Close Menu
  • Headline
  • Indonesiana
  • Pemprov
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Banjar
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
  • Kotabaru
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sportivitas
    • Opini
    • Mozaik

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Senin Mendatang,DPRD Kalsel Sampaikan Tuntutan ke DPR RI

Juni 25, 2026

51 ASN Dilantik

Juni 25, 2026

Pemkab Kotabaru Sapa Jamaah Haji, melalui “Live Info Haji”

Juni 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Mata Banua
  • Headline
  • Indonesiana
  • Pemprov
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Banjar
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
  • Kotabaru
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sportivitas
    • Opini
    • Mozaik
Mata Banua
  • Headline
  • Indonesiana
  • Pemprov
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
  • Kotabaru
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ragam
Home»Ragam»Opini»Mengangkat Potensi Terpendam Tradisi Suroan Pencak Silat di Madiun
Opini

Mengangkat Potensi Terpendam Tradisi Suroan Pencak Silat di Madiun

Mata BanuaBy Mata BanuaJuni 24, 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
Sejumlah anggota pesilat anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) beraktivitas pada kegiatan Pengesahan Warga Baru 2026 dalam momentum 1 Suro atau Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Graha Krida Budaya kawasan pusat Padepokan PSHT Jalan Merak, Kelurahan Nambangan Kidul, Kota Madiun, Jatim, Selasa (16/6).(foto:mb/ant)
Sejumlah anggota pesilat anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) beraktivitas pada kegiatan Pengesahan Warga Baru 2026 dalam momentum 1 Suro atau Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Graha Krida Budaya kawasan pusat Padepokan PSHT Jalan Merak, Kelurahan Nambangan Kidul, Kota Madiun, Jatim, Selasa (16/6).(foto:mb/ant)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Oleh: Louis Rika Stevani

Minggu siang itu, tanggal 15 Juni 2026, sehari menjelang perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah atau 1 Suro dalam kalender Jawa, di Lapangan Lo Duwur, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jawa Timur, terlihat lebih ramai dari hari biasanya.

Tenda-tenda stan jualan berdiri hampir memenuhi lapangan. Lapak-lapak dadakan yang dibangun oleh warga sekitar berderet mengelilingi lapangan dengan aneka tulisan, “jual nasi sayur”, “sedia nasi jotos”, “jual nasi pecel”, “sedia aneka minuman es teh, kopi, air mineral”, dan lainnya.

Lapangan Lo Duwur berada di kawasan pusat padepokan silat Perguruan Setia Hati Terate (PSHT). Setiap momentum Suroan, lingkungan di Jalan Merak, Kota Madiun, tersebut selalu ramai. Warga sekitar selalu disibukkan dengan datangnya para pesilat anggota PSHT dari berbagai daerah untuk mengikuti acara “Sah-sahan warga baru” (pengesahan anggota baru). Kegiatan sah-sahan tersebut bisa berlangsung hingga beberapa hari, bahkan bisa hampir satu bulan.

Selain anggota Polri yang melakukan pengamanan, warga juga beraktivitas menyediakan lapak-lapak untuk berjualan makanan dan minuman. Warga juga menyediakan tempat parkir, yang tentu semua itu merupakan pendapatan tambahan. Belum lagi, warung, toko kelontong, tempat makan, hingga hotel di sepanjang Jalan Merak dan sekitarnya juga ramai dipenuhi para pesilat yang ingin memenuhi aneka kebutuhannya.

Tidak hanya di Lapangan Lo Duwur, di Lapangan Winongo di Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, juga memiliki kesibukan sama saat momentum Suroan. Lingkungan sekitar lapangan tersebut merupakan kawasan pusat padepokan Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHW Tunas Muda) di Jalan Doho.

Setiap bulan Suro atau Muharram, mereka memiliki agenda Suran Agung, yang tahun 2026 ini digelar pada tanggal 28 Juni. Tradisi itu merupakan ajang silaturahmi, pelestarian budaya, atraksi pencak silat seni, hingga refleksi diri antara sesama anggota PSHW Tunas Muda.

Tingginya antusiasme para pesilat untuk mengikuti tradisi suroan tersebut yang jumlahnya mencapai ribuan orang, tentu memiliki manfaat ganda bagi warga sekitar. Utamanya dampak positif bagi perekonomian daerah.

Masyarakat memperoleh omzet tambahan, pedagang kaki lima dan UMKM berdenyut, kegiatan ekonomi kreatif bergeliat, bahkan hotel ikut penuh pesanan.

Tantangan potensi besar

Dikenal sebagai daerah basis pencak silat, hingga memiliki slogan sebagai “Kota Pendekar” (Kota Madiun) ataupun “Kampung Pesilat” (Kabupaten Madiun), daerah ini sempat “disibukkan” dengan orientasi pengamanan oleh para pemangku kepentingan. Padahal, peluang ekonomi keberadaan belasan perguruan pencak silat di Madiun itu sangat besar.

Meskipun dengan julukan kota pendekar dan kampung silat itu memiliki tingkat kerawanan tinggi, agenda Suroan yang berlangsung hingga hampir satu bulan tersebut setiap tahunnya juga memiliki efek positif jika dikelola dengan baik.

Para pemangku kepentingan akhirnya melihat peluang besar yang bisa diangkat dan dikembangkan untuk mendapatkan manfaat berkelanjutan di masa-masa mendatang.

Mengangkat potensi itu tentu merupakan suatu kerja keras dan jalan panjang. Namun, jika langkah itu tidak dimulai dari sekarang, maka jalan panjang itu hanya akan menjadi sebuah angan dan harapan.

Para pemangku kepentingan di Madiun, termasuk masyarakat, kini mulai menggarap potensi tersebut. Akan lebih sempurna jika para pemangku kepentingan itu menggandeng para pelaku seni, budayawan, akademisi, para pelaku ekonomi kreatif, dan pihak-pihak terkait lainnya untuk merumuskan konsep kegiatan yang tepat dan dapat menampung keistimewaan serta keunggulan masing-masing perguruan pencak silat, sehingga menjadi suatu tontonan yang menarik minat banyak orang.

Pemerintah pusat, melalui Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf), saat ini mendorong daerah untuk mengembangkan potensi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal untuk menjadi motor penggerak ekonomi.

Kebijakan itu bertujuan untuk menjadikan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan nasional yang dimulai dari daerah, guna menciptakan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Wilayah Kota Madiun telah memiliki kearifan lokal, berupa tradisi Suroan, dari sejumlah perguruan pencak silat yang sarat makna budaya.

Paket wisata

Tradisi Suroan dari sejumlah perguruan pencak silat, yakni PSHT dan PSHW Tunas Muda, sangat pas dijadikan etalase untuk penguatan potensi ekonomi kreatif di Kota Madiun dan sekitarnya.

Mobilitas pesilat dalam jumlah besar selama periode Suro tersebut dapat memberi dampak langsung bagi subsektor ekonomi kreatif, mulai dari kuliner, seni pertunjukan, hingga produk kreatif berbasis kearifan lokal. Hal itu bisa disandingkan dengan konten-konten menarik di era digital yang menarik publik.

Pergerakan para pesilat dalam mengikuti tradisi Suroan dapat dirangkaikan dengan kegiatan lain yang dikemas menjadi paket wisata yang tidak hanya berdampak positif pada sektor pariwisata daerah, tetapi juga menggerakkan rantai ekonomi di Kota Madiun dan sekitarnya.

Diakui tidak mudah menyelesaikan “pekerjaan rumah” tentang pemahaman jiwa korsa yang terlalu fanatik dari masing-masing perguruan silat. Para pesilat yang didominasi oleh anak-anak muda yang belum matang dalam emosi, tak jarang melakukan aksi perusakan, konvoi, maupun kegiatan lain yang memicu keributan.

Karena itu, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat melalui berbagai kanal, baik pemerintah maupun non-pemerintah, juga harus terus digalakkan agar memiliki kesepahaman yang sama tentang perubahan tersebut, sehingga stigma tentang Suroan “mencekam” di Madiun yang kini mulai terkikis, dapat terus ditingkatkan menjadi lebih sejuk dan damai.

Tradisi Suroan Pencak Silat di Madiun sangat disayangkan jika hanya berlangsung “begitu-begitu” saja tanpa sentuhan inovasi dan kreasi yang bisa menjadi lompatan besar untuk kemajuan daerah. Sebab, di dalamnya terdapat nilai spiritual dan budaya yang luhur, peningkatan ekonomi masyarakat, hingga identitas daerah.

Paradigma itulah yang kini mulai dilihat oleh pemerintah daerah, dengan terus memberikan edukasi kepada pemimpin dan anggota padepokan untuk menampilkan wajah yang lebih damai, sehingga keberadaan budaya warisan leluhur itu banyak memberi manfaat bagi masyarakat, khususnya di bidang ekonomi. (ant)

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
Previous ArticlePenangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum
Next Article Fraksi Sampaikan Pandangan Bahas Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2025
Mata Banua

Related Posts

Kacamata Minus Penyambung Harapan

Juni 25, 2026

Era B50, dari Ketahanan Energi Hingga Posisi Baru RI di Panggung Dunia

Juni 25, 2026

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

Juni 24, 2026

Menelusuri Perjalanan Panjang Pacu Jalur; dari Rimba ke Kepian Narosa

Juni 23, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Pilihan
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo
Mata Banua
© 2026 Matabanua.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.