Mata Banua Online
Senin, Juni 8, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

PBNU Minta Restu Kiai Huda Ploso Kediri

Jelang Munas-Konbes NU

by Mata Banua
7 Juni 2026
in Headlines
0
PARA Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar pertemuan guna mematangkan persiapan menjelang gelaran Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2026.

JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai mematangkan persiapan menjelang gelaran Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026.

Jajaran petinggi PBNU turun langsung meninjau kesiapan Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, yang ditunjuk sebagai tuan rumah, Sabtu (6/6).

Berita Lainnya

Hasto Soroti Tokoh Prakasa Kitabuming

Hasto Soroti Tokoh Prakasa Kitabuming

7 Juni 2026
Gubernur Berdialog dengan Aliansi BEM se-Kalsel

Gubernur Berdialog dengan Aliansi BEM se-Kalsel

7 Juni 2026

Seperti dilansir CNNIndonesia.com, pertemuan yang berlangsung hangat tersebut dihadiri langsung oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Wakil Rais Aam PBNU KH Anwar Iskandar, dan Rais Syuriah PBNU KH Prof M Nuh.

Sekretaris Jenderal PBNU, KH Saifullah Yusuf (Gus Ipul), mengungkapkan kedatangan rombongan kali ini adalah untuk meninjau kesiapan serta menyampaikan apresiasi dan memohon doa restu dari pengasuh Ponpes Al Falah Ploso, KH Nurul Huda Djazuli.

“Tadi Rais Aam menyampaikan terima kasih kepada Kiai Nurul Huda Djazuli dan seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Al Falah Ploso. Beliau juga memohon doa restu kepada Kiai Huda Djazuli agar Munas dan Konbes berjalan lancar, menghasilkan keputusan yang baik, dan penuh keberkahan,” kata Gus Ipul dalam keterangannya, Minggu (7/6).

Gus Ipul menegaskan, kunjungan ini tidak sekadar meninjau kesiapan teknis dan fasilitas di lapangan. Restu dari ulama kharismatik seperti Kiai Huda dinilai menjadi fondasi spiritual yang penting demi kelancaran agenda besar NU tersebut.

“Kami datang untuk memohon doa dan restu kepada Kiai Nurul Huda Djazuli. Semoga Munas dan Konbes NU dapat berjalan lancar, penuh keberkahan, dan menghasilkan keputusan-keputusan terbaik untuk jam’iyah Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Dalam peninjauan tersebut, PBNU berterima kasih atas kesiapan sarana dan prasarana yang disediakan oleh pihak pesantren. Gus Ipul memuji soliditas keluarga besar Ponpes Al Falah, mulai dari jajaran pengasuh hingga para santri, yang bahu-membahu mempersiapkan lokasi acara.

“Kami sungguh bersyukur karena Pesantren Ploso telah siap mendukung pelaksanaan Munas dan Konbes. Dukungan ini tentu sangat berarti bagi PBNU sebagai penyelenggara,” tutur Gus Ipul.

“Kami berterima kasih kepada seluruh pengasuh, para gus, pengurus, dan para santri yang telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Ini menunjukkan semangat khidmah dan kebersamaan yang luar biasa,” tambahnya.

Gayung bersambut, PBNU mengonfirmasi bahwa KH Nurul Huda Djazuli telah memberikan restu dan doa demi kesuksesan acara tersebut.

“Alhamdulillah, Kiai Nurul Huda Djazuli juga mendoakan agar Munas dan Konbes NU berjalan lancar dan penuh berkah. Ini menjadi bekal batin yang sangat penting bagi kami,” ungkapnya.

Munas Alim Ulama dan Konbes NU sendiri dijadwalkan berlangsung pada 20-22 Juni 2026. Forum ini diproyeksikan menjadi batu loncatan penting untuk menggodok keputusan strategis organisasi, sekaligus mematangkan persiapan menuju Muktamar NU yang akan digelar pada Agustus 2026 mendatang.

“Kami berharap seluruh rangkaian Munas dan Konbes berjalan lancar, sukses, dan penuh keberkahan. Semoga forum ini menjadi jalan kebaikan bagi NU, umat, bangsa, dan negara,” pungkas Gus Ipul.

Sementara, cucu salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Bisri Syansuri, KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam, mewanti-wanti agar pelaksanaan Muktamar NU ke-35 harus berjalan secara mandiri dan independen, tanpa ada intervensi pihak eksternal.

Gus Salam yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang ini menegaskan kemandirian baik dari segi pembiayaan maupun pelaksanaan perhelatan muktamar ini sangat penting dilakukan untuk menjaga marwah organisasi.

Menurutnya, independensi dari campur tangan eksternal menjadi kunci utama demi melahirkan kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang bersih dan solid di masa depan.

“Kami mengusulkan agar Muktamar NU ini harus muktamar yang mandiri dan independen. Mandiri dalam pembiayaan, dalam perhelatan, dan independen dari intervensi siapapun, khususnya eksternal. Tujuannya apa? Agar nanti ke depan terpilihlah PBNU yang benar-benar menjaga transparansi, berintegritas dan solid. Itu yang menjadi keinginan kami,” kata Gus Salam, Sabtu (6/6), seperti dikutip CNNndonesa.com.

Gus Salam yang sempat menginisiasi Muktamar Luar Biasa (MLB) NU melalui Forum Penyelamat Organisasi dan Panitia MLB (PO & MLB) NU ini optimistis NU memiliki kapasitas besar untuk mandiri.

Mantan Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini mengaku pihaknya pernah menggalang dana miliaran rupiah dari warga nahdliyin dalam waktu sangat singkat saat menjelang Muktamar Lampung 2021 lalu.

“Apakah mampu NU melakukan kemandirian di dalam perwakilan Muktamar. Saya kira mampu. Kenapa? Karena kami dulu ketika akan muktamar di Lampung, PWNU Jawa Timur ini pernah coba untuk meng-collect dana dari masyarakat dari nahdliyin untuk menghadapi Muktamar Lampung itu hanya dalam waktu 1 bulan kami ini mampu mengumpulkan dana hampir Rp4 miliar,” ucapnya.

Semangat kemandirian ini disebutnya juga sudah terlihat dari kesiapan sejumlah pesantren besar dan para kiai di Jatim yang menyatakan siap mengemban seluruh beban biaya jika ditunjuk menjadi tuan rumah forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

“Karena melihat dari respon beberapa pesantren Syaichona Cholil Bangmalan, Pesantren Walisongo Situbondo, beliau kan mengatakan siap menjadi tuan rumah dengan pembiayaan mandiri. Kemudian Kiai Asep [Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto] juga menyatakan siap menjadi tuan rumah dan siap melayani peserta muktamar dengan biaya sendiri,” papar Gus Salam.

Lebih lanjut, Gus Salam menilai momentum muktamar saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk menghidupkan kembali tradisi lama NU, di mana umat dan masyarakat terlibat secara masif dalam pendanaan dan penyelenggaraan, seperti yang pernah terjadi pada Muktamar di Situbondo (1984), Yogyakarta (1989), Cipasung (1994), hingga Lirboyo (1999).

“Artinya apa? Semangat-semangat para kiai, semangat umat untuk menjaga kemandirian dan independen ini sangat kuat. Lah, momentum Muktamar ini saya kira adalah momentum yang tepat untuk mengembalikan gairah itu. Yang sebenarnya gairah itu sejak dulu ada,” ujarnya.

Karena itu, Gus Salam mendorong agar skema pendanaan muktamar dilakukan secara transparan. Menurutnya, jika pembiayaan dilakukan secara mandiri dan akuntabel oleh panitia, maka hal itu akan meminimalisir adanya praktik-praktik politik uang selama berjalannya muktamar.

Bila hal itu berhasil dilakukan, maka kata Gus Salam, muktamar juga akan menghasilkan pemimpin NU yang independen dan tak bisa diintervensi pihak eksternal manapun, yang berupaya menyusupkan agenda hingga kepentingannya di tubuh NU.

“Ya kalau makanya kemudian ada dinamika-dinamika berkaitan dengan politik uang, dengan apa namanya perebutan logistik itu ya kadang-kadang kita juga melihat itu adalah sebuah kewajaran karena mereka memang membutuhkan logistik yang tidak kecil untuk datang ke tempat Muktamar,” sambung Gus Salam.

“Sehingga kalau kemudian semua ini menjadi tanggung jawab dari panitia muktamar, kita harapkan ide gagasan yang mereka bawa itu otentik, benar-benar kebutuhan jam’iyah dan mereka akan memilih pemimpin yang benar-benar mereka anggap sebagai yang ideal untuk menghadapi tantangan dan kepentingan jam’iyah,” ujarnya.

Muktamar NU sendiri rencananya akan digelar Agustus 2026 mendatang. Namun, lokasi pelaksanaannya belum ditetapkan hingga sekarang.

Forum tertinggi organisasi terbesar di Indonesia tersebut akan diawali dengan perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur pada 20-21 Juni 2026 mendatang. web

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper