Close Menu
  • Headline
  • Indonesiana
  • Pemprov
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Banjar
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
  • Kotabaru
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sportivitas
    • Opini
    • Mozaik

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Senin Mendatang,DPRD Kalsel Sampaikan Tuntutan ke DPR RI

Juni 25, 2026

51 ASN Dilantik

Juni 25, 2026

Pemkab Kotabaru Sapa Jamaah Haji, melalui “Live Info Haji”

Juni 25, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Mata Banua
  • Headline
  • Indonesiana
  • Pemprov
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Banjar
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
  • Kotabaru
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sportivitas
    • Opini
    • Mozaik
Mata Banua
  • Headline
  • Indonesiana
  • Pemprov
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
  • Kotabaru
  • Ekonomi & Bisnis
  • Ragam
Home»Ekonomi & Bisnis»Pedagang Warteg Sebut Banyak Pelanggan Kurangi Lauk
Ekonomi & Bisnis

Pedagang Warteg Sebut Banyak Pelanggan Kurangi Lauk

Mata BanuaBy Mata BanuaJuni 3, 2026Updated:Juni 22, 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
(foto:mb/web)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

JAKARTA – Dampak ke­na­ik­an harga bahan makanan serta me­nurunnya daya beli masy­a­ra­kat membuat sejumlah pe­ng­u­saha warteg memiliki siasat pen­ting agar tidak terjadi fe­no­me­na aneh pembeli di warteg mi­lik mereka.

Beberapa pedagang wareg mu­lai mengeluhkan pembeli me­ng­urangi lauk pauk efek harga ba­han makanan makin mahal.

Kini makin banyak pe­m­be­linya yang hanya membeli lauk pa­uk di bawah Rp15 ribu hingga Rp20.000, seperti tempe-tahu, te­lur balado, dan aneka go­re­ng­an. Pembeli juga menyiasati l­e­bih banyak menggunakan sayur­an.

Sedangkan lauk seperti ayam goreng, rendag daging sa­pi, semur sapi, cumi-cumi hi­tam, dan udang (goreng dan ba­la­do) pun mulai jarang dibeli.

Bagi pelanggan, warteg dan ru­mah makan sederhana masih men­jadi pilihan utama untuk ber­tahan ditengah tekanan biaya hi­dup. Sobri, seorang pe­ng­e­mu­di ojek online, mengaku lebih se­ring memilih lauk sederhana di­banding menu berbahan da­ging.

“Ya betul, sekarang pembeli su­dah mulai kurangi beli lauk se­perti ayam goreng atau daging sa­pi, mereka belinya telur ba­lado, tempe-tahu, sayuran, dan go­rengan,” kata Amirah, salah satu pedagang warteg.

Pembeli disebut kini hanya mem­beli menu warteg seharga Rp10 ribuan, dan sudah mulai ja­rang ditemui yang membeli le­bih dariRp 20 ribu. Alhasil, kini Ia mulai tidak menjual lauk yang di atas harga Rp20 ribu.

“Sekarang banyak yang beli la­uk agar harga makanannya cu­ma Rp10 ribuan, ya ada sih ya­ng Rp15 ribu, cuma yang di atas Rp20 ribu sudah mulai jarang,” ucap Amirah.

Di tengah harga bahan po­kok yang terus merangkak naik, pa­ra pemilik warung melakukan ber­bagai cara agar pelanggan te­tap datang tanpa harus me­na­ik­kan harga makanan.

Salah satu strategi yang pa­li­ng banyak ditempuh adalah me­ngurangi porsi bahan ba­ku­ ter­tentu dan menekan margin ke­un­tungan. Cara itu dianggap le­bih aman dibanding menaikkan har­ga jual yang berisiko mem­bu­at pelanggan berpaling ke wa­rung lain.

Juminah (48), pemilik War­teg Bahari di Lenteng Agung, me­ngaku sudah lama tidak men­jual menu berbahan daging sapi. Har­ga bahan baku yang mahal mem­buatnya lebih memilih men­ye­diakan menu yang lebih ter­ja­ng­kau seperti telur, kerang, ati am­pela, tahu, tempe, dan ayam.

“Kalau mau daging adanya ayam goreng dan balado, tapi ka­rena harga-harga sekarang ma­hal, kita kurangin porsi, ka­re­na gak mungkin naikin harga, ta­kutnya pelanggan pada kabur, di sini banyak pilihan warung ma­kan soalnya,” ujarnya.

Menurut Juminah, salah sa­tu penyesuaian yang dilakukan ada­lah memperkecil ukuran po­to­ngan ayam. Jika sebelumnya sa­tu ekor ayam dibagi menjadi 10 bagian, kini satu ekor bisa di­potong menjadi 12 bagian.

Meski demikian, harga se­por­si makanan tetap di­per­ta­han­kan di kisaran Rp15 ribu hingga Rp17 ribu dengan satu lauk dan sa­y­uran. Bahkan pelanggan masih mendapat teh tawar hangat gratis. “Permintaan ayam masih banyak soalnya. Menu paling ban­yak laku ya telor sama ke­rang, sama ati ampela. Tahu tem­pe juga,” katanya. cnn/mb06

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
Previous ArticleHarga Emas Antam Turun ke Rp2,774 Juta
Next Article Apakah Kurikulum Indonesia Sudah Benar-Benar “Merdeka”?
Mata Banua
  • Website

Related Posts

Jelang Ajaran Baru, Transaksi Gadai Emas Melonjak

Juni 25, 2026

KPR Subsidi Tenor 40 Tahun, Cicilan Mulai Rp500 Ribu

Juni 25, 2026

Harga Tiket Berfluktuasi Cepat

Juni 25, 2026

Harga Telur Anjlok Efek dari MBG

Juni 25, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Pilihan
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo
Mata Banua
© 2026 Matabanua.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.