumen. Me­nurutnya, kondisi tersebut terjadi karena pelaku distribusi dan perantara (middleman) masih me­ngambil margin yang cukup be­sar, sehingga selisih harga antara tingkat peternak dan ritel te­tap lebar.

Di sisi lain, peternak kecil cen­derung berada di posisi price taker lantaran tidak memiliki akses langsung kepada pembeli atau offtaker berskala besar.

Di samping itu, Eliza juga menilai anjloknya harga telur di­pe­ngaruhi ketimpangan struktur pasar di sektor perunggasan. Integrator besar yang terintegrasi da­ri hulu hingga hilir, lanjutnya, memiliki daya tahan lebih kuat di­bandingkan dengan peternak man­dir, sehingga peternak rakyat le­bih rentan saat harga jatuh.

“Kita harus paham juga ada­nya ketidakseimbangan kekuatan pa­sar yang makin kentara yaitu in­dustri upstream seperti pakan dan DOC [day old chick] sudah menunjukkan karakter oli­go­po­listik, di mana satu perusahaan sa­ja bisa menguasai sekitar 35% pa­sar, dan top player integrator besar punya integrasi vertikal yang memberi mereka daya tahan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peternak rakyat kecil yang mandiri,” ujarnya.

Kendati demikian, Core me­ng­apresiasi langkah pemerintah ya­ng mendorong sektor hotel, res­toran, kafe (Horeka), ritel modern melalui Asosiasi Pen­g­usaha Ritel Indonesia (Aprindo), serta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan se­rap­an telur. Namun, dia menilai la­ngkah tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan secara men­dasar.

“Strategi ini cuma solusi jang­ka pendek yang bersifat tambal su­lam dan belum cukup efektif untuk benar-benar mengangkat har­ga di tingkat peternak secara berkelanjutan,” sambungnya.

Menurut Eliza, tanpa kontrak jang­ka panjang dan insentif yang me­madai, Horeka serta ritel mo­dern akan tetap mengandalkan pe­rusahaan integrator besar yang mam­pu memasok produk secara kon­sisten dari sisi volume, kua­li­tas, hingga ketelusuran. bisn/mb06

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
Previous ArticleBungkam Skotlandia 3-0, Selecao Juara Grup C
Next Article Harga Tiket Berfluktuasi Cepat
Mata Banua

Related Posts

Jelang Ajaran Baru, Transaksi Gadai Emas Melonjak

Juni 25, 2026

KPR Subsidi Tenor 40 Tahun, Cicilan Mulai Rp500 Ribu

Juni 25, 2026

Harga Tiket Berfluktuasi Cepat

Juni 25, 2026

Harga Cabai dan Bawang Merah Melandai

Juni 23, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Pilihan
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo
Mata Banua
© 2026 Matabanua.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.